Bara Pattiradjawane; Lahir di Jakarta, Sekolah di Luar Negeri, Tapi Cinta Maluku


satumaluku.com- Bara Pattiradjawane, adalah salah satu sosok anak Maluku yang membanggakan. Lahir di Jakarta, bersekolah di berbagai negara, bahkan nyaris jadi diplomat, namun Bara tetap tidak melupakan jati dirinya sebagai Putra Maluku.

Faam (marga) Pattiradjawane yang melekat pada dirinya, selalu membuat dirinya bangga sebagai orang Maluku. Salah satu faktanya, adalah dengan kesediaannya menerima “tugas” sebagai  Duta Kuliner Ambon, oleh Pemerintah Kota Ambon.

Bara lahir di Jakarta 9 Juli 1964. Wajahnya akrab di antara pemirsa televisi sebagai bintang iklan keju, dan host acara masak-memasak bertajuk gula-gula di Trans TV. Punya paras ganteng khas Maluku membuat Bara Pattiradjawane semakin dikenal oleh masyarakat.

Tak hanya panadai memasak, Bara telah menulis beberapa buku memasak antara lain Puding Dalam Gelas, Creative Cooking Strawberry, Creative Cooking Apel, Creative Cooking Jeruk, Masak Seru Bareng Si Tukang Masak dan Catatan Dari Balik Dapur Si Tukang Masak.

Pada 1995, dia terjun sebagai pengusaha dengan membuka restoran yang dia beri nama GulaGoela.

Nyong Ambon  ini sudah lihai dalam urusan kuliner sejak umur 13 tahun. Dia terlahir sebagai anak bontot dari tiga bersaudara, pasangan Rose Lintong dan L. Pattiradjawane. “Saya dilahirkan di keluarga Ambon dan Manado, dan kultur kami di sana adalah makan,” ujar Bara.

Pria yang pernah mengambil kuliah jurusan Hubungan Internasional di salah satu universitas di Austria ini memang awalnya bercita-cita jadi diplomat. Sang ayah bekerja di Departemen Penerangan pada masa pemerintahan Orde Baru. Karena pekerjaannya itu, membuat keluarganya sempat tinggal di berbagai negara.

Umur tiga bulan ia dan keluarganya sudah diboyong untuk tinggal di Bangkok, Thailand selama tiga tahun.  Setelah itu, pindah tugas ke Jerman Barat karena sang ayah ditugaskan di sana selama tiga tahun.

Dari Jerman, Bara dan keluarga kembali ke Indonesia. Sampai kemudian sekitar tahun 1976 ayah Bara ditugaskan ke Belanda. Akhirnya mereka sekeluarga diboyong ke Belanda dan tinggal cukup lama di Negeri Kincir Angin.

Pada saat tinggal di Belanda inilah Bara tumbuh dan berkembang dan suka berkutat di dapur seperti sekarang ini. Pasalnya, selama tinggal di Belanda keluarganya tidak memiliki pembantu. Ayah dan Ibu mendidik anak-anak nya termasuk bara untuk bisa mandiri sejak dini. Semua harus dikerjakan sendiri, termasuk menyiapkan makanan. Hobinya memasak juga timbul ketika tinggal di Belanda.

Memasuki usia sekolah, orangtua Bara Pattiradjawane memasukkan nya ke sekolah Indonesia, bukan sekolah Belanda ataupun sekolah Internasional. Sekolahnya ada di kawasan Wassenaar, Belanda. Sekolah ini kecil sekali, muridnya sedikit. Mungkin satu kelas hanya memiliki empat sampai enam murid saja. Total murid SD, SMP, dan SMA hanya 150 orang.

Tahun 1980 Bara Pattiradjawane meneruskan kuliah di Wina, Austria. Ia mengambil kuliah di Jurusan “International Relations” di Webster University karena pada saat itu ia ingin menjadi seorang diplomat seperti sang ayah. Sebagai seorang anak diplomat, pasti akan cepat diterima karena dianggap sudah berpengalaman dan memiliki kemampuan bahasa asing yang baik.

Lulus kuliah Hubungan Internasional pada tahun 1987, Bara Pattiradjawane langsung melanjutkan kuliah di Parsons School of Art And Design di Paris, Perancis. Itu salah satu bukti, bahwa Bara sejatinya memiliki banyak ketertarikan yang sangat kontras, dari politik bisa berubah drastis ke seni dan desain.

Ia memilih sekolah itu karena itu merupakan sekolah ternama. Banyak perancang terkenal jebolan Parsons, di antaranya Donna Karan dan Calvin Klien. Namun sayang, ia tidak menyelesaikan kuliah nya di Paris karena sudah kembali ke Indonesia.

Awal tinggal di Jakarta, Bara mendapat tawaran kerja di perusahaan modelling asal Singapura. Bara saat itu ditunjuk menjadi perwakilan perusahaan di Jakarta. Padahal ia buta soal dunia modelling di Indonesia. Pada awal kariernya ia bolak balik Jakarta–Singapura untuk belajar.

Bara Pattiradjawane bekerja di perusahaan modeling dari kurun waktu 1991-1997. Keputusan nya berhenti dari dari pekerjaannya adalah karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada saat itu. Bara akhirnya berhenti bekerja dan memutuskan terjun 100 persen ke dunia dapur.

Tahun 2004, Bara Pattiradjawane ditawari menjadi kolumnis soal kuliner di majalah buatan sebuah mall besar di Jakarta Selatan. Setahun kemudian, profilnya ditulis dalam rubrik profil di majalah tadi. Nah, dari profil majalah itulah datang produser Trans TV, Rima Cynthia yang membaca profil Bara.

Mei 2004, Rima Cynthia menghubungi untuk menjadi bintang tamu di acara Dorce Show. pada bulan Juni 2004, ia diundang lagi karena ibu-ibu senang dengan penampilan Bara di Dorce Show. Akhir Juni 2004, Bara akhirnya ditawari untuk dibuatkan acara sendiri di Trans TV.

Pada bulan Juli 2004, Rima menelepon dan mengatakan pada Bara bahwa programnya siap tayang. Program masak yang Bara bawakan diterima manajemen Trans TV hingga mendapat izin syuting dan on air. Yang hebat, tayangan perdana Gula Gula (GG) mendapat share 9, Artinya, banyak disuka dan ditonton pemirsa televisi. Selain acara Gula-Gula, Bara Pattiradjawane juga sempat mengisi acara di Trans7 dengan tajuk “Bara Supercook”.

Tidak hanya di Trans TV, Bara juga menjadi host Dare To Cook With Bara di Kompas TV dan Junior MasterChef Indonesia 2 (RCTI).

Kini di tengah berbagai kesibukannya, Bara menjadi Duta Kuliner Ambon. Semoga kuliner Ambon makin mendunia.  (*)

sumber: wikipedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s