Menenun Persaudaraan dalam Bingkai Komunitas ASEAN 2016


BANGSA Indonesia kaya dengan ragam budaya. Berbagai jenis tarian, nyanyian, musik, makanan tradisional dan juga kain-kain adat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke menjadi bukti.

Keragaman budaya bangsa tentu harus terus dipelihara oleh para generasi muda. Bersama pemerintah, generasi muda perlu memperkenalkan budaya bangsa kita kepada masyarakat dunia, khususnya ASEAN. Senan tahun 2016 ini komunitas masyarakat ASEAN telah diberlakukan. 

Menurut Koentjaraningrat, kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta boddhayah, sebagai bentuk jamak dari buddhi yang berarti akal. Dengan peran akal inilah manusia berupaya memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi di sekitarnya dengan tujuan agar dapat terhindar dari persoalan-persoalan itu.

Salah satu dari upaya itu adalah membentuk suatu tatanan sosial yang berlandaskan pada azas kebersamaan dan persaudaraan. Semangat kebersamaan dan persaudaraan yang terkandung dalam nilai-nilai budaya bangsa kita adalah suatu harta yang tak ternilai harganya.

Terbentuknya Masyarakat ASEAN dilandasi juga dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan itu. Namun, untuk mewujudkannya bukan merupakan hal mudah. Karena itu, sebagai generasi penerus bangsa kita perlu memainkan peran penting demi terwujudnya rasa kebersamaan dan persaudaraan di kawasan ASEAN.

Nilai-nilai budaya masyarakat Maluku seperti ungkapan ale beta rasa, ain ni ain, pela gadong, atau potong kuku rasa di daging sangat sejalan dengan kerjasama sosial-budaya yang menjadi salah satu titik tolak utama untuk meningkatkan integrasi ASEAN demi terciptanya ”a caring and sharing community” yaitu sebuah masyarakat ASEAN yang saling peduli dan berbagi.

Saling peduli dan berbagi ibarat menenun sebuah kain adat di mana harus memiliki pengetahuan dan pengalaman merangkai warna-warni benang itu. Begitu juga dengan hasrat (desire) untuk memperkokoh rasa ke-kita-an dan solidaritas sesama warga ASEAN. Karena itu, sangat diperlukan pengetahuan dan pengalaman merangkai segala perbedaan yang ada agar bisa menjadi seperti sebuah kain tenun yang indah.

Pengetahuan dan pengalaman itu dapat kita peroleh dari nilai-nilai budaya bangsa kita dan nilai-nilai budaya negara-negara di kawasan ASEAN. Perbedaan-perbedaan budaya itu sekiranya dapat saling bersinergi untuk menciptakan iklim kehidupan yang lebih baik lagi di kawasan ASEAN.

Kini saatnya keragaman budaya bangsa kita berupa nyanyian, tarian, puisi, teater rakyat, kain adat, makanan tradisional harus dipelajari dan diperkenalkan pada masyarakat di kawasan ASEAN. Ruang dialog mengenai budaya harus dibuka seluas-luasanya, agar tantangan dan hambatan yang muncul dapat diatasi bersama-sama. Karena di satu sisi nilai-nilai budaya mampu mempererat kembali hubungan masyarakat yang terkotak-kotak akibat kepentingan ekonomi dan politik yang dapat terjadi selama ini.

Sebagai generasi muda kita harus tunjukan pada negara-negara di kawasan ASEAN bahwa kita adalah bangsa yang memiliki peradaban yang luhur. Dan kita siap bersama-sama dengan negara-negara ASEAN lainnya mewujudkan rasa kebersamaan dan persaudaraan di kawasan ASEAN.

Penulis:  Julius Russel
Etnomusikolog, Alumnus Institut Kesenian Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s