Hikayat Gempa dan Tsunami di Elpaputih – Amahai


PROVINSI Maluku, masuk dalam daerah rawan gempa dan tsunami. Sebab Maluku merupakan pertemuan antar lempeng Eurasia dan Lempeng Australia. Wilayah yang rawan itu di antaranya Ambon, Seram dan Buru.

Fakta kejadian gempa dan tsunami pada 17 Februari 1674 yang dicatat ahli botani Georg Everhard Rumphius, merupakan salah satu rujukan, disamping kejadian-kejadian lain yang bisa terdokumentasi di masa sekarang.

Bahkan  lepas dari fakta tertulis dan yang terdokumentasikan tersebut, di kalangan masyarakat Maluku, hidup juga hikayat  gempa dan tsunami di Teluk Elpaputih, Pulau Seram.

Bencana tsunami Elpaputih terjadi pada Bulan Februari 1899. Soal tanggal tepatnya, ada yang menyebut 28 Februari, namun ada yang menyebut 29 Februari.

Dari cerita Jonas Kaihena,81, tetua adat di Negeri Elpaputihkisah bencana gempa dan tusnami 1899 itu diawali tanah goyang (gempa) terjadi pukul 01.00 tengah malam. Saat itu, sejak sore hingga malam, Negeri Elpaputih disaput mendung.

Dari ruang depan rumahnya, ombak terdengar bergemuruh. ”Lalu, datang ombak besar bergulung-gulung. Ada tiga ombak. Cepat datangnya, orang bangun karena gempa, air sudah di depan mata. Mau lari juga tak akan selamat,” tuturnya.”

Banyak orang hanyut dan tersangkut di atas pelepah sagu. Setelah air surut, daratan di Negeri Elpaputih menghilang. ”Air surut sambil membawa kampung kami dan segala isinya,” ungkapnya.

Sebelum kejadian, jumlah penduduk Elpaputih sekitar 5.000-an orang. Mereka berdiam di 9 lorong di negeri adat itu. Namun setelah kejadian, jumlahnya menyusut tersisa 1.500 orang.

Kengerian yang digambarkan Kaihena tidak berlebihan. Koran Australia, The Brisbane Courier, menulis peristiwa itu pada edisi 1 Desember 1899 dengan judul Banyak Korban Tewas, Gempa Mematikan di Hindia Timur.

“Telegram dari Makassar bertanggal 12 Oktober (1899) menyebutkan, pantai selatan Seram diterjang ombak tinggi (tsunami) dan gempa bumi. Sebanyak 4.000 orang tewas atau hilang, 500 luka. Amahai hancur total”.

Ilmu pengetahuan modern mencatat kejadian di Elpaputih itu sebagai amblesan dasar laut yang disusul tsunami, sebagaimana dicatat Latief Hamzah, Nanang T Puspito, dan Fumihiko Imamura dalam Tsunami Catalog and Zones in Indonesia (2000).

“Bagi kami, itu hukuman. Negeri kami hilang. Raja kami juga hilang. Kami menyebutnya sebagai ‘Bahaya Seram’,” kata Kaihena.

Kisah di Elpaputih juga dialami penduduk Negeri Amahai, Maluku Tengah, yang berjarak 60 kilometer dari Elpaputih. Chrestoffel Soparue,73, tetua adat Amahai, mengisahkan, air laut masuk hingga 200 meter ke darat dan menghancurkan negerinya pada 1899.

Raja Amahai W Hallatu dan Raja Ihamahu W Lisapaly dari Pulau Saparua, yang saat itu sedang berada di Amahai untuk mengambil kayu guna pembangunan gereja di desa beserta 60 warga Ihamahu, turut menjadi korban. Lebih dari 300 orang meninggal.

Kampung Amahai yang ada saat ini, yang dikenal sebagai Amahai Kristen, berjarak sekitar 300 meter dari kampung lama yang tenggelam. Gereja yang ada sekarang dan menjadi pusat kegiatan negeri, menurut Soparue, dibangun di atas lokasi pengungsian saat itu.

Sebagian warga Amahai Islam yang dulu berada di bagian barat Negeri Amahai pindah ke tempat lebih tinggi meski masih di tepi pantai. Dipimpin Raja Amahai Islam, Abdul Latarissa, mereka berpindah sekitar 6 kilometer ke arah timur Negeri Amahai saat ini dan dinamai Negeri Rutah yang merupakan singkatan dari frasa Runtuhan Amahai.

Di belakang kampung itu ada bukit. ”Orangtua kami memilih tempat ini agar mudah lari ke bukit kalau terjadi gempa,” kata Adnan Latarissa (85), tetua adat Negeri Rutah.

Namun, banyak anak muda tidak paham lagi bahaya tsunami di Seram. Bahkan, banyak yang menganggapnya sebagai dongeng. ”Tsunami yang menghantam Aceh tahun 2004 menyadarkan kami bahwa Bahaya Seram itu nyata,” kata Ketua Saniri (Badan Permusyawaratan Desa) Amahai, Benjamin Lasamahu (41).

Untuk mengenang peristiwa yang mengenaskan itu, para tetua Amahai dan Elpaputih setiap tahun menggelar doa bersama. Di Amahai, peringatan dilakukan dengan mengunjungi tugu peringatan Bahaya Seram yang dibangun tahun 1995. “Ini untuk mengingatkan masyarakat agar waspada,” kata Soparue.

Di Rutah, para tetua adat membangun gerbang desa dengan tulisan yang merekam kejadian tsunami dan sejarah negeri. Pintu gerbang ini menjadi penanda terbentuknya Rutah.

Kisah gempa dan tsunami ini bukan terjadi di wilayah yang jauh, tapi di depan mata kita orang Maluku, walaupun itu terjadi ratusan tahun lalu. Hanya bedanya, dulu masyarakat tak bisa melakukan antisipasi lebih jauh karena keterbatasan pengetahuan dan teknologi.

Memang tidak ada yang menjamin Maluku terlepas dari bencana alam sekalipun hanya dalam satu hari. Namun, harus diakui pemerintah sudah baik dalam memfasilitasi mitigasi bencana alam ini, dari badan negara yang menyangkut peringatan dini seperti BMKG dan Badan Geologi Kementrian ESDM, hingga badan negara yang menyangkut penanggulangan bencana alam seperti BASARNAS dan BNPB. (*/petra joshua)

sumber:
1. Ekspedisi Cincin Api Kompas
2. Menilik Potensi Bencana di Ambon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s