Sidi dan Miliaran Rupiah…


SINODE Gereja Protestan Maluku (GPM) dalam tahun pelayanan katekasasi 2016 pada Minggu 20 Maret lalu, mentahbiskan atau meneguhkan 12.347 anggota sidi/anggota gereja dewasa yang baru.

Istilah yang sudah tradisi di daerah ini yakni orang sidi. Mendengar istilah orang sidi, tentunya spontan terpikirkan yakni mengucapkan selamat ke rumah masing-masing orang sidi.

Suasana tersebut sering dikenal dengan beberapa istilah di kalangan orang Ambon dan Maluku umumnya. Seperti “ronda orang sidi” dan “bajalang pegang tangan”.

Terkait dengan itu, Sekretaris Umum (Sekum) Sinode GPM, Pdt Elifas Maspaitela, dalam publikasinya di media sosial, mengungkapkan, jumlah 12.347 orang yang ditahbiskan tersebut meliputi seluruh wilayah Maluku dan Maluku Utara.

”Mereka tersebar di 32 Klasis GPM yang ada di Maluku dan Maluku Utara. Total ada 746 jemaat. Jadi, yang sidi terbanyak adalah di Klasis Pulau Ambon sebanyak 1.300 orang,” ujar Pdt Elifas Maspaitela.

Menurutnya, dengan peneguhan sidi tersebut, merupakan suatu bukti konsistensi GPM menyelenggarakan pendidikan formal gereja dan mempersiapkan sumber daya umat yang dewasa dan matang menjalankan semua tugas panggilan gereja di dunia.

Bagi umat Kristiani di daerah ini, orang sidi sudah menjadi sebuah tradisi “pesta iman”. Esensinya adalah pengucