Banyak Kepentingan di Gunung Botak


NAMLEA— Aktivitas penambangan emas secara liar di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, sulit dihentikan sebab banyak kepentingan yang terlibat di sana. Pemerintah pusat diminta membentuk tim investigasi untuk menyelidiki penyebabnya, termasuk pihak-pihak yang ada di balik tambang liar itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com kendati dinyatakan sebagai tambang liar, kawasan itu malah dijaga ketat aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral kabupaten setempat. Mereka membentuk beberapa pos dan meminta sejumlah uang dari petambang atau penarik ojek yang masuk areal itu. Anggota TNI yang pernah menjaga lokasi itu sudah ditarik. Prajurit yang terlibat pun dikenai sanksi.

BK, salah satu petugas yang berjaga di posko itu, menyatakan, ia dan beberapa petugas lain hanya menjalankan perintah pimpinan mereka. Ia juga tidak tahu ke mana arah uang yang ditagih tersebut. “Kami hanya diminta menjaga. Mungkin nanti akan disetor ke atas,” ujarnya.

Di sana terdaftar lebih kurang 2.000 sepeda motor. Setiap kali melintasi jalur itu, mereka menyiapkan uang lebih dari Rp 100.000 untuk diserahkan kepada pos-pos tersebut. Dalam satu hari, setiap sepeda motor melintas paling kurang tiga kali. Polisi membantah tagihan uang itu merupakan instruksi dari pimpinan institusi mereka. Keberadaan mereka di sana untuk menjaga kamtibmas (Kompas, 9/11).

BK menyebutkan, ada salah satu institusi yang berperan paling dominan di Gunung Botak. Institusi itu mengatur semua penambangan di sana, termasuk menagih ke setiap tempat penggalian. Setiap petambang baru wajib membayar kepada mereka dengan harga bervariasi.

KL, penarik ojek, menambahkan, banyak petambang dimodali orang-orang berpengaruh di daerah itu. Bahkan, ada juga yang berasal dari luar Maluku. “Gunung Botak sulit ditutup karena banyak kepentingan,” katanya.

Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura, Yusthinus T Male, meminta pemerintah pusat membentuk tim investigasi untuk menyelidiki penambangan liar di sana. Sebab, pemerintah daerah dianggap tidak berhasil. Ketika kunjungannya ke Buru pada Mei lalu, Presiden Joko Widodo memerintahkan Kepala Polda Maluku Brigadir Jenderal (Pol) Murad Ismail agar menutup lokasi tersebut.

Penggunaan merkuri untuk pengolahan emas telah merusak lingkungan di sana. Yusthinus dalam penelitiannya menemukan kandungan merkuri telah masuk ke dalam bahan pangan bahkan hingga tubuh manusia. Masuknya merkuri itu melalui rantai makanan. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s