Usai Cahaya dari Timur, Glenn Angkat Kisah Tragedi 65


KESUKSESAN film Cahaya dari Timur: Beta Maluku yang diproduseri Glenn Fredly masih tersisa hingga kini. Sesuai mimpinya, Glenn membuat film tentang konflik Maluku yang disatukan kembali lewat sepakbola itu, berumur panjang.

Setelah tahun lalu karyanya mendapat penghargaan sebagai Film Terbaik Festival Film Indonesia dan diputar di berbagai negara, kini Glenn siap “menyembuhkan” konflik lain lewat suguhan yang berbeda.

Kepada CNN Indonesia di Ubud, Bali, Kamis (29/10) malam Glenn bercerita ia akan mengangkat sejarah peristiwa 1965 sebagai latar belakang film terbarunya, Surat dari Praha. Film itu dibintangi Tyo Pakusadewo, Widyawati, dan si cantik Julie Estelle.
“Kami sangat peduli pada masalah-masalah yang tidak terselesaikan, seperti sejarah yang hilang dari tengah masyarakat,” ujar Glenn menjelaskan latar belakang pembuatan filmnya. Membuat film tentang konflik masa lalu, menurutnya bukan membuka kembali luka lama.

Alih-alih ingin mengungkit siapa yang salah dan benar, pelantun Januari itu ingin mencari sudut pandang yang berbeda untuk melihat sejarah yang biasanya dianggap gelap oleh Indonesia. Ia berhasil menemukan sudut pandang unik itu untuk film Surat dari Praha.

“Sebenarnya film itu diangkat dari lagu-lagu saya. Angga (Angga Dwimas Sasongko, yang juga sutradara Cahaya dari Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi) memilih karya-karya saya untuk dijadikan kisah cinta. Jadi ini love story,” tutur Glenn sambil tersenyum penuh misteri. Hanya saja, latar belakang peristiwa 1965 dipilih sebagai pembungkus kisah cinta itu.

Lagi-lagi, filmnya diangkat dari kisah nyata. Glenn dan tim melakukan riset sampai ke Praha untuk menemukan sekelompok mahasiswa yang terkena dampak sejarah kelam Indonesia itu.
“Kami memang ingin mengambil sudut Praha. Terbayang kan cantiknya? Kami lalu mencari, ada enggak ya mahasiswa yang bisa diriset,” katanya bercerita. Seperti sudah ditakdirkan, Glenn bertemu seseorang yang pada 1965 adalah pemimpin mahasiswa Indonesia di Ceko.

Kata Glenn, ia ingin bercerita soal mahasiswa yang menjadi korban 1965 karena tak bisa pulang ke negaranya sendiri. “Pada waktu itu kan identik mahasiswa yang dikirim studi ke luar itu berideologi kiri. Yang kami temukan ini enggak,” katanya. Ia bertemu mahasiswa yang tergabung dalam komunitas ikatan dinas.
“Mereka tidak beraliansi ke ideologi mana pun. Mereka nasionalis. Mereka bahkan tidak peduli pada satu ideologi. Ini fakta sejarah yang sampai hari ini tidak keluar,” tuturnya.

Yang dipedulikan mahasiswa itu, mantan suami Dewi Sandra itu melanjutkan, hanyalah pulang ke negaranya dan memberikan sesuatu. Ternyata, mereka bahkan tak bisa pulang.”Ada y ang baru dua hari, enggak tahu apa-apa, tiba-tiba enggak bisa pulang. Mereka sampai stateless selama 15 tahun, di bawah Palang Merah Internasional. Gokil,” komentar Glenn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s