Kampung Ambon; Kisah Kelam Masa Lalu yang Masih Membekas


satumaluku.com- Cerita tentang Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat, menarik ditelisik kembali menyusul penggerebekan ratusan aparat kepolisian bersenjata lengkap, Sabtu (23/1/2016) lalu.

Lepas dari hasil dan motif penggerebekan, tindakan ratusan polisi terbilang surprise karena sudah lebih dua tahun Kampung Ambon tak lagi digerebek personil dalam jumlah banyak.  Tetapi memang, Kampung Ambon punya kisah kelam di masa lalu dan banyak yang mafhum tentang itu. Berikut sekelumit kisah kampung di barat Kota Jakarta ini:

Dari Kampung Rawa, Jadi Kampung Narkoba

Kampung Ambon, sejatinya bernama Kompleks Permata, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Nama Kampung Ambon lebih disebabkan oleh sebutan warga Jakarta lantaran para penghuni perumahan tersebut adalah orang-orang Maluku.

Warga Maluku ini merupakan keturunan para mantan tentara Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL) atau Batalion X bentukan Belanda saat Perang Djawa (1825-1830). Lokasi markas Batalion X ini dulu berada di lokasi Hotel Borobudur.

Saat masa penjajahan Jepang, 1942 -1945, para mantan tentara KNIL beserta keluarganya dipindahkan ke sejumlah sekolah bangunan Belanda yang ditutup oleh Jepang.  

Saat itu Sekolah Dokter Djawa di STOVIA sudah pindah ke Jalan Salemba. Pada 1942 Gedung Utama STOVIA sudah berubah menjadi Algemeene Middelbare School (AMS)-kini jadi museum.

Sementara itu, dua gedung lain dipakai Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)-kini SMAN PSKD 1. Satu gedung lagi digunakan Darde School-kini SDN 03 Senen. Gedung-gedung ini berdiri sejajar di Jalan Kwini, Senin, Jakarta Pusat.

Semua kisah ini masih ingat betul di ingatan seorang Kepala Keamanan Sekolah PSKD 1, Jakarta Pusat, Raymond Raymondus Saru (69), ayahnya Prajurit KNIL asal Timor.

Menurutnya, pasukan eks Batalion X dipindah ke enam lokasi berbeda. Prajurit Maluku pindah ke gedung AMS, Darde School, dan MULO. Sementara itu, prajurit Timor pindah ke sebuah bangunan berstatus Eigendom Verponding, sejajar dengan STOVIA dan MULO. Lalu, prajurit eks KNIL Manado pindah ke Jalan Kramat VII.

Adapula prajurit yang pindah ke Berland dan Polonia Kamp. Letak Polonia Kamp sekarang berada di samping Gereja Vincentius, Jakarta Timur.

Tiga dekade kemudian, tepatnya pada Maret 1973, Gubernur Ali Sadikin memindahkan keluarga pasukan eks KNIL Maluku ke Kedaung Kaliangke (Kampung Ambon). Saat itu Pemprov DKI memindahkan 196 kepala keluarga atau sekitar 1.000 jiwa. Pemindahan itu terjadi mulai 25 Maret 1973. Lokasi perumahan yang mereka tinggal masih berbentuk rawa-rawa.

Ada sebagian warga yang memilih pulang ke Ambon atau memilih pergi dari tempat itu karena rumahnya terbuat dari kayu dan tripleks, seperti bedeng-bedeng, berjejer rapi dan belum dialiri listrik. 

Masa awal kepindahan warga Ambon di Kompleks Permata, kejahatan yang muncul adalah pemalakan. Kondisi ini terus berlangsung hingga tahun 1990-an.

Perjudian sabung ayam juga sempat tenar pada periode 1990 ke atas. Dahulu polisi sering kali menggerebek judi sabung ayam. Belakangan, narkoba muncul.

Kawasan perumahan yang ditinggali sekitar 2.000 keluarga itu memang sempat dikenal sebagai “surga” peredaran narkoba. Di tempat itu, narkoba dijual secara besar-besaran meski tetap tertutup.

Saat Kapolda Metro Jaya dijabat Inspektur Jenderal Untung Suharsono Rajab, pada akhir 2011 lalu, operasi besar-besaran pernah dilakukan di Kampung Ambon. Sekitar 500 personel tim terpadu dari Polda Metro Jaya, Bareskrim Mabes Polri, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Pempov DKI Jakarta menggerebek lokasi tersebut.

Dari operasi ini, kepolisian menyita 6.531 butir ekstasi, 4 ons sabu, 4 pucuk senjata api, 50 gram heroin, 15 pucuk senjata tajam, 4 kilogram ganja, 600 butir happy five, 1.000 bong, dan uang tunai Rp 218 juta.

Selain itu, 30 lapak berupa rumah dan warung juga disegel lantaran kedapatan menjual narkoba. Sebanyak 53 pelaku yang kedapatan ada narkoba juga diamankan dan langsung menjadi tersangka. Para pemakai narkoba banyak yang kedapatan sedang mengonsumsi barang terlarang di ruangan khusus yang ada di rumah-rumah tersebut.

Polisi juga menemukan mesin hitung dan timbangan untuk transaksi narkoba di rumah-rumah. Alat-alat ini bahkan tidak hanya ditemukan di rumah, tetapi juga di warung kecil di sekitar wilayah itu.

Di sejumlah rumah, ada ruangan khusus untuk mengonsumsi narkoba. Jadi, kalau mau beli dan makai, bisa langsung masuk di situ. Di sana juga ada tabel harga dan jenis barangnya apa dipampang. 

2 thoughts on “Kampung Ambon; Kisah Kelam Masa Lalu yang Masih Membekas

  1. As salamualaikum wahai pejuang fi sabilillah, bibarkatillah ala jundullah
    Salam kenal dari ku al faqir ilallah baru kemarin ku tatap semangat jihad saudara saudaraku di ambon,mengenang kembali mereka yg ikhlas mati di jalan allah. Semoga mereka kekal hidup dsisi allah. Peristiwa ini bakal berulang wahai saudaraku,pasti .sesungguhnya nyawaku di dalam genggamannya. Kami siap membantu kalian seperti al mawla pati unus membantu pertahankan islam di tanah airku melaka.

    Salam perjuangan
    Al faqir ilallah kekanda zul al namir dari batalion singa raja malaysia
    +60175204163

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s