Memaknai Alat Musik Tifa dari Kepulauan Maluku Tenggara


Tifa adalah alat musik tradisional yang sudah digunakan sejak lama oleh masyarakat Kei di kepulauan Maluku Tenggara. Secara organologis tifa tergolong alat musik membranofon, karena sumber bunyi tifa dihasilkan dari kulit kambing yang dipasang pada tubuhnya. Klasifikasi ini ditinjau secara organologis menurut Curt Sach dan Horn Bostel.

Tifa dibuat dengan ukuran bagian atas lebih besar dari bagian bawahnya. Bagian atas ditutupi dengan kulit kambing yang ditarik kencang dengan menggunakan tali rotan dengan beberapa potongan kayu kecil yang disebut badeng. Sedangkan bagian bawahnya dibiarkan terbuka begitu saja. Tubuh tifa terbuat dari pohon sukun atau pohon eh dengan ukuran bentuk dan tinggi yang bervariasi.

Cara memainkan tifa dengan kedua tangan atau menggunakan sebuah alat pemukul. Alat pemukul tifa terbuat dari bahan pelepah pohon kelapa, rotan, dan gaba-gaba. Dengan ukuran panjangnya sekitar 60-100 cm. Gaya atau pola yang dimainkan disesuaikan dengan jenis-jenis ragam nyanyian dan tarian adat Kei.

Tifa sebagai bagian dari musik etnis yang berkembang di kepulauan Maluku Tenggara memiliki beberapa fungsi. Seperti yang dijelaskan oleh Alan. P. Merriam dalam bukunya yang berjudul “The Antropology of Music” bahwa musik etnis memiliki beberapa fungsi penting dalam masyarakat yaitu, sebagai kenikmatan estetis, ekspresi emosional, hiburan komunikasi, dan penyelenggaraan kesesuaian dengan norma-norma sosial dan pengintegrasian sosial.

Salah satu jenis musik etnis yang menggunakan tifa dalam rangka menyampaikan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan atau pengintegrasian sosial adalah wawar kerbau siuw. Jenis musik etnis ini sering dilantukan dalam pertunjukan tiva det tel. Ekspresi pukulan tifa yang penuh penghayatan dan suara para penyanyi yang saling bersahut-sahutan mengungkapkan semangat Ain ni Ain masyarakat yang mendiami kepulauan di Maluku Tenggara itu.

Tifa juga mengiringi para penyanyi ketika membawakan snehat, ngel-ngel, macelel, he he ho ho, dan tarian adat sawat dan beben forsokat. Selain tifa instrumen pendukung lainnya adalah gong kecil dan sawerngil.

Tifa, gong kecil dan sawerngil yang mengiringi tarian dan musik etnis yang terdapat di kepulauan Maluku Tenggara merupakan bentuk-bentuk seni pertunjukan yang berkembang di lingkungan etnik di Indonesia. Seni pertunjukan tradisional ini bertugas menyampaikan sejumlah gagasan, informasi, opini yang disampaikan dalam bentuk lisan, tulisan, dan bahasa isyarat. (*)

Penulis: Julius Russel, Etnomusikolog
Alumnus Institut Kesenian Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s