Abdau, Tradisi Masyarakat Tulehu Memperingati Idul Adha


SALAH satu putra Maluku Eddie Liku (Likumahua) tertarik dengan tradisi budaya Abdau di Negeri Tulehu, Maluku Tengah. Dia kemudian membuat film pendek berdurasi 3 menit 9 detik yang mengisahkan  Karnaval Budaya Abdau pada Idul Adha (Hari Raya Qurban) 1436 H, 24 September 2015 lalu dan meng-upload-nya ke You Tube pada Rabu (13/1/2016).

Eddie Liku memberi judul postingan videonya itu “Karnaval Budaya; Abdau 2015, Tulehu, Maluku Tengah”. Dia mengabadikan bagaimana suasana gembira dan dramatiknya masyarakat Tulehu yang dikenal religius itu memperingati Idul Adha.

Mengutip rilis Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Maluku, Abdau sudah menjadi salah satu aset budaya di Maluku. Tradisi tahunan  ini ditandai dengan ratusan pemuda dengan sekuat tenaga memperebutkan sebuah bendera bertuliskan dua kalimat Syahadat  untuk dicium sebagai perlambang kekuatan dan keteguhan pemuda dalam memperjuangkan ajaran Islam.

Bendera hijau berenda benang kuning emas itu diikatkan ke tongkat bambu sepanjang 2 meter. Warna hijau melambangkan kesuburan, warna kuning emas melambangkan kemakmuran.

Rebutan bendera ini dilakukan sambil mengelilingi negeri hingga berakhir di Masjid Raya Negeri Tulehu. Selain atraksi Abdau, dalam setiap peringatan Idul Adha juga ditandai sejumlah atraksi seperti debus, ilmu alfitrah, tarian sawat, tarian ma’ateru atau cakalele dan sejumlah atraksi budaya lainnya.

Sebagian pemuka adat dan agama di Tulehu mengatakan, tradisi Abdau berasal dari kata abada yang artinya ibadah. Secara harfiah, Abdau merupakan sebuah pengabdian seorang hamba kepada Sang Pencipta. Asal usul tradisi Abdau diperkirakan dimulai sekitar tahun 1500 Masehi, seabad setelah masuknya Islam ke Tanah Hitu atau Jazirah Leihitu.

Abdau diselenggarakan secara rutin setiap Idul Adha karena dua alasan. Pertama, Abdau merupakan refleksi nilai sejarah yang terinspirasi dari sikap pemuda Ansar yang dengan gagah dan gembira menyambut hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristwa itulah yang mengawali penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Alasan kedua, Abdau merupakan refeksi dari masyarakat Tulehu tempo dulu yang hidup berkelompok di hena-hena (kampung-kampung kecil) di antara Gunung Salahutu hingga bukit Huwe, yang belum mengenal agama samawi. Mereka menyambut para ulama yang membawa ajaran agama Islam dengan rasa syukur, ikhlas, dan gembira. Masuknya Islam ke Tanah Hitu, khususnya Uli Solemata di bagian timur Salahutu adalah sebuah proses perubahan peradaban manusia menjadi lebih baik.  (petra josua)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s