Kasus Candaan Bom, Polisi Didesak Periksa Anak Nono Sampono


AMBON- Ketua Komisi I DPRD Kota Ambon Komisi I DPRD Kota Asmin Matdoan mendesak polisi agar segera memeriksa anak Nono Sampono, terkait kasus “candaan bom” pasca penetapan status tersangka dan penahanan terhadap Hon Hendrik Russel.

Mengutip Siwalima, Matdoan menegaskan, tersangka Russel maupun anaknya Nono Sampono, seharusnya mendapatkan hukuman yang sama.

“Mereka yang telah melanggar aturan hukum seharusnya diberi­kan hukuman, tidak boleh ada diskriminasi kalau yang salah tetap salah. Bagaimana negara ini disebut negara hukum sementara aparat keamanan saja bisa berbuat seperti itu dalam menegakan hukum,” tandas Ketua Komisi I DPRD Kota Asmin Matdoan kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (7/12).

Menurut dia, jika seperti itu sama saja aparat keamanan mulai dari sekuriti bandara sudah mengistimewakan anaknya Nono padahal dia juga harus diproses hukum seperti warga biasa juga.

“Seharusnya siapapun dia, mau itu pejabat atau anaknya maka harus diproses hukum sebab membuat kesalaan yang sama, jangan pakai tebang pilih seperti ini, masa masyarakat biasa saja yang di hukum itu namanya tidak adil,” tandasnya.

Selain itu, sebagai wakil rakyat sangat kecewa dengan sikap kepolisian yang telah diskriminasi sehingga ia meminta untuk masalah anaknya Nono harus bisa diproses hukum hingga tuntas.

Untuk diketahui, penegak hukum dinilai melakukan diskriminasi dalam penegakan hukum terkait kasus penumpang pesawat yang bercanda membawa bom.

Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, AKBP Komaruz Zaman yang dikonfirmasi Siwalima, di Lapangan Merdeka Ambon, Minggu (6/12) mengaku pihaknya tidak memproses hukum kasus yang menimpa anaknya Nono karena tidak dilimpahkan dari Lanud Pattimura.

Menurut Kapolres, kasus tersebut juga belum tidak diproses oleh Polres Ambon. “Kalau soal itu saya tidak diinfokan. Tidak ada di kita. Saya tidak tahu itu,” ujarnya.

Russel kini dijerat dengan pasal berlapis setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif oleh penyidik Reskrim Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kamis (3/12).

Pasal yang dijerat terhadap ter­sangka yakni pasal 437 ayat 1 undang-undang Nomor 1 tahun 2009 yang menyatakan Setiap yang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan pener­bangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 344 huruf e35 dipidana paling lama satu tahun penjara.

Selain itu, juga dijerat pasal 479 a KUHP tentang Kejahatan Pener­bangan Dan Kejahatan Terhadap Sarana/Prasarana Penerbangan yang menyatakan, Barang siapa de­ngan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangu­nan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangun terse­but dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun. Dan ayat 2, Dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun jika karena perbuatan itu timbul bahaya bagi keamanan lalu lintas udara.

Russel yang tercatat sebagai warga Kebun Manggis RT 017/RW 003 Ja­karta Timur ini menumpangi pesawat Wings Air dengan nomor seat 7A, hendak bertolak dari Ban­dara Inter­nasional Pattimura Ambon dengan tujuan Langgur pukul 12.25 WIT.

Informasi yang dihimpun Siwalima, Rabu (2/12) terungkap awalnya pada pukul 12.25 WIT, para penumpang pesawat Wings Air diminta untuk memasuki pesawat. Sesampainya di pesawat Russel yang duduk di kursi nomor seat 7A membawa sebuah tas hitam kemu­dian salah seorang pramugari me­ngarahkan agar Russel memin­dah­kan tasnya sebab menghalangi jalan.

“Pramugari itu berkata ‘sebaik­nya tasnya jangan menghalangi jalan, taruhnya di bagian belakang aja’. Pelaku dengan spontan menga­takan ‘tas saya isinya bom’. Men­dengar penjelasan pelaku, pramugari tersebut memberitahukan kepada pilot dan langsung menghubungi security bandara untuk menurunkan pelaku,” ujar sumber Siwalima di Bandara Pattimura.

Russel kemudian diamankan di kantor Security Bandara Pattimura dan selanjutnya dijemput oleh Danlanud Pattimura Kolonel Pnb Bob H Panggabean untuk diinte­rogasi bersama tasnya itu.

Sekitar pukul pukul 13.30 WIT, sebanyak 65 orang diturunkan dan pesawat Wings Air IW-1504 juga ikut disteril. Kemudian pukul 14.45 WIT, satu regu jihandak Gegana Polda Maluku tiba di Bandara Pattimura guna melakukan sterilisasi.

Dari pemeriksaan yang dilakukan ternyata tidak ditemukan bom. Tas yang di sampaikan pelaku hanya berisikan pakaian dan asesoris. Pelaku mengaku hanya berniat untuk bercanda dengan pramugari dan tidak berinisiatif untuk meneror.

Sebelumnya, Kamis (26/11) lalu pukul 19.33 WIT, kejadian serupa juga terjadi di Bandara Pattimura. Saat itu penumpang pesawat bisnis nomor penerbangan ID 6179 tujuan Ambon-Jakarta membawa kardus. Pramugari mencoba bertanya isi dari barang tersebut, penumpang menyatakan barang tersebut adalah bom. Penumpang tersebut menyatakan soal bom sebanyak 3 kali. Lalu pramugari melapor ke pilot soal kejadian di kabin.

Pilot kemudian melapor ke pihak keamanan bandara yang adalah TNI AU dan menurunkan penumpang serta barang yang dianggap bom. Orang tua penumpang Nono Sam­pono yang juga anggota DPD asal Maluku menjamin barang bukan berisi bom. Tetapi pilot tetap memu­tuskan menurunkan penumpang de­ngan koordinasi keamanan bandara.

Nono Sampono sendiri sudah mengklarifikasi soal berita tentang candaan bom yang dilakukan anaknya (baca di sini).  (*/S-40)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s