Fenomena di Medsos; Aksi GAMDO BASODARA di Buru, GARGATANG AMBON di Ambon


satumaluku.com- Media sosial, selain media mainstream, saat ini menjadi pilihan di setiap kontestasi politik. Keberhasilan Barrack Obama meraih jabatan Presiden Amerika Serikat, telah menginspirasi banyak politikus dan tim suksesnya untuk fokus mengampanyekan dirinya lewat media, termasuk media sosial.

Saat itu, Obama menjadi begitu populer dan menjadi idola baru karena dia berhasil mendekatkan diri dengan masyarakat Amerika Serikat lewat aksi cuitan dan komen-komennya di Twitter. Obama, seakan tak bisa dipisahkan dari blackberry-nya yang digunakan untuk melakukan aktivitas di media sosial. Sampai-sampai saat dia terpilih sebagai Presiden AS, aturan protokoler yang tidak membolehkan dia menggunakan media sosial, sempat menjadi kontroversi.

Di Indonesia, sejak Obama terpilih, banyak politikus lewat tim sukses masing-masing memanfaatkan media sosial sebagai salah satu alat pencitraan. Makanya tidak kaget jika di Facecook maupun Twitter para politisi berlomba-lomba membuat akun pribadi. Umumnya, akun-akun tersebut tidak dikelola sendiri tapi oleh tim yang dipilih.

Masalahnya, fenomena media sosial membuka peluang bagi banyak pihak untuk berkreasi. Makanya, bila ada akun-akun facebook atau twitter dari salah satu politisi yang maju dalam kontetasi politik, jangan kaget jika muncul akun-akun yang memberi perlawanan. Bahkan ada akun yang terkadang over reactive sehingga cenderung dinilai suka mem-bully dan dicap sebagai haters.

Menjelang tahun 2009 lalu, fenomena sosial media terkait kontestati politik mulai menghangat. Saat banyak politikus-politikus beken membuat fans page di facebook maupun akun twitter dan di-follow puluhan ribu, ratusan ribu bahkan jutaan orang, pada saat bersamaan juga, muncul akun-akun yang kontra. Jumlah follower-nya juga banyak, hampir sebanding.

Saat Pilkada DKI, “perang” di sosial media semakin sengit dan berlanjut menjadi “sangar” menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2014. Saat itu, di twitter maupun facebook, banyak akun yang memiliki follower puluhan bahkan ratusan ribu dan selalu berhasil menyita perhatian para pelaku sosial media (netizen).

Yang menarik, akun-akun yang populer tersebut justru yang menggunakan nama “suka hati” (memilih nama berdasarkan selera sendiri/nama samaran), bukan nama pribadi. Contohnya, tiga akun fenomenal @TrioMacan2000, @partaisosmed, dan @kurawa.

Akun @triomacan2000, bersama banyak akun lainnya berada dalam posisi mendukung Capres Prabowo Subianto dan menentang Capres Joko Widodo. Di lain pihak @kurawa dan @partaisosmed bersama banyak akun lainnya mendukung Capres Joko Widodo.

Faktanya, akun-akun “suka hati” itu masih tetap eksis dan tetap memiliki follower bejibun. Kecuali, @triomacan2000 yang akhirnya koid (tutup), bukan karena di-banned atau ditutup aparat berwenang, tapi karena tindakan kriminal yang dilakukan para admin-nya.

Di Maluku, saat ini, menjelang kontestasi politik pilkada serentak 2017, ranah media sosial juga mulai ramai. Di kalangan masyarakat Kabupaten Buru, aksi “jurus mabok” akun Gamdo Basodara telah mewarnai perdebatan-perdebatan di netizen facebook di Kabupaten Buru.

Gamdo Basodara mengambil posisi melawan incumbent Bupati Buru Ramli Umasugy. Dia membuat banyak status yang langsung menohok Bupati Ramli Umasugy, dengan isu dugaan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang dinilainya tak banyak diketahui masyarakat awam.

Sikap militansi Gamdo Basodara kemudian mendapat perlawanan. Tidak langsung oleh Bupati, tapi simpatisannya yang diistilahkan dengan nama Rabong Pandopo. Istilah ini terkesan agak sarkas karena rabong bagi masyarakat Maluku ibarat benalu, yaitu tanaman yang hidupnya menempel pada pohon bambu. Jadi dalam versi Gamdo Basodara, mereka yang membela bupati ini, adalah orang-orang yang selama ini mengambil kenikmatan dari kepemimpinan Bupati Ramli Umasugy.

Kehadiran Gamdo Basodara ternyata memberikan efek luar biasa. Dulu, jika bicara tentang Pilkada Buru, para pendukung Ramli Umasugy terkesan sangat dominan mengampanyekan jagoannya itu. Mereka membanggakan keberhasilan yang sudah dibuat dan mulai menggadang-gadang figur yang pas disandingkan dengan Ramly sebagai wakil bupati. Saat itu, banyak masyarakat Buru yang terkesan tak berani memberikan opini lain di berbagai media sosial.

Sekarang, sejak Gamdo Basodara mengeluarkan “jurus mabok” anti korupsi ditambah akun Tamang FA yang juga mengampanyekan jargon yang sama, di media sosial mulai banyak masyarakat Buru yang mendukung aksi Gamdo Basodara dan melawan akun-akun pendukung Bupati Ramli Umasugi.

Hanya memang, beda Gamdo Basodara, para Rabong Pandopo umumnya menggunakan akun dengan nama asli. Sedangkan mereka yang mendukung Gamdo Basodara dan “melawan” pendukung Bupati banyak yang menggunakan akun dengan nama “suka hati”. Mereka tampaknya nyaman dengan nama “suka hati” itu saat beragumentasi dengan para pendukung Bupati Buru.

Tak beda dengan apa yang terjadi pada media sosial yang melibatkan masyarakat Buru, pilkada Ambon juga saat ini menghadirkan fenomena ‘jurus mabok” akun “suka hati” di facebook bernama Gargatang Ambon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s