MTB Kembangkan Wisata Pulau Terluar


SAUMLAKI- Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) Provinsi Maluku, berencana mengembangkan wisata bahari kepulauan terluar di tiga lokasi, seiring ditetapkannya MTB sebagai kawasan kelautan perikanan terintegrasi.

“Yang pertama di tiga pulau di Kecamatan Tanimbar Selatan. Di sana terdapat potensi terumbu karang tersehat di dunia berdasarkan tim survei yang datang ke MTB,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) M. Batlolona yang ditemui di Saumlaki, Maluku, Sabtu (7/11), dilansir beritasatu.com.

Tiga pulau itu, ujar dia, yakni Pulau Matakus, Angwarmas, dan Pulau Nustabun, pulau-pulau kecil di antara Pulau Yamdena dan Pulau Selaru di bagian selatan yang bagus untuk wisata “diving” dan “snorkeling” serta pantai dan mangrovenya yang mempesona.

Di selatan Pulau Selaru di pulau terluar Indonesia, kata Batlolona, juga terdapat potensi wisata sejarah di mana ada berbagai peninggalan Perang Dunia II.

Ia juga memprioritaskan lokasi wisata bahari di bagian utara MTB, yakni di Pulau Nukaha, Kecamatan Yaru di sekitar Pulau Larat yang menawarkan wisata keindahan pantai dan lokasi kapal tenggelam.

Disebutkan, jika di Maluku terdapat sekitar 1.000 pulau, di MTB yang letaknya di antara Laut Banda dan Laut Arafura serta perbatasan dengan Australia itu memiliki 102 pulau dengan penduduknya hampir 100 persen tinggal di pesisir yang selain menjadi nelayan, juga bertani.

Selain wisata bahari, pihaknya juga telah membangun Desa Wisata di Desa Sangliat Dol di Kecamatan Wertamrian di mana terdapat situs perahu batu peninggalan zaman Megalithikum, ujarnya.

Situs bebatuan bersusun berbentuk perahu yang dikitari oleh enam gasibu itu secara periodik menjadi lokasi kegiatan budaya seperti tari-tarian dan musik adat oleh masyarakat setempat, misalnya pada perayaan HUT gereja setempat.

Di lokasi itu juga terdapat kelompok ibu yang menenun kain khas MTB yang coraknya mirip kain tenun dari Maluku dan NTT.

“Kami tidak tahu kapan dan dari mana perahu batu itu bisa ada di sini. Tapi katanya sejak zaman dulu kala,” kata Yustus, warga setempat yang pekerjaannya menangkap ikan sekaligus berladang untuk dimakan sendiri. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s