Vega Salu, Sarjana Cum Laude dari Batang Dua


“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, yang berjalan maju dengan menangis sambil sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mazmur 126:5-6)

Vega Salu
Vega Salu usai Diwisuda

Lima tahun yang lalu selaku Sekretaris Klasis GPM Ternate, saya mengunjungi Jemaat GPM Efata Mayau di Pulau Batang Dua Ternate. Mayau dan Tifure adalah dua pulau kecil yang terapung-apung di antara Ternate (Maluku Utara) dan Bitung (Sulawesi Utara). Makanya disebut Batang Dua.

Kedua pulau ini membentuk sebuah kecamatan yakni Kecamatan Batang Dua yang berpusat di desa Mayau. Warga penduduk kedua pulau ini sebagian besar dari pulau Halmahera dan Sangihe (Sangir).

Hampir semua penduduknya beragama Kristen, terkecuali mereka yang ditugaskan sebagai aparatur negara seperti tentara, polisi, tenaga medis, dan pegawai kecamatan.

Saat memimpin ibadah Minggu di Gereja Effata Mayau, saya terpukau dengan seorang anak muda yang bermain keyboard mengiringi ibadah pagi itu. Selesai ibadah saya bercakap dengan pemuda tersebut.

Ia baru saja lulus SMA di Mayau dan belum tahu mau kemana. Ayahnya sudah meninggal dan ia tinggal bersama ibunya.

“Apakah kamu ingin kuliah di Ambon?” tanya saya. “Saya mau saja pa, tapi saya tidak punya uang dan saya belum pernah ke Ambon,” katanya.

“Okelah, saya akan menghubungi salah seorang dosen STAKPN dan jika ada peluang, kamu siap-siap ke Ambon ya”, saya mencoba memberanikan pemuda tersebut. Kami berpisah di gereja.

Sore hari di pinggir pantai Mayau yang indah, saya menghubungi Ibu Ruth Aralaha-Werinussa, salah seorang dosen STAKPN, yang dulu pernah melayani sebagai Majelis Jemaat bersama-sama saya di Jemaat Bethel kota Ambon. Percakapan sore ini membawa angin segar, sesegar angin pantai Mayau.

“Bilang dia datang saja, nanti saya usahakan beasiswa dan ia tinggal bersama kami,” undangan yang empatik. Ibu Ruth sendiri berasal dari Wasile di Halmahera Tengah.

Singkat cerita, pemuda yang berbakat di bidang seni itu kemudian ke Ambon, tinggal bersama keluarga Werinussa-Aralaha, dan kuliah di Jurusan Musik Gereja STAKPN Ambon.

Daya juang, militansi dan kesungguhan pemuda tersebut, ditambah dukungan doa ibu dan saudara-saudaranya, termasuk majelis jemaat GPM Mayau (khususnya Pdt Lenda Sahetapy), telah turut mengantar pemuda tadi meraih gelar sarjana.

Hari ini pemuda tersebut telah menunjukan bahwa pemuda kampung nun jauh di Utara Maluku, seorang anak yatim yang sederhana, tidak pernah menyerah pada keadaan. Kesungguhan dan ketekunannya telah mengantarnya menjadi lulusan terbaik dengan predikat “Cum Laude”.

Pemuda asli/asal Mayau Batang Dua itu adalah Vega Salu, S.Sn. Bukan saja keluarga Salu yang bangga, bukan pula Mayau dan Pulau Batang Dua, tetapi semua orang yang berjuang dari bawah akan bangga  sekaligus diteguhkan bahwa tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan.

Seperti kata pemazmur diatas, siapa yang menabur dengan tekun dan bercucuran air mata serta tetap mengandalkan Tuhan, pasti menuai dengan sorak sorai.

Selamat berbahagia Vega. Saya bangga denganmu. Ingatlah, perjuanganmu belum berakhir, jalan masih panjang. Hari ini kau telah menggapai satu puncak gelombang di antara seribu gelombang yang terus bergulung di samudera Batang Dua dan samudera dunia ini.

Tetaplah rendah hati, senandungkan dawai biolamu dan teruslah berjuang, seperti ombak di tepi pantai Mayau yang tak letih mencumbui bibir pantai pasir putih. Proficiat!  (Pendeta Rudy Rahabeat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s