Isu Kemiskinan di Maluku dan Blok Masela Dibahas Solidaritas Melanesia


ISU kemiskinan di Maluku, Papua dan Nusa Tenggara Timur, menjadi pokok pembahasan tokoh-tokoh yang tergabung dalam Solidaritas Melanesia Indonesia.

Mereka mendesak pemerintahan Presiden Joko Widodo agar memperhatikan dengan sungguh-sungguh pembangunan di kawasan timur Indonesia.

“Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, 70 tahun juga daerah-daerah di tanah Maluku, Papua dan NTT masuk dalam daerah termiskin dan terkebelakang pembangunannya,” kata Koordinator Solidaritas Melanesia Indonesia, Enggelina Pattiasina, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (29/12/2015).

Apa yang disampaikan Engelina ini, merupakan hasil pertemuan 20 tokoh
masyarakat Indonesia Timur lintas profesi yang mewakili Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan NTT. Mereka yang tergabung dalam 20 tokoh Indonesia Timur itu di antaranya Boetje Baltazar, Prof Nus Saptenno, Dr Alfond Leomau, Dr Ignas Iriantom Roy Simbiak, SH, Amir Hamzah, Dr.Sujud Sirajudin, dan Servas Pandur. Pada Rabu (29/12/2015), ke-20 tokoh ini melakukan pertemuan di Grand Hyaat Hotel, Jakarta.

Menurut Engelina, kemiskinan dan ketertinggalan dalam pembangunan ini sangat menyakitkan hati masyarakat Indonesia Timur, karena seharusnya kawasan timur Indonesia mendapat perlakuan yang sama dengan daerah lain di Indonesia.

Para tokoh juga mengemukakan wacana terkait pengembangan blok Masela. Mereka mendesak Presiden Joko Widodo agar memutuskan pembangunan kilang gas Blok Masela di daratan, (Onshore LNG) bukan di lautan.

Pertimbangannya, pembangunan di daratan, dirasa akan banyak manfaat baik bagi masyarakat Maluku maupun masyarakat di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste. Sebaliknya jika kilang gas dibangun di lautan lepas, maka dampak ekonomi bagi masyarakat tidak ada.

Selain itu, Presiden Jokowi juga didesak untuk melibatkan masyarakat adat/asli atau indigenous people, dalam setiap pengambilan keputusan terkait pemanfaatan sumber daya alam (SDA).

Sebab, banyak SDA terletak di tanah-tanah adat. Dengan demikian pelibatan masyarakat adat ini akan ikut mengubah nasib masyarakat asli, dan pada sesungguhnya menguatkan bargaining Kepala Negara dalam menghadapi korporasi asing.

Sementara, Nus Saptenno mengatakan, kawasan Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT merupakan simpul strategis sumber daya alam kawasan timur. Sekira 68 persen kekayaan negara berasal dari sumber daya alam.

Tokoh lainnya, Alexis Adu menegaskan, jika desakan dari Solidaritas Persaudaraan Melanesia Indonesia ini ditolak, dipastikan semua tokoh menyatakan kecewa. “Buat apa kami bergabung dengan NKRI, jika hak hak kami untuk maju dan sejahtera terus diabaikan. Sudah 70 tahun merdeka, kawasan timur yang kaya dibiarkan miskin,” ujarnya. (avp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s