Kisah Batu Lekahatu di Pantai Toisapu (Negeri Hutumuri)


“katong su nanaku
di ambon ini banyak batu,
batu bukan sabarang batu
dengar carita satu-satu…..”

Itulah penggalan salah satu lagu daerah Maluku yang menceritakan banyak batu yang memiliki sejarah dan dijadikan sebagai nama wilayah atau daerah kediaman di Maluku dan ambon khususnya,misalnya batu gajah, batu gong, batu gantung, batu meja dan masih banyak lagi daerah tempat tinggal yang identik dengan nama batu yang memiliki sejarah.

Batu Lekahatu sekilas nama batu ini menyerupai Fam ( marga ) di daerah Maluku dan sedikit berbeda dengan nama-nama batu diatas. Batu Lekahatu, batu yang berukuran besar itu pada mulanya berada di puncak gunung maot, kira-kira tiga kilometer dari dusun Toisapu. Di puncak gunung kampong pertama negeri lounusa yang sekarang disebut Hutumuri.

Untuk mencapai Negeri Lounusa hanya ada satu jalan yang bisa dilalui dengan kondisi jalan yang menanjak dan jurang yang terjal di sisi kiri dan kanan jalan. Posisi batu besar itu berada tepat berada tepat dijalan menuju ke Lounusa, oleh sebab itu batu ini dipakai oleh kapitan lekahatu sebagai senjata untuk mempertahankan negeri Lounusa dari serangan musuh ketika terjadi penyerangan dengan cara menggulingkannya kea rah musuh.

Sekedar diketahui Negeri Lounusa ( Hutumuri ) termasuk salah satu negeri yang terlibat dalam perang menghadapi Portugis dan Belanda ketika melakukan penjajahan di Maluku khususnya di pulau Ambon. Sangat disesali walaupun kapitan Lekahatu dengan susah payah menjaga batu besar yang nanti dugunakan sebagai senjata itu, tetapi pada akhirnya negeri Lounusa yang berada dipuncak gunung maot itu dapat digempur dan ditaklukan oleh belanda juga.

Hal ini diakibatkan oleh penghianatan yang dilakukan oleh Upu Latu Dom Pedro ( Raja di Lounusa ) raja yang setia kepada belanda pada saat itu. Hari untuk menggempur Lounusa sudah diberitahukan belanda kepada Upu Latu Dom Pedro, untuk itu semua kapitan perkasa Negeri Lounusa dipindahkan dan diperintahkan ke tempat lain oleh Upu Latu Dom Pedro.

Kapitan Domedor ( Monimout ) ditugaskan untuk berjaga di Larutu, Kapitan besar Ailohi dan Ina Latu ileironda pindah ke Haleru, malesi matakena pindah ke haha, Kapitan Umar Simenteng pindah ke gunung tihu, Kapitan Sohisahulau pindah ke gunung maraya, malesi Imam Sababa ( patalala ) dan kapitan Kalaumbar ( Patiasina ) berjaga di tawasan, kapitan Spadu berpindah ke gunung Hutureng, sedangkan kapitan Domel Kiusbesy disuruh meminta bantuan ke Kapahaha ( Hitu ).

Dengan dipindahkannya kapitan-kapitan perkasa dari Lounusa, maka pada bulan Juli 1628 Lounusa digempur habis-habisan oleh belanda. Pejuang- pejuang berjuang mati-matian mempertahankan negerinya, namun karna perlengkapan perang dan jumlah personil yang tidak seimbang maka laskar Lounusa kalah dalam pertempuran itu. Dua orang kapitan Lounusa ditangkap yaitu kapitan Satu Siali ( Kesaulia ) dan kapitan Tomagola.

Kedua kapitan itu disiksa dengan cara digantung, kapitan Tomagola diikat dan digantung kakinya keatas dan kepalanya kebawah, kemudian kepala kapitan Latu Siali ( kesaulia ) diikat menjadi satu dengan kepala kapitan Tomagola dan kakinya kebawah. Kedua mayat Latu Siali dan Latu Tomagola diuburkan di negeri Lounusa seperti yang digantung tadi, oleh sebab itu ukuran kuburannya panjang dan sampai saat ini masih ada di negeri tua Lounusa di puncak gunung maot.Bila ada upacara-upacara adat kedua kapitan ini selalu dihormati.

Melihat negerinya yang telah terbakar setelah digempur oleh belanda, kapitan Lekahatu menjadi marah dan menyesal karna batu yang ia jaga siang dan malam dan digunakan sebagai senjata untuk menggempur musuh tidak dapat digunakan, kemudian ia menendang batu besar itu. Batu itu terguling dari puncak gunung maot sampai kepantai Toisapu berada persis di kaki kali Toisapu, maka sampai hari ini masyarakat menamai batu besar itu batu Lekahatu. (*)

  • Catatan ERWIN.P. RUSPANAH, dilansir Ambon Ekspres

One thought on “Kisah Batu Lekahatu di Pantai Toisapu (Negeri Hutumuri)

  1. Oh trnyta seperti itu, terima kasih untuk artikel.a ..
    Untung ad yg bisa mnjlskan sprti ini, krna info yg terbatas sehingga banyak yg mulai menamai batu tersebut batu badaong.. x_x

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s