Provinsi Maluku, Terbaik dan Terburuk di Desember 2015


MENJELANG akhir tahun, atau pada Bulan Desember 2015, pemerintah pusat lewat sejumlah kementerian dan lembaga melakukan evaluasi terkait kinerja pemerintah provinsi-provinsi di Indonesia.

Lantas bagaimana dengan Provinsi Maluku? Berikut rangkuman 3 prestasi yang dicatat Provinsi Maluku yang dirilis ke publik untuk kurun waktu tanggal 1 hingga 18 Desember 2015:

1. Terbaik untuk E-Library

perpustakaanPerpustakaan nasional memberikan penilaian A atau terbaik kepada Provinsi Maluku untuk E-Library dari 15 provinsi di Indonesia.

Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Maluku Femmy Sahetapy pada JumatĀ (18/12/2015) menjelaskan, level A diberikan karena Maluku telah melaksanakan kegiatan yang sejajar dengan program di Perpustakaan Nasional.

Selain itu, seluruh buku yang dimiliki sudah masuk dalam sistem, Pengelolaan, dan sumber daya manusia. Serta alat aplikasi yang diberikan oleh Perpustakaan Nasional semuanya dapat digunakan dengan baik.

2. Peringkat ke-2 Indeks Pembangunan Ketransmigrasian

transmigrasiPemerintah Provinsi Maluku ditetapkan sebagai peringkat ke-2 terbaik dalam Indeks Pembangunan Ketransmigrasian (IPK).

Rencananya, Gubernur Maluku Said Assagaf akan menerima penghargaan tersebut pada 23 Desember 2015 di Jakarta.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Maluku Ahdar Sopalatu, Jumat (18/12/2015) mengatakan pemerintah Provinsi Maluku sudah dua kali mendapat peringkat ke-2 IPK secara naisonal yaitu tahun 2014 lalu dan tahun 2015.

3. Zona Merah (Rendah) dalam Kepatuhan Pelayanan Publik

rsud haulussyProvinsi Maluku ditetapkan sebagai salah satu dari 12 provinsi yang masuk zona merah atau mendapat nilai terendah (terburuk) dalam hal kepatuhan standar pelayanan publik oleh Ombudsman RI. Hasil ini didasarkan atas penelitian di 33 provinsi di Indonesia.

Rilis Ombudsman RI pada 16 Desember 2015 menyebut fokus penelitian menyasar pada pelayanan publik terkait pendidikan, kesehatan, pertanian dan perdagangan.

(petra joshua)

One thought on “Provinsi Maluku, Terbaik dan Terburuk di Desember 2015

  1. Saya, Drs. David G. Manuputty, M.Hum., pekerjaan PNS (aktif) sebagai Peneliti Madya pada Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat. Pada tanggal 09 November 2015 yl, saya bersama anak saya berusia 24 tahun menumpang Batik Air dari AMQ ke UPG dengan nomor penerbangan ID 6169 tgl 09 November 2015; kode booking CWRPMG; mengeluhkan pelayanan di Bandara Pattimura AMQ sbb.
    Saya memang pernah terkena Stroke pada tahun 2010, namun sudah sembuh dan kini masa pemulihan agar kaki dan tangan kanan berfungsi kembali paling tidak 80%. Saya sudah berulang kali melakukan perjalanan lewat udara pasca-Stroke baik untuk dinas atas undangan sebgai pembicara pada seminar berskala nasional ataupun internasional maupun nondinas. Di Bandara Sultan Hasanuddin, Halim Perdanakusuma, dan Soekarno-Hatta, petugas tidak pernah mempermasalahkan kondisi saya; tetapi di Bandara Pattimura petugas sangat arogan, terutama petugas Lion Group (laki-laki, pendek) dan perempuan, salah satunya bernama Grace–bertugas di Gate 4–yang secara arogan menyatakan bahwa ini merupakan ketentuan otonom di Bandara Pattimura, seperti itu, harus lewat karantina, dan kami berhak memutuskan Bapak berangkat atau tidak dan jika tidak berangkat tiket Bapak hangus dan kami tidak bisa dituntut. Situasi demikian tentu saja memicu emosi saya sehingga saya menjadi tontonan umum. Bahkan menyebabkan pula saya ‘ribut’ dengan anak saya tersebut. Petugas Kesehatan datang mengecek tensi saya, dan saya masih disuruh oleh Grace untuk membayar biaya pemeriksaan tetapi saya menolak dan entahlah bagaimana penyelesaiannya.
    Apakah kebijakan AP berbeda-beda, ataukah mereka hanya mencatut nama AP I? Apakah tindakan yang dilakukan Grace dapat dibenarkan.
    Sebagai pengguna jasa, saya menilai kinerja General Manager Angkasa Pura 1 Cabang Bandara Pattmura tidak profesional dlm menyelesaikan masalah ini karena sama sekali tidak menanggapi pengaduan saya dan cenderung ‘melindungi’ oknum2 tersebut. Sudah saya menyurat sampai tiga kali, dan saya pun siap datang ke Ambon bersama konsultan hukum saya atas biaya pribadi demi siri’ (harga diri) saya untuk menyeret Grace dkk yg mencatut nama AP1 tsb dan mencoba mencari keuntungan pribadi (pungli).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s