“Ambon Kita Semua”: Luar Biasa Pa JK, Kami Bangga Padamu


APRESIASI dam rasa hormat kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) disampaikan seorang warga Ambon Olivier Srue di akun facebook miliknya. “Ambonku, Ambon kita semua. Luar biasa Pa JK. Kami bangga kepadamu.”

Ungkapan Oliver Srue dari hati paling dalam itu, sepertinya mewakili perasaan mayoritas masyarakat Maluku kepada Jusuf Kalla. Bagi juru damai yang menyelesaikan beberapa konflik di tanah air itu, Maluku ibarat tanah kelahirannya.

Pada Rabu (26/11/2015), Jusuf Kalla, dua kali membaca puisi tentang Ambon. Pertama saat dia menghadiri dan membuka Musyawarah Besar Masyarakat Maluku (Mubes Mama) di Islamic Center, Ambon. Kedua, di acara Mata Najwa, Metro TV.

“Itulah satu-satunya, pertama dan terakhir, puisi buatan saya. Saya tidak bisa buat lagi karena itu lahir dari dalam jiwa,” kata Wakil Presiden, Jusuf Kalla, di depan peserta Musyawarah Besar Masyarakat Maluku 2015, di Kota Ambon, Selasa.

Politisi senior itu, sebelum berkata demikian, memang membawakan satu puisi. Dan dia sendiri yang menulis puisi itu. Itu puisi, dia beri judul Ambonku, Ambon Kita Semua. Ambon milik semua orang.

Ambonku, Ambon Kita Semua dia bacakan untuk pertama kalinya pada 7 September 2004, ketika dia masih menjabat sebagai menteri koordinator bidang kesejahteraan rakyat, dalam upaya perdamaian atas konflik antarkelompok di Ambon.

Agaknya, nasib yang mengantar dia akrab dengan penyelesaian damai konflik, sebutlah konflik Ambon, Poso di Sulawesi Tengah, hingga Aceh.

Kalla saat itu mediator menuju Perjanjian Malino pada 2002, kesepakatan damai untuk konflik sejak 1999.

“Saya merasa bahagia dan bersyukur bisa hadir lagi dan bertemu kawan-kawan lama di sini. Dan semuanya tentu bahagia dengan upaya melanjutkan perjalanan bangsa ke depan,” kata Kalla, dari panggung.

Dalam kesempatan itu, Kalla juga mengingatkan kepada seluruh masyarakat Maluku untuk tidak melupakan sejarah kelam konflik di masa lalu, sebagai pegangan untuk mewujudkan kehidupan lebih baik di masa datang.

Orang Belanda punya peribahasa pas untuk hal-hal seperti itu, yaitu Vergeven niet vergeten alias Forgiven not forgotten.

“Selain menghormati masa lalu, kita juga harus selalu berusaha keras supaya bagaimana masa depan ini bisa lebih baik dari masa lalu,” katanya.

Berikut penggalan puisi Ambonku, Ambon Kita Semua itu:

Empat ratus tahun lalu dunia mencarimu
Dunia ingin hidup nyaman darimu
Karena engkau adalah sumber keharuman

Pala, fuli dan cengkeh dambaan mereka
Karena itu dari jauh mereka datang padamu

Lima tahun lalu engkau terkoyak
Bangsa ini sangat tersayat dan dunia ikut tersentak
Karena deritamu derita bangsa juga
Kesulitanmu kesulitan kita semua
Ale rasa beta rasa.

Hari ini engkau bangun dengan senyum simpul
Bangsa juga turut tersenyum.

Kita semua lega dan berbesar hati
Kalau engkau senang kami bahagia
Ale senang beta senang

Waktunya membangunan negeri ini
Dengan semangat Pattimura yang perkasa itu

Lupakan segala pedang dan batu itu
Berikan kembali pena dan buku kepada Nyong Ambon

Petik kembali cengkeh dan pancing kembali ikan
Tabuh kembali tifa dan petika kembali gitar itu
Nyanyikan kembali ole sio sambil menari lenso

Dengan senyum bunyi tifa, gitar dan nyanyianmu…
Dunia akan lega, bangsa akan bangga.

Karena sumber keharuman dan kehidupan…
Akan bangkit kembali dari ufuk timur
Ambonku, Ambon kita semua

(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s