Ambon SeManis Luka Lama


BERAT bagi beta untuk seng menyertakan Ambon sebagai sebuah peristiwa pendewasaan. Beta jatuh cinta pada kota kecil di kaki Gunung Nona ini, karena pada beberapa derajat, Ambon jauh lebih mendewasakan, lebih mencerdaskan dan membuat beta jadi manusia melebihi apa yang beta pung bapa deng sekolah boleh ajarkan.

Ambon barangkali beta pung mama yang lain. Berkali-kali beta dibuat jatuh cinta, dibuat marah, dibuat kecewa dan patah hati, berkali-kali juga beta dibuat seng berdaya dan bersimpuh diam ketika dunia sudah kepalang talamburang dan ancur lele.

Di Ambon beta menemukan terlalu banyak alasan untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Tentang bagaimana kota ini mengajarkan beta pada persaudaraan dan persahabatan pada titik paling tinggi, juga tentang bagaimana di kota ini beta menemukan orang-orang yang berjasa menjadikan beta seperti sekarang ini.

Manusia-manusia seperti Thamrin Ely, Rudi Fofid, Nus Ukru, Om Eli (Bapa Raja Haruku), Suster Brigita Renyaan, Sandra Lakembe, Ongki Anakoda, Embong Salampessy, Febby Kaihatu dan masih banyak lagi yang menjadi guru sekaligus sahabat yang mengajari beta bagaimana menjalani hidup. Lebih dari itu, Ambon adalah tempat di mana setiap kenangan bermula dan berakhir syahdu.

Tentu saja talalu banyak hal sentimentil yang dapat katong gali dari Ambon. Seperti kehilangan pacar karena disalib teman, kehilangan teman karena ditikung, atau bahkan kehilangan akal sehat karena konflik dan kekerasan yang pernah terjadi bertahun lalu.

Tapi yang membuat Ambon jadi istimewa, selain panggung sastra, hip hop dan kapata, adalah luka lama. Seperti slogan yang sering katong dengar: Ambon Manise.

Ada banyak alasan mengapa mereka yang pernah dan atau tinggal di Ambon susah berpaling dan melupakan kota ini. Ambon terlalu banyak mempunyai huk-huk melankolis yang menjadi hunian kisah cinta yang gagal. Ini saintifik, ilmiah.

Kalau seng percaya, coba tanyakan teman, rekan, atau basudara yang pernah punya hubungan percintaan di Ambon. Mereka pasti akan bilang bahwa tiap sudut kota meninggalkan rindu dendam yang jauh lebih mematikan daripada tertusuk duri babi.

Pernahkah kalian merasakan memandang senja yang beranjak rubuh di Pantai Latuhalat? Memandang matahari turun seraya menikmati sejuk sore di Tugu Cristina Martha Tiahahu?. Berbincang deng nona mata garida yang kalian cintai selama menahun, makan rujak sepiring berdua di Pantai Natsepa atau berenang di pantai Hunimua yang berpasir putih. Ah, mungkin itu cuma beta saja kaapa?.

Tapi ale dong musti yakin, Ambon talalu kacumpit untuk hanya dimaknai sebagai sebuah kota. Ambon adalah peristiwa, di mana masing-masing manusia yang datang ke kota ini mengalami sensasi onosel, ondos deng laipose.

Ambon adalah kesadaran, ia menjadi penting bagi banyak orang karena membuat tiap-tiap yang datang merasa memiliki. Ambon juga pengorbanan, di mana di kota ini, kamu dipaksa menerima fakta perih yang demikian pahit, bahwa sahabat terbaikmu bisa jadi pengkhianat terkeji karena menikung pacarmu atau pernah membakar rumah dan kampungmu.

Di kota ini pula kamu belajar bahwa uang bukan segalanya. Uang mungkin bisa memberimu banyak hal. Tapi di kota ini, persaudaraan dan keberadaan teman yang asyik, seng hal banya dan punya energi iseng yang melimpah-ruah adalah alasan untuk tetap hidup. Di Ambon kalian akan menemukan keriangan-keriangan dungu, tolol, namun dirindukan. Tentang obrolan di tepi pantai, di gunung, warung kopi hingga perihal cerita lucu dan lelucon yang diulang-ulang namun tak pernah kehilangan kelucuannya.

Di Ambon kalian akan merasakan bahwa menjadi bodoh dan tak tahu apa-apa bukanlah pilihan. Di kota ini terlalu banyak sumber pengetahuan yang membuat orang paling goblok, setidaknya, bisa memahami bagiamana menjalani hidup dan menjadi manusia.

Terlampau banyak kantung-kantung kebudayaan dan komunitas anak muda kreatif yang membuat kita cerdas. Terlalu sedikit alasan untuk tidak mendatangi anak-anak Molluca Hip-Hop Comunity, Komunitas Tampayang, Kanal, Bagara Amahusu, TrotoArt, Bengkel Sastra Maluku dan lainnya untuk menjadi pintar karenanya.

Di kota ini makanan murah enak dan nikmat bukan keajaiban. Itu sebuah keniscayaan. Anda akan menemukan nasi kalapa di Batu Merah, nasi kuning bagadang di Raden Panji dengan harga dibawah Rp. 10.000. Belum lagi tebaran penjual sangkola dan ikan goreng di sepanjang jalan Poka dan Rumah Tiga yang menyelamatkan mahasiswa-mahasiswa malas dari kelaparan, juga cakalang fufu yang Tuang Ala sadap lawang. Mereka ada dan tetap alami.

Di Ambon kita merasakan pahitnya pengkhianatan, juga manisnya jatuh cinta. Di kota ini kita merasakan keramahan penduduk yang bersetia pada adat, tapi juga kemarahan dari orang yang mengaku paling beragama. Ambon terlalu manis untuk dilupakan.

Ambon memang luka lama yang talalu manis dan mustahil untuk dilupakan oleh siapa saja yang pernah jatuh cinta padanya.(*)

Penulis: Dino Umahuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s