Ambon, Kota dengan Kualitas Udara Terbaik di Indonesia


JAKARTA– Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menetapkan Kota Ambon masuk dalam Tiga Kota Langit Biru Terbaik kategori kota Sedang/kecil bersama Banda Aceh dan Bengkulu.

Untuk kategori kota metropolitan, ditetapkan Bandung, Surabaya dan Jakarta Pusat. Sedangkan kategori kota besar, Yogyakarta, Tangerang Selatan, dan Denpasar.

Penetapan Kota Ambon sebagai kota sedang/kecil dengan kualitas udara baik, ditetapkan Kementerian LHK lewat program Langit Biru Tahun 2015. Dalam program dimaksud, Kementerian LHK melakukan evaluasi atas kualitas udara perkotaan 45 kota di Indonesia.

Siaran pers Kementerian LHK, Jumat (18/12/2015), menjelaskan pelaksanaan evaluasi kualitas udara perkotaan dilakukan dengan melakukan pengisian formulir data kota disamping kegiatan fisik yang meliputi uji emisi (spotcheck) kendaraan bermotor selama tiga hari yang dilakukan terhadap 500 kendaraan pribadi per hari.

Kegiatan lain adalah pemantauan kualitas udara jalan raya (roadside monitoring) dan penghitungan kinerja lalu lintas (kecepatan lalu lintas dan kerapatan kendaraan di jalan raya) yang dilakukan secara serentak di tiap kota di tiga ruas jalan arteri yang dipilih bersama dan dianggap mewakili kota tersebut.

Disamping itu juga dilakukan pemantauan kualitas bahan bakar di SPBU karena kualitas bahan bakar sangat berpengaruh terhadap emisi yang dihasilkan, semakin baik kualitas bahan bakar, maka semakin sedikit pula emisi berbahaya yang dikeluarkan dari proses pembakarannya.

Program Langit Biru 2015 merupakan upaya untuk menurunkan pencemaran udara dari sektor transportasi guna mendorong peningkatan kualitas udara perkotaan.

Program ini menginisiasi upaya-upaya inovatif untuk program penurunan konsumsi bahan bakar minyak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi khususnya pengurangan penggunaan kendaraan pribadi yang pada akhirnya mengurangi beban emisi sektor transportasi.

Untuk Pengukuran Indeks Kualitas Udara (IKU) hasil sementara dari pengolahan data sebesar 83,53 untuk nasional. Hasil perhitungan IKU sementara ini menggunakan data hasil pemantauan tahap I yaitu pemantauan udara ambien dengan metode passive sampler di 138 kota/kabupaten yang tersebar di 27 provinsi.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan pengukuran kualitas udara sangat penting dilakukan. Menurut dia, pencemaran udara ini bukan hal yang sederhana. Saat ini terdapat sumber-sumber pencemaran yang tetap yang berasal dari rumah tangga, industri dan pemukiman. Sedangkan sumber yang bergerak dari kendaraan bermotor.

“Kalau di negara maju misalnya di Eropa, mereka sangat hati-hati memperhatikan emisi di sektor perhubungan. Di kita yang sedang membangun memperhatikan emisi dari sektor lahan dan hutan,” ucapnya.

Meskipun tidak dipungkiri bahwa masalah pencemaran udara dari sektor transportasi yang dihadapi sekarang ini adalah penurunan kualitas udara terutama di kota-kota besar.

Di kota-kota besar ternyata kontribusi gas buang kendaraan bermotor mencapai 60-70 persen. Sedangkan cerobong asap industri 10-11 persen, sisanya rumah tangga dan lainnya. (petra joshua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s