Kilas Jejak Masa Lalu Warga Tionghoa Maluku


satumaluku.com- Masyarakat Tionghoa sudah lama menjadi bagian dari peradaban sosial, budaya dan ekonomi di Maluku. Mereka diyakini turut andil merubah perilaku masyarakat pribumi Maluku, terutama dalam hal perdagangan hasil bumi dan laut sejak dulu.

Sampai saat ini, belum ada fakta sejarah kapan masyarakat Tionghoa mulai tinggal dan beranak pinak di Provinsi Maluku. Namun, Elifas Tomix Maspaitella, salah satu tokoh muda Gereja Protestan Maluku (GPM) yang kini menjabat sebagai Sekretaris Umum Sinode GPM, mensinyalir keberadaan orang-orang Tionghoa di Maluku sudah ada sebelum masuknya bangsa Eropa.

Bahkan ketika bangsa Eropa fokus pada perdagangan rempah-rempah, beberapa data juga menyebut bahwa pedagang Tionghoa kemudian membeli tanah dari penguasa-penguasa setempat untuk melakukan berbagai usaha mereka di bidang ekonomi; terutama ketika ditemukan pula adanya produk lain yang laku di pasar Eropa seperti teripang, sirip ikan, mutiara, merica, dan lain sebagainya.

Richard Chauvel berhasil memberi petunjuk jejak Tionghoa dengan memberi data statistik tahun 1930. Saat itu, jumlah orang Tionghoa di Kota Ambon berjumlah 1.869 orang. Sedangkan di Pulau Ambon jumlah orang Tionghoa mencapai 310, di Saparua 359 orang. Di Kota Ambon warga Tionghoa umumnya tinggal di kawasan Pecinan yang kini berada di Jalan AY Patty dan Jalan Sam Ratulangie.

Sama seperti saat ini, sejak dulu, orang Tionghoa di Maluku, termasuk Ambon, mengontrol sistem perdagangan lokal dan antarpulau di dalam kawasan-kawasan yang kecil seperti Lease. Hampir setiap negeri, bahkan yang sulit dijangkau oleh transportasi laut sekalipun, sudah dijumpai adanya ‘Toko China’.

Mereka terlibat aktif dalam perdagangan berbagai hasil alam, hasil kebun, hasil laut, dan juga penjualan barang kelontongan seperti pakaian, nampan, piring, gelas, muk/cangkir, dan lain sebagainya. Secara sosiologis kemudian muncul sebutan seperti “China Saparua”, “China Dobo”, “China Ambon”, “China Banda”, dan lain sebagainya.

Dalam tulisannya, Maspaitella yakin, bahwa orang Tionghoa lah yang memperkenalkan sistem perekonomian baru bagi masyarakat Maluku. Beberapa hal yang diperkenalkan mereka antara lain perdagangan antarpulau suatu jenis usaha baru yang bisa disebut mendorong orang Lease keluar dari pulau-pulau mereka dan mulai berdagang di pulau lainnya.

Bahkan sistem ‘papalele’ juga adalah suatu model kerja baru yang turut dipengaruhi oleh gaya berdagang orang Tionghoa. Mereka juga memperkenalkan sistem jual-beli dengan menyertakan uang atau barang berharga, dan manajemen pascapanen dalam bentuk ‘simpan uang’.

Dalam kehidupan sosial keagamaan, orang-orang Tionghoa Maluku cenderung memilih agama Kristen sebagai agama yang dianut. Salah satu jejak sejarah Kristen Tionghoa Maluku masih bertahan hingga saat ini yakni keberadaan dari Jemaat Gereja Hok Im Tong Ambon.

Website resmi Jemaat GPM Hok Im Tong, menjelaskan jemaat ini terbentuk sekitar tahun 1930 dengan nama “Djoem’at Hok Im Tong, Majelis Injili Tionghoa” atau kemudian menjadi “Djama’at Hok Im Tong, Gereja Protestan Tionghoa”. Hok Im Tong artinya : rumah kabar kesukaan (rumah injil).

Jemaat Hok Im Tong adalah sebuah jemaat yang terbentuk dari hasil pekabaran Injil dan pelayanan dari orang-orang Kristen Toinghoa, para penginjil dan para pendeta, baik yang berasal dari Tiongkok dan daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Malang, dan lain-lain, maupun dari Maluku sendiri (GPI/GPM).

Orang-orang Kristen Tionghoa yang terlibat secara langsung dalam proses pekabaran Injil dan pendirian jemaat ini antara lain Wah Song (Kong A Yap), Nio Kie Tjing, Wah Fong (Kong A Sui),  Sie To Tjing, Tjing A Beng.

Tahun 1931, Pendeta Thiang Tjin Tji ditugaskan sebagai Penghentar Jemaat yang bekerja sama dengan Pendeta Emeritus. A. Matatula, Bpk. J. Pattiselano, Bapak Williams Daniel, Bapak N.  Huwae, dan lain lain. Tahun 1936, jemaat sudah mempunyai pengurus Jemaat (Majelis Jemaat), dan peraturan-peraturan khusus jemaat serta berada di bawah perlindungan dan pelayanan GPM. Dalam perayaan hari-hari raya gerejawi, ibadah jemaat sering dihadiri oleh 2 orang Majelis Jemat Bandar Ambon.

Saat perang dunia kedua, anggota jemaat Hok Im Tong banyak melarikan diri dan terpencar-pencar. Sesudah tahun 1945, angota-anggota jemaat Hok Im Tong mulai kembali ke rumah mereka masing-masing, berkumpul dan beribadah bersama di rumah sederhana yang disediakan Bapak Liem Tjong Kie dan keluarganya.

Sesudah peristiwa G30 S pada tahun 1965, timbul situasi politik yang melarang segala bentuk budaya dan bahasa Tionghoa di Indonesia. Karena itulah, Jemaat Hok Im Tong mengubah namanya menjadi Jemaat Bethlehem pada tahun 1968.

Dalam perkembangannya, terjadi dinamika dalam Jemaat Hok Im Tong. Namun, sejak tahun 1970 hingga sekarang, Jemaat Bethlehem dipimpin oleh pendeta-pendeta dari GPM dengan SK BPH Sinode.

Pada 31 Maret 1975, dibongkar gedung gereja lama dan dibangun sebuah gedung gereja baru atas prakarsa Hengky Theodorus serta rekan-rekan. Kemudian difungsikan pada tahun 1977. Pada tahun 1997-1998, atas partisipasi jemaat dibangun pula sebuah gedung serbaguna dan dua buah pastori di Jalan Setia Budi. Gedung Serbaguna inilah yng dijadikan tempat Ibadah Jemaat Berthlehem hingga saat ini.

Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy beberapa waktu lalu menyampaikan apresiasi atas partisipasi luar biasa warga Tionghoa dalam memajukan perekonomian di Ambon. Menurut dia, perekonomian kota Ambon yang semakin berkembang juga tak lepas dari kerja keras warga Tionghoa. (jeremi aldo/warga Maluku tinggal di Jakarta

sumber: 

  1. kutikata.blogspot.co.id
  2. ho-kim-tong.com/sejarah hok im tong ambon/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s