Penyelundupan Batu Cinnabar di Ambon dan Satwa di Morotai Digagalkan


satumaluku.com- Dua kasus penyelundupan di Maluku dan Maluku Utara, yakni batu cinabar atau dikenal dengan nama lain Mercury Sulfide dan satwa liar diamankan aparat berwenang.

Pengamanan penyelundupan ratusan karung Batu Cinnabar diamankan di Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah oleh anggota TNI dari Satgas Pam Rahwan Maluku Yon Armed 12/Kostrad pimpinan Lettu Arm Jamaluddin, pada pekan lalu. Sedangkan penyelundupan satwa diamankan Tim gabungan dari pemerintah Kabupaten Pulau Morotai bersama anggota Polsek dan Kejari Morotai di Maluku Utara.

Dikutip dari kostrad.mil.id, awalnya, Lettu Arm Jamal mendatangi Negeri Kaitetu setelah mendengar informasi adanya beberapa orang yang mengangkut batu di tepi pantai. Kemudian setelah pengecekan, dipastikan bahwa itu adalah sebuah batu Cinnabar atau Merkuri yang ilegal.

Batu itu diamankan di salah salah satu rumah warga bernama Hasan Bugis. Kemudian diteruskan ke pihak kepolisian di Polsek Leihitu. Barang-barang ini sempat diamankan di Polsek bersama pemiliknya.

Setelah diinapkan semalam, hasil tambang ilegal dan pemiliknya digiring ke Mapolres Ambon guna ditindak lanjuti. Hasilnya, Sriyono pria yang berasal dari pulau Jawa ini, ditetapkan sebagai tersangka.

Sriyono, saat ditanya-tanya, soal barang miliknya yang disita polisi itu menyangkal kalau itu batu Cinnabar. Dia menyebutnya batu galena. “Itu batu galena, bukan Cinnabar. Di dalam batu ini terkandung unsur timah hitam, belerang,” kata Sriyono.

Dia mengaku, batu-batu yang mengandung mineral ini akan dibawa ke Jawa untuk dijual. Harganya sekitar 10-15 ribu per kilo, jika dipasarkan di Jawa. Dia membelinya dari Negeri Luhu, Kecamatan Huamual, per kilo dengan seharga Rp5 ribu.

Ditanya kenapa tidak membeli batu Cinnabar, dia mengakui anggarannya terbatas. ”Uang saya tidak cukup untuk membeli Cinnabar, karena Cinnabar harganya bisa mencapai 75 hingga 80 ribu rupiah per kilo,”katanya.

Sementara itu, Tim Gabungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai bersama anggota Polsek dan Kejari Morotai di Maluku Utara menangkap seorang pelaku penyelundup satwa di Morotai bernama Ani Serapung.

“Pelaku penyelundupan satwa yang dilindungi jenis burung kakaktua sebanyak ratusan ekor yang digerebek tim Polsek Morotai Selatan dan Kejaksaan Negeri di tempat penampungan Desa Darame Kecamatan Morotai Selatan ini sudah dipanggil pihak kepolisian dan statusnya masih wajib lapor,” kata Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Pulau Morotai Muslim Jumati ketika dihubungi dari Ternate, Kamis, dilansir Antara.

Dia mengatakan, burung itu diambil dari wilayah Morotai dan Loloda, dan dari hasil koordinasi dengan pihak kepolisian ratusan burung kakaktua itu akan dikirim kepada pembeli yang berada di Ternate.

Pelaku penyelundupan burung itu sudah dipanggil pihak kepolisian untuk dimintai keterangan dan harus wajib lapor.

“Kalau diambil dari Loloda seharusnya bisa langsung dikirim ke Ternate, tapi kenapa harus ditampung di Morotai, ada apa,” katanya lagi.

Dia mengakui, burung-burung itu tidak dikirim ke Ternate, karena untuk penjagaan dari lintas darat dan laut sangat ketat, sehingga burung-burung itu akan dikirim ke Filipina, mengingat Morotai termasuk rawan zona penyelundupan burung ke Filipina.

“Kami menduga burung-burung kakatua yang ditampung itu akan dikirim ke Filipina, karena memang Morotai rawan penyelundupan burung ke Filipina,” katanya pula.

Pelaku saat ini harus menjalani wajib lapor di Polsek Morotai Selatan, dan yang bersangkutan diancam sesuai undang-undang dengan hukuman sedikitnya 5 tahun penjara. (ald)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s