Makan Patita, Tradisi Kuliner Gratis ala Maluku


ADA satu tradisi kuliner di Maluku yang dipertahankan hingga saat ini, yaitu Makan Patita. Esensi makan patita, yaitu makan bersama dalam jumlah orang yang banyak dan dilandasi semangat kekeluargaan.

Biasanya, saat acara makan patita, makanan yang disuguhkan adalah jenis makanan tradisonal yang biasa dikonsumsi masyarakat di Maluku. Ada kasbi (singkong), pisang rebus, sagu, kohu kohu (urap Maluku), ikan bakar, ikan goreng, ikan kuah, colo colo, papeda, sayur-sayuran dan berbagai jenis makanan tradisional lainnya.

Makan patita, biasanya dilaksanakan di hari-hari yang dianggap penting. Misalnya, ulang tahun negeri (desa), ulang tahun gereja atau masjid, bahkan ulang tahun kota ataupun provinsi.

Belum lagi, ada acara makan patita antar keluarga atau marga. Ada juga makan patita antar Soa (kumpulan marga), serta makan patita Pela Gandong.

Bisa dipastikan, siapa pun yang hadir dalam acara Makan Patita itu boleh sesuka hati mencicipi segala makanan yang tersedia.

Lalu siapa yang menanggung makanan sebanyak itu? Dari mana biayanya? Itulah kelebihan orang Maluku yang lebih mengedepankan nilai kekeluargaan.

Biasanya, makanan yang tersedia berasal dari masyarakat sendiri. Masing-masing keluarga sudah diberi tanggung jawab untuk menanggung jenis makanan. Nanti, pada tempat dan waktu yang sudah diagendakan, seluruh keluarga akan membawa makanannya kemudian diawali ritual adat dan doa lantas semua orang boleh makan bersama dan tidak dipungut biaya sepeserpun.

Dalam setahun, masyarakat di Maluku bisa melaksanakan prosesi sampai dua hingga tiga kali. Bahkan, bisa empat atau lima kali juga. Karena itu tadi. Ada acara makan patita antar marga, makan patita hari ulang tahun Negeri, hari ulang tahun gereja atau masjid, hingga hari ulang tahun kabupaten/kota. Belum lagi ada acara makan patita di sekolah, kantor-kantor pemerintahan atau swasta sebagai ungkapan syukur.

Bulan September lalu misalnya. Bersamaan dengan HUT Kota Ambon, digelar acara makan patita di sejumlah ruas jalan raya. Ribuan warga Ambon saat itu tumpah ruah menikmati berbagai suguhan makanan tradisional Maluku. Acara Makan Patita HUT Kota Ambon ke-440 tersebut akhirnya dianugerahi Rekor Muri karena menggelar meja makan sepanjang 2.470 meter yang menghubungkan tujuh ruas jalan di Kota Ambon.

makan patita (1)

Di Negeri Oma (Leparissa Leamahu), sudah berpuluh-puluh tahun tradisi makan patita dilaksanakan setiap awal bulan Januari. Biasanya, tanggal 2 Januari.

Saat itu, hampir semua masyarakat Negeri Oma yang merantau pulang ke kampung dan menikmati acara makan patita. Apalagi, acara tersebut dilaksanakan hanya selang beberapa hari setelah merayakan Natal, kunci taong (akhir tahun) dan tahun Baru. Usai makan patita, malam harinya, mereka mengadakan pesta yang penuh semangat kekeluargaan.

Tetapi, disamping tradisi rutin tiap tahun tersebut, di Negeri Oma juga sering digelar tradisi makan patita secara adat yang dilaksanakan hanya pada waktu-waktu tertentu saja.

Makan patita adat itu dilaksanakan secara sendiri-sendiri oleh empat Soa, yaitu Soa Pari, Soa Latuei, Soa Tuni dan Soa Raja. Masing-masing soa menentukan sendiri waktu pelaksanaan makan patita adat, dan penentuan waktu biasanya terjadi saat acara berbalas pantun di meja patita adat.

Di Negeri Oma ada beberapa Soa. Soa Pari misalnya merupakan kumpulan marga Kaihatu, Sekewael dan Ririasa. Soa Latuei merupakan kumpulan marga Uneputty, Patiata, Tohatta, Lesirollo dan Manusiwa. Soa Tuni merupakan kumpulan marga Haumahu, Hukom dan Wattimena. Sedangkan Soa Raja terdiri dari marga Pattinama, Suripatty dan Patty.

Ada juga dua marga dari Desa Oma yaitu Pattikawa dan Hetharia yang tidak mengikatkan diri secara adat dalam empat soa tersebut, namun mereka juga melakukan kebiasaan seperti empat soa yang lain.

Tradisi Makan Patita Adat di Desa Oma sendiri terbagi menjadi dua yaitu makan patita Marei yaitu Om-Om (paman) memberi makan anak-anak dalam Soa Latuei yang dikenal dengan nama Marei. Om-om yang dimaksudkan adalah orang tua. Dan yang kedua adalah kebalikan dari itu yakni anak-anak yang memberi makan kepada orang tua.

Jadi, pada makan patita adat Marei ini seluruh makanan hingga pelaksanaan acaranya ditanggung oleh para orang tua. Nanti suatu saat anak-anak juga boleh menggelar makan patita adat serupa untuk menjamu orang tua mereka.

Sebelum sampai ke puncak pelaksanaan makan patita adat, biasanya ada prosesi adat yang dilakukan oleh warga Soa di Baileo Kotayasa. Malam sebelumnya telah dilakukan serangkaian acara persiapan yang merupakan kewajiban dari lima orang yang ditunjuk sebagai Kepala Soa yang dinamakan Bapak Lima-Lima.

Itulah sekilas tentang tradisi kuliner di Maluku. Semoga terus dipertahankan karena mengandung banyak nilai kultural dan kekeluargaan. (petra joshua hetharia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s