Orang Maluku dan Sawah


padi sawahOleh: Samson R. Atapary, SH (Anggota DPRD Provinsi Maluku)

MENGISI waktu reses di Daerah Pemilihan (Dapil) Seram Bagian Barat yang dimulai dari tanggal 6 hingga 14 September 2015, saya berkesempatan berdialog dan diskusi dengan Kelompok Tani Sawah Negeri Waipirit Kec. Kairatu Kab. Seram Bagian Barat.

Jika biasanya yang bertani di sawah adalah orang luar Maluku, yang umumnya berasal dari Pulau Jawa, maka kali ini berbeda dengan yang ada di Waipirit. Petaninya adalah orang Maluku, yang sebagian besar berasal dari Pulau Saparua.

Poly Luhukay, salah seorang Ketua Kelompok Tani menjelaskan kepada saya, luas sawah Waipirit yang sementara dikelola oleh masyarakat setempat, sekitar 32 hektar. Jumlah tersebut diambil dari jumlah keseluruhan potensi sawah Waipirit seluas kurang lebih 239 hektar.

Poly sendiri memiliki sawah berukuran tiga hektar yang dikelola bersama sang istri. Satu hektar sawah, rata-rata menghasilkan kurang lebih dua ton beras, dengan waktu panen tiga kali setahun. Harga jual beras per kilo gram-nya, sekitar Rp.10.000. Sedangkan biaya produksi per hektar untuk sekali tanam mencapai Rp.5 juta. “Bibit dan pupuk sebagiannya disubsidi oleh pemerintah,” tandas Poly.

Data tersebut menunjukan, dalam setahun Poly Luhukay dapat menghasilkan uang tunai dari bertani sawah sebesar kurang lebih Rp.135 juta. Sehingga pendapatan perbulannya rata-rata sebesar Rp.11,2 juta. Jauh lebih besar dari seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) berpangkat golongan III.

Lelaki itu bercerita, untuk bertani di sawah saat ini sangat ringan, jika dibandingkan dengan menanam singkong atau jagung di lahan kering. Untuk mengerjakan tiga hektar sawah miliknya, Poly hanya dibantu sang istri. Kecuali pada saat menanam, biasanya dia menyewa orang lain, sebagai tambahan tenaga untuk membantu.

“Tidak butuh banyak tenaga, sebab untuk membersihkan dan mengelola tanah di sawah. sudah menggunakan alat yang digerakan mesin.Begitu juga untuk memanen padi, tidak lagi menggunakan pisau potong padi (arit), tetapi sudah mempergunakan alat potong yang digerakan oleh mesin,” terangnya.

Berbeda jika kita menanam singkong atau jagung di lahan kering, menurut Poly, untuk mengolah lahannya saja masih memakai cangkul, sehingga dibutuhkan tenaga yang kuat dan fisik yang prima. Sudah begitu, menanamnya pun harus menunggu musim penghujan

“Saya sebagai orang Maluku, sebelumnya mengolah lahan kering untuk bertani. Namun setelah beralih ke sawah dan menanam padi,saya bisa menghemat tenaga, lebih ringan 50 %,” ujarnya.

Di sawah, setelah padi ditanam, perawatan dan mengontrolannya dalam sehari Poly hanya membutuhkan waktu enam sampai tujuh jam, dan pekerjaannya dia rasakan sangat ringan.

“Biasanya saya dan istri ke sawah jam enam pagi untuk memantau pertumbuhan padi dan mengontrol saluran air yang mengairi sawah, sekaligus jika ada gulma atau rumput kita membersihkannya. Di waktu tertentu kami memberikan pupuk dan menyemprot anti hama pada padi. Jam 10 pagi karena panas sinar matahari cukup terik, kami biasanya kembali ke rumah untuk istirahat, masak dan makan siang,” paparnya.

Barulah sekitar jam tiga atau empat sore, mereka kembali lagi ke sawah, dan biasanya hanya memberi makan dan minum sapi. Sebab selain menanam padi, Poly dan istri juga memelihara sapi di sekitar areal sawah.

“Setelah itu, jam enam sore kami sudah bisa kembali ke rumah untuk beristirahat. Biasanya kita juga beristirahat di rumah kecil yang dibangun di sekitar areal sawah dan tempat memelihara ternak sapi,” cerita Poly penuh semangat.

Dari kesaksian Poly Luhukay tersebut, tidak ada alasan bahwa bertani di sawah hanyalah budaya orang luar Maluku atau para transmigran, atau sering disebut sebagai budaya orang Jawa.
Sesungguhnya bertani di sawah tidak ada hubungan dengan budaya komunitas tertentu, tetapi lebih kepada cara pandang, ketekunan dan keuletan untuk mau maju dan menciptakan peluang bagi kesejahteraan keluarga.

Poly Luhukay dan teman-temannya telah membuktikan bahwa bertani di sawah juga bisa dilakukan oleh orang Maluku, bukan hanya dimonopoli oleh orang non Maluku.

Di Sumatera, Bali, Sulawesi, yang menjadi petani sawah juga adalah orang Sumatera, Bali dan Sulawesi sendiri. Kalaupun ada orang Jawa, biasanya hanya di wilayah-wilayah transmigrasi. Itu berarti budaya bertani di sawah adalah budaya orang Indonesia, bukan budaya komunitas tertentu. Sehingga tidak ada alasan bahwa orang Maluku tidak bisa bertani di sawah dan menanam padinya. Orang Maluku di Waipirit telah membuktikannya.

Desa-desa di Maluku, terutama di Pulau Seram yang wilayah petuanannya (ulayat) sangat luas, datar dan kaya dengan sumber air, berpotensi untuk itu. Ini jika dibuat bendungan, irigasi dan dicetak sawah serta penduduk desanya bersedia menjadi petani sawah dan menanam padi maupun tanaman umur pendek lainnya, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang Maluku di Waipirit, maka desa-desa di Pulau Seram tidak akan miskin lagi.

