Kiprah Baronda Maluku Jadi Rujukan Ulasan Wisata


KIPRAH komunitas Baronda Maluku sudah menjadi rujukan bagi ulasan media-media mainstream saat mengulas tentang dunia pariwisata.

Majalah online SWA edisi terbaru 7 Desember 2015 misalnya. saat membahasan sub tema Peran Anak Muda dalam Mempromosikan Pariwisata Indonesia, merujuk pada kiprah Baronda Maluku yang didirikan Achmad Alkatiri, bersama sejumlah rekannya.

Penjelasan Achmad Alkatiri ini dikutip saat dia menjadi salah satu pembicara di ajang Indonesia youth Conference 2015, beberapa waktu berselang di Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Achmad Alkatiri mengatakan bahwa Maluku memiliki potensi wisata yang sangat bagus. Banyak destinasi wisata di Maluku yang tidak kalah dibanding Eropa dan masih belum banyak diketahui. Masalah datang ketika terjadi konflik di wilayah tersebut, dimana menyebabkan menurunnya jumlah kunjungan wisata.

Dia pun tidak tinggal diam. Tahun 2013, bersama beberapa temannya yang juga aktif dalam travelling seperti Bary Kusuma (travel fotografer), Riyanni Djangkaru (Presenter dan Campaign Director Saveshark Indonesia), dan 10 orang lainnya melakukan re-branding Maluku melalui Program Baronda Maluku. Nama Baronda diambil dari bahasa Maluku yang artinya jalan-jalan.

Mereka melalukan promosi pulau yang terkenal dengan sebutan Ambon Manise ini melalui social media. Tim yang berjumlah 10 orang ini berasal dari latar belakang profesi yang berbeda, seperti fotografer, influencer (orang yang banyak memiliki followers), penulis, dll.

“Kami melakukan trip ke Ambon, mengunjungi spot wisata baru dan membuat itenerary (panduan perjalanan wisata). Kemudian tim melakukan promosi melalui social media,” ungkap Alkatiri.

Masing-masing memiliki pembagian tugas. Influencer selama perjalanan bertugas me- tweet dan meng-upload foto di instagram. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan awareness netizen bahwa wisata di Maluku tepat menjadi rekomendasi, sehingga mereka akan mencari info lebih banyak tentang destinasi wisata Maluku.

Kemudian ada tim konten yang bertugas menulis detail perjalanan seperti biaya transportasi, info tempat tinggal, dll. Adapula tim dokumentasi perjalanan yang memiliki keahlian mengambil angle foto yang bagus. “Ya kami bisa disebut one integrated. Ada social buzz, travel articles, travel photos, travel videos,” tambahnya.

Dalam ulasan tentang peran anak muda dalam dunia wisata, SWA tak hanya merujuk pada kisah Baronda Maluku. Tetapi juga Titania Febrianti, Editor National Geographic Traveller Indonesia. Selengkapnya tentang ulasan SWA tersebut bisa dibaca di sini.  (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s