Ketika Penjual Kerak Telur Jatuh Hati pada Kota Ambon


LELAKI kurus itu bernama Saiful. Ya, cuma itu saja namanya. Singkat. Usianya 38 tahun. Dia penjual kuliner khas Betawi (Jakarta), Kerak Telur.

Sore tadi saya bertemu dia di dekat Tribun Lapangan Merdeka Ambon. Saya, istri dan anak memang menggemari makanan jualan Saiful ini. Kerak telur terbuat dari bahan dasar beras, telur ayam dan bawang merah goreng, yang kemudian diberi bumbu halus meliputi cabai merah, kencur, jahe, garam halus, gula pasir, merica dan serundeng itu. Rasanya gurih dan mengenyangkan.

Dua Minggu lalu Ipul, begitu dia disapa, sempat galau. Ini gara-gara anggapannya soal orang Ambon. Terekam di pikirannya selama ini, orang Ambon itu keras, kasar dan harus dihindari jika tidak ingin kena masalah.
Cerita-cerita ribut antar preman berbuntut rusak dan porak porandanya pikulan dan peralatan masak (anglo dari tanah liat dan wajan) milik rekan-rekannya membekas diingatan Ipul.

Ditambah lagi, pemberitaan media di Jakarta soal ribut-ribut antar preman bahkan sampai ada yang meninggal dunia, ikut membangun anggapan negatif Ipul terhadap orang Ambon.

Nah, kali ini rekan-rekannya malah berniat ke Ambon memeriahkan even Maluku Expo 2015, yang akan digelar bersamaan dengan berlangsungnya Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Tingkat Nasional XI yang berlangsung tanggal 2 sampai 12 Oktober 2015. Mendengar nama Ambon, perasaan Ipul jadi tak tenang.

Dia dan rekan-rekannya memang selalu berburu informasi penyelenggaraan even nasional. Hampir setiap perhelatan even nasional pada berbagai kota di tanah air, mereka berusaha datangi. Apalagi yang ada even pameran produk dan jasanya.

Pada pergelaran even Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional tahun 2012 lalu, juga di Kota Ambon, ada salah satu rekannya yang datang. Sayangnya Ipul tidak bisa banyak bertanya ke rekannya itu soal kondisi Ibukota Provinsi Maluku ini, lantaran temannya itu sedang keluar kota.

‘Karena itu saya sempat ragu-ragu untuk ikut ke Ambon. Terus terang saya takut Mas. Takut mati di sini. Setiap malam terbayang wajah seram orang Ambon,” ungkapnya.

Kegalauan masih dia rasakan, bahkan ketika sudah di depan pintu pesawat yang akan membawa mereka ke Ambon. Lagi-lagi wajah seram orang Ambon yang hitam dengan postur kekar tinggi besar “menari-nari” di benaknya.

Bismillahir-rahmanir-rahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), Ipul lantas mengucapkan sepotong doa sebelum memantapkan langkahnya naik ke pesawat menuju Ambon.

“Saya nekat ke Ambon, Mas. Pikir saya, saya tidak sendiri. Ada empat teman saya yang juga sama-sama ke Ambon. Kalau ada apa-apa menimpa saya, toh ada teman-teman ini,” ujar Ipul, sembari mengolah kerak telur pesanan saya dengan lincah.

Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di Bandara Internasional Pattimura, Laha, Ambon. Dengan wajah tegang Ipul menuruni anak tangga pesawat. Ketakutan masih memenuhi rongga dadanya. Dia tidak menceritakan kekuatiran yang ada kepada rekan-rekannya.

Ketegangan mulai berkurang di wajahnya, saat melihat petugas bandara yang berbadan tinggi dan berkulit hitam, menyapa dia dan penumpang lainnya dengan senyuman.

Sampai di ruang pengambilan bagasi, dia sudah mulai bisa bernafas lega. Melihat sejumlah orang Ambon lainnya, yang meski terkesan bertampang sangar, tapi dengan ramah, menawarkan transportasi. Bahkan sang sopir taksi yang mereka tumpangi, dengan sigap ikut membantu mengangkat barang bawaan yang Ipul dan empat rekannya bawa dari Jakarta.

Dari Jakarta, para penjual kerak telur ini memang hanya bermodalkan tungku (anglo dari tanah liat) dan wajan untuk masak. Bahan baku berupa telur, beras dan lain-lain biasanya mereka beli di daerah tujuan. Termasuk pikulan dan wadah lainnya.

Sebelumnya, mereka sudah dikasi tau rekan yang pernah ke Ambon, tempat yang harus dituju ialah Lapangan Merdeka, yang akan menjadi lokasi Maluku Expo 2015.

Mereka diturunkan oleh supir taksi di dekat Lapangan Merdeka. Tepatnya di depan pintu gerbang Kantor Gubenur dan pintu masuk kawasan Pattimura Park.

Karena belum tau hendak ke mana, Ipul dan rekan-rekannya beristirahat sambil ngopi di warung kopi yang ada di situ. Mereka lalu mengobrol dengan pemilik warung kopi. Termasuk mengutarakan maksud hendak mencari kontrakan atau kos-kosan yang bisa disewa selama berada di Ambon.

“Kami sempat dapat info dari pemilik warung kopi yang menelpon adiknya. Katanya ada kontarakan di sebelah sana (Ipul menunjuk ke arah kawasan Kudamati atau Air Salobar, Ambon). Saya lupa nama daerahnya. Tapi ke sana harus naik angkot lagi. Padahal kami ingin cari dekat-dekat sini saja,” tuturnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s