Bukan berarti tanaman umur panjang seperti cengkih dan pala tidak perlu dan tidak penting untuk ditanami. Itu perlu juga ditanam, tetapi hanya sebatas sebagai tabungan jangka panjang. Sebab komoditi tersebut hanya dipanen setahun sekali.

Agar ekonomi masyarakat desa dapat cepat tumbuh dan keluar dari kemiskinan, tidak mungkin hanya tergantung pada tanaman tahunan. Harus ada usaha lain yang sifatnya jangka pendek, minimal tiga atau empat bulan sudah dapat memanennya untuk dapat menghasilkan uang tunai.

Selama ini, masyarakat pedesaan di Maluku untuk menghasilkan atau mendatangkan uang tunai ke desanya rata-rata hanya setahun sekali, itupun jumlahnya tidak sampai miliyaran rupiah. Hal tersebut sangat tergantung dari panen tanaman umur panjangnya. Biasanya peredaraan uang tunai tersebut bertahan di desa hanya satu atau dua minggu saja, setelah itu uang tersebut keluar lagi karena dipergunakan untuk membelanjakan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga di kota.

Setelah itu masyarakat di desa tidak lagi memegang uang tunai dalam jumlah banyak, apalagi untuk ditabung di bank. Selesai panen tanaman umur panjang, kurang lebih selama 10 bulan, masyarakat di desa hanya bertahan untuk tidak lapar dengan berkebun seadanya. Tidak bisa lebih lagi dari hal tersebut, untuk dapat menghasilkan uang tunai, baik untuk ditabung, investasi pendidikan anak dan kesehatan keluarga.

Sehingga jangan heran, jika selesai panen tanaman tahunan tidak ada lagi geliat ekonomi berbasis pedesaan. Padahal geliat ekonomi masyarakat di desa adalah indikator pertumbuhan masyarakat pedesaan itu sendiri. Bila geliat ekonomi berlangsung secara rutin setiap hari berarti pertumbuhan ekonomi di desa tersebut semakin baik dan tinggi. Namun hal tersebut tidak terjadi pada desa-desa di Maluku. Inilah akar utama kemiskinan masyarakat pedesan di Maluku.

Hal tersebut berbeda jauh dengan desa-desa transmigrasi yang rata-ratanya petani sawah dan menanam tanaman umur pendek seperti padi, jagung dan sayur-sayuran. Contohnya desa Waimital di Kec. Kairatu Kab. Seram Bagian Barat. Peredaraan uang dan geliat ekonomi di desa Waimital sangat tinggi dan rutin terjadi setiap harinya.

Jika dibandingkan tingkat perekonomian masyarakat desa transmigrasi Waimital dan desa-desa bukan transmigrasi di Seram, sangat berbedah jauh sekali. Indikatornya dapat dilihat dari fisik rumah penduduk, hampir seluruh rumah penduduk desa Waimital sudah permanen, besar dan bagus. Itu berarti tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat desa Waimital jauh lebih baik dari desa-desa sekitarnya yang petaninya bukan petani sawah.

Mengapa tingkat ekonomi masyarakat desa Waimital lebih baik? Sebab masyarakat desa Waimital adalah petani sawah dan menanam tanaman umur pendek seperti padi, jagung dan sayur-sayuran. Luas sawah desa Waimital berdasarkan Data Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Maluku seluas 610 hektar. Itu berarti dalam satu tahun masyarakat desa Waimital bisa menghasilkan atau mendatangkan uang tunai ke desanya sebesar 33,5 milyar rupiah atau perbulan kurang lebih 2,7 milyar.

Jika dibandingkan dengan desa-desa yang penduduknya hanya mengandalkan tanaman umur panjang, sekali musim panen per tahun belum tentu menghasilkan atau mendatangkan uang tunai di desanya sebesar 2,7 milyar, tetapi oleh masyarakat desa Waimital jumlah sebesar tersebut dihasilkan dalam sebulan saja.

Sekarang saatnya, pemerintah daerah wajib mengeluarkan kebijakan untuk segera membangun kesadaran masyarakat di desa-desa di Maluku untuk merubah cara pandang dan melatih mereka agar memiliki motivasi, ketekunan dan keuletan untuk dapat bercocok tanam sebagai petani sawah.

Bersamaan dengan itu juga pemerintah daerah memfasilitasi program pencetakan sawah baru bagi masyarakat-masyarakat pedesaan di Maluku yang petuanan desanya memungkinkan dibuat areal persawahan. Inilah strategi mengurangi tingkat pengangguran yang semakin tinggi dari tahun ke tahun.

Sebab kebijakan tersebut sejalan dengan program Pemerintah Jokowi – JK dibidang pertanian. Sehingga di tahun-tahun mendatang Indonesia dapat mencapai swasembada pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi angka kemiskinan.

Saat ini, Jokowi – JK telah menetapkan kebijakan 3 komoditi yaitu padi, jagung dan kedelei yang dihasilkan oleh petani dengan jumlah berapa pun akan dibeli oleh pemerintah lewat bulog. Ketiga komoditi tersebut sampai saat ini belum mencukupi pasar Indonesia, sehingga sebagian masih di impor dari negara lain. Dan komoditi tersebut juga hanya bisa berhasil ditanam dalam jumlah besar dan banyak jika ditanam di sawah. Sebab hanya sawah yang tersedia air secara rutin terus menerus dua puluh empat jam.

Mudah-mudahan dengan cara ini dan apabila sukses maka dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat di desa-desa di Maluku. Inilah esensi “BERJUANG UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT”. Merdekaaaa…..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s