Jembatan Merah Putih, Icon Baru, Simbol Perlawanan Baru


TAHUN 2015 akan berakhir. Banyak suka dan duka dalam perjalanan hidup manusia. Begitu juga dengan negeri kita tercinta Maluku Manise.

Negeri Raja-Raja ini telah mengalami pasang surut. Ada sisi kelam. Tapi banyak juga sisi manisnya. Yang kelam kita jadikan pelajaran, yang manis kita jadikan sebagai pemicu semangat.

Maluku memang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian pemangku kepentingan di negara ini. Tahun 2015, Provinsi Seribu Pulau ini masih dikategorikan daerah termiskin di Indonesia.

Sebagai anak Maluku, kami sedih dengan status tersebut. Harga diri kami tergores. Negeri kami yang kaya dengan sumber daya alam, telah lama dibiarkan hidup dalam kemiskinan.

Sentuhan pembangunan nasional masih sedikit saja yang orang Maluku rasakan. Padahal, tidak sedikit sumber daya alam dan tenaga yang disumbangkan demi kejayaan bangsa Indonesia.

Tapi sudahlah. Perjalanan waktulah yang akan menjawab semua kekesalan orang Maluku. Yang pasti, orang Maluku tidak pernah patah semangat. Orang Maluku tidak cengeng. Orang Maluku sudah terbiasa dididik dengan semangat berjuang. Semangat Pattimura dan Martha Christina Tiahahu selalu membekas dalam diri kami.

Orang Maluku sudah memberi bukti, bahwa tidak ada yang tidak bisa diselesaikan dalam kehidupan ini. Konflik sosial yang pernah terjadi, justru menjadi pelumas bagi terbangunnya rasa persaudaraan orang Maluku saat ini.

Semangat “ale rasa beta rasa”, “potong di kuku rasa di daging”, “sagu salempeng dipatah dua” kini muncul kembali dan semakin mempererat rasa kekeluargaan kami orang Maluku.

Orang Maluku sudah menunjukkan kepada dunia bagaimana nilai-nilai persaudaraan terjalin ketika menjadi tuan rumah Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Tingkat Nasional 2015 di Ambon. Orang Maluku juga sudah menunjukkan kedamaian saat menjadi tuan rumah Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Ambon.

Tak salah bila Gubernur kami Said Assagaff mendeklarasikan Maluku sebagai laboratorium perdamaian dunia. Itulah kebanggaan yang tengah dibangun kembali oleh kami orang Maluku.

Optimisme yang ditebar pemimpin kami Said Assagaff, adalah refleksi optimisme kami orang Maluku. Karena memang itulah jati diri kami yang sebenarnya sejak masa nenek moyang dulu.

Sekarang ini, menjelang akhir tahun, ada kabar menggembirakan dari Gubernur Said Assagaff tentang akhir dari pembangunan Jembatan Merah Putih. Sebagai orang Maluku, kami menyambut kehadiran jembatan merah putih sebagai Icon baru Negeri Kami Maluku. Jembatan Merah Putih adalah kado pelipur lara kami di akhir tahun ini, saat negeri kami masih terstigma sebagai daerah termiskin.

Kami akan merayakan dengan penuh sukacita kehadiran Icon Jembatan Merah Putih ini pada malam pergantian tahun 31 Desember 2015. Bukan sekedar pamer atau sombong, tapi kami ingin mengirimkan pesan kepada pemerintah pusat, bahwa Maluku masih butuh banyak lagi “Jembatan Merah Putih”.

Masih banyak saudara kami yang hidup terpisah oleh lautan. Untuk menempuh pendidikan mereka harus berjuang, merantau meninggalkan orang tua dan saudara saat usia muda.

Masih banyak masyarakat Maluku yang terisolasi di pulau-pulau terpencil karena keterbatasan transportasi. Mereka akhirnya “tertinggal” dan banyak yang belum merasakan nikmatnya pembangunan.

Kami  tidak mau silau dengan kemegahan jembatan merah putih. Justru kami mau menjadikan kehadiran jembatan merah putih sebagai motivasi melawan  kemiskinan di Maluku.

Mari Basudara… sambut dan jadikan “Jembatan Merah Putih” sebagai icon baru Maluku, sekaligus simbol perlawanan terhadap kemiskinan di Maluku.

Toma Maju…¬†

(Penulis: Suripatty/Warga Sekip, Ambon/anak negeri Leparissa Leamahu)

One thought on “Jembatan Merah Putih, Icon Baru, Simbol Perlawanan Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s