Menjadi Bendahara Suami? Ooh Nooo!!!


SAHABATKU, di Cafe Shibu -Shibu kemarin , saya ketemu dua teman lama tanpa di sengaja. Saya agak pangling saja karena sudah sekian lama kami baru ketemu. Rupanya program Pemerintah Mangente Ambon cukup efektif untuk membawa mereka balik ke tanah tercinta, Ambon Manise.

Sembari menikmati seteko kopi rorobang dan kasbi tone serta suguhan lagu Ambon, hmmm…sungguh terasa nikmat obrolan kami…yah semacan curhat -curhatanlah antar sesama perempuan… pastilah asiikk.

Pertemuan yang tidak di sengaja itu membuat saya harus berpikir sejenak untuk meyakini bahwa sungguh masa depan adalah misteri.

Bagaimana tidak, teman saya , sebut saja Mawar , yang dulu harmonis dengan suaminya , ternyata saat ini sudah bercerai.Rumah mereka di ambil suami bersama istri keduanya . Sedangkan dia bersama 4 anaknya harus mencari makan sendiri . Lebih miris lagi dia selama ini cuma ibu rumah tangga yang hanya mengharapkan gaji suami . Kalo saya tidak bertemu dia, saya tidak percaya ada suami seperti itu.

Teman saya yang satunya lagi, sebut saja Melati, suaminya sudah meninggal karena sakit dan dia harus bekerja keras untuk membiayai anak-anaknya karena suaminya tidak meninggalkan uang pensiun.Seperti teman saya Mawar , dia juga hanya mengharapkan gaji suami.

Seperti yang saya katakan tadi bahwa masa depan adalah misteri dan kita tidak bisa memprediksi apakah ada hal terburuk yang akan menimpa kita sebagai perempuan di kemudian hari. Tentu kita tak pernah mengharapkan itu terjadi. Tapi tidak ada salahnya jika kita sebagai perempuan menyiapkan diri dari kemungkinan terburuk yang akan terjadi.Karena inti dari pertemuan yang tidak di sengaja bersama saya adalah saat ini sebagai seorang ibu mereka harus kerja keras membiayai anak-anak padahal usia mereka sudah tak muda lagi.Pastinya, mereka butuh uang untuk kelangsungan hidup.

Sahabatku, kita diingatkan juga untuk mempersiapkan 5 perkara yaitu:
Muda Sebelum Tua
Sehat Sebelum Sakit
Kaya Sebelum Miskin, Lapang Sebelum Sempit Hidup Sebelum Mati.

Hal ini jelas mengajarkan untuk kita melakukan tindakan preventif.

Persoalannya, kita terbiasa mempunyai mindset yang salah tentang tindakan preventif terutama tentang uang. Karena kedua teman saya, jelas bermasalah dengan keuangan pasca perceraian dan meninggal suami. Padahal mereka termasuk keluarga berada pada awalnya.

Mindset apa yang salah dari kita tentang uang? Apakah kita menganggap uang adalah akar dari semua kejahatan misalnya korupsi, kikir, kemaruk dan berbagai biang kerusakan di muka bumi ini? Apakah kita menganggap jika kita meninggal cuma membawa kain kafan saja jadi untuk apa susah payah mencari uang?

Saya tidak ingin mengatakan bahwa ada yang salah dan ada yang benar.

Karena kenyataannya memang banyak koruptor yang rakus uang rakyat, ya karena ingin banyak uang. Tapi banyak juga milyader yang menjadi penderma untuk orang miskin melalui berbagai yayasan sehingga sumbangsih mereka untuk rakyat nyata, itu juga karena ya… banyak uang.

Tentu kita pernah mengalami dan merasakan bagaimana jika tidak punya uang. Misalkan ketika anak butuh dana untuk kuliah, ketika anak atau keluarga sakit. Tentu keluarga bisa membantu tapi tetap saja kita sebagai seorang perempuan yang memang dituntut harus bertanggung jawab dengan keuangan. Karena bagaimapun , kita perempuan yang menjadi bendahara dalam keluarga untuk mengelola kuangan suami.

Jika berbicara tentang pengelolaan keuangan suami maka di jaman sekarang, melihat angka statistik berikut sebagai perempuan rasanya tugas sebagai bendahara suami kita harus ditingkatkan . Mengapa ?

Statistik menunjukan:

*47% perempuan diatas usia 50 tahun adalah lajang.

*50% pernikahan berakhir dengan perceraian.

*Pada tahun pertama setelah perceraian, standar hidup perempuan rata-rata merosot sebesar 73%

*3 dari 4 kaum lansia yang hidup dalam kemiskinan adalah perempuan dan 80%dari mereka tidaklah miskin saat suami mereka masih hidup.

*Hampir 7 dari 10 perempuan pada suatu masa akan hidup dalam kemiskinan.

Data Statistik 2007 di kutip dari buku Rich Woman , Kim Kiyosaki.

Data Statistik ini memang bukan di Indonesia, tetapi pada era globalisasi saat ini , bukan tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Bukankah angka statistik menunjukan Angka perceraian di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan? Bukankah saat ini kita terbiasa menjumpai wanita yang tidak menikah semakin banyak?

Saya tidak bermaksud supaya kejadian buruk perceraian menimpa kita kaum perempuan, tetapi melihat data statistik tidak ada salahnya kita berjaga-jaga untuk tetap cerdas finansial. Karena itu menjadi bendahara suami tidaklah cukup! (Dwi Eka Harjani Habir on Facebook)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s