Pembunuh Satu Keluarga Dihukum Seumur Hidup


kriminalAMBON – Remy Solissa, terdakwa pembunuhan terhadap satu keluarga, yang mengakibatkan empat korban meninggal dunia, akhirnya divonis hukuman penjara seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Ambon yang menyidanagkan perkara tersebut. Dalam sidang yang digelar Selasa (13/10) dipimpin hakim ketua Christina Tetelepta,SH, didampingi hakim anggota Philip Pangalila,SH dan Samsidar Nawawi,SH, majelis hakim memutuskan terdakwa Remmy Solissa secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 340 KUHP dan pasal 80 ayat (3) UU Nomor 35 Tahun 2014, jo pasal 65 ayat (1), pasal 354 ayat (1), pasal 65 ayat (1) dan pasal 351 ayat (1) KUH Pidana. 

Vonis majelis hakim ini lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yang sebelumnya menuntut agar majelis hakim menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa. Menanggapi vonis majelis hakim tersebut, terdakwa lewat kuasa hukumnya yakni tim hukum Pos Bantuan Hukum (Posbakum) menyatakan pikir-pikir. Hal yang sama juga dinyatakan oleh tim JPU.

Sebagaimana diberitakana sebelumnya, kejadian pembunuhan sadis yang dilakukan Remy terhadap satu keluarga itu, terjadi lantaran termakan api cemburu. Kejadian tersebut berawal pada tanggal 17 Februari 2015 lalu. Ketika itu, terdakwa sedang duduk di rumahnya, sambil minum kopi dengan istrinya, Yoneng Nurlatu Solissa.

Selanjutnya, terdakwa berkunjung ke rumah ayahnya, Nataner Solisa, dan kembali ke rumah pukul 20.00 WIT. Setelah kembali, terdakwa langsung menuju kamar tidur dan mengajak istrinya berhubungan badan. Namun, ketika mau berhubungan badan, istri terdakwa, Yoneng (korban-red) mengatakan bahwa kemaluan terdakwa tidak berfungsi. Perkataan korban ini, membuat terdakwa emosi, kemudian mengambil parang yang telah disiapkan terdakwa di samping tempat tidur.

Tanpa basa basi, terdakwa langsung menebas istrinya dengan parang tersebut di bagian kepala. Tidak sampai di situ, terdakwa kemudian menusuk kemaluan korban yang sudah tidak berdaya itu dengan parang tersebut. Selanjutnya, terdakwa kemudian mengambil 4 tombak dan 1 parang lainnya, kemudian keluar dan mengunci pintu rumahnya.

Setelah itu, terdakwa mengintip rumah Herman Solissa yang saat itu sementara mendengar lagu bersama-sama dengan Wellem Solissa dan Agus Nacikit. Terdakwa kemudian masuk kembali ke rumahnya dan keluar lewat pintu belakang dan hendak menuju ke rumah Herman. Terdakwa kemudian berhenti di rumah Viktor Solissa yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Herman.

Terdakwa langsung masuk ke dalam rumah Herman dan menebas Herman dengan parang, mengenai leher sebelah kiri. Herman langsung terkapar seketika. Terdakwa kemudian melanjutkan aksinya, dengan memotong Wellem Solissa dan Agus Nacikit. Keduanya menangkis, sehingga mengakibatkan lengan bagian kiri serta jari hampir putus. Agus kemudian berlari ke rumah saudaranya, Yones Nacikit.

Terdakwa kemudian mengikuti Agus, dan melemparinya dengan tombak, namun tidak kena sasaran. Terdakwa langsung masuk ke rumah Yones Nacikit. Sesampainya di rumah Yones, terdakwa melihat Yati Nacikit, yang merupakan anak Yones dan tanpa basa-basi, terdakwa menusuk Yati yang baru berusia 14 tahun dari pinggulnya.

Korbanpun berteriak dan didengar oleh ayahnya Yones, setelah berlari dari arah dapur rumahnya, kemudian menengok anaknya namun sudah tak bernyawa. Yonespun keluar untuk mengejar siapa pelaku yang menikam anaknya. Sadar diikuti, terdakwa langsung melempar tombak ke arah Yones namun tidak mengenainya. Terdakwa berlari ke SD Siwatlahin.

Sesampainya di sana, terdakwa melihat Minggas Solissa beserta kedua anaknya, yakni Korban Yoknan Solissa dan Devi Solissa dan adiknya Elyfas Saleky. terdakwa saat itu langsung mengejar mereka dan memotong Minggas Solissa. Melihat perbuatan terdakwa, Yoknan Solissa lari, namun dikejar terdakwa dan ditebas dengan parang dari bahu bagian kiri.

Sementara Devi bersembunyi di balik semak-semak. Akibat perbuatan terdakwa yang melakukan pembunuhan secara berencana pada hari yang sama mengakibatkan Yoneng Solissa, Herman Solissa, Yoknan Solissa dan Yati Solissa meningga dunia.

Selain itu, Wellem Solissa, Agus Nacikit dan Minggas Solissa, mengalami luka berat serta cacat sehingga tidak dapat melakukan aktivitas sebagai petani. saksi lain, yakni Onyong dan Elifas, hingga kini masih dalam perawatan medis, karena mengalami luka-luka akibat tebasan parang terdakwa. (SM-03)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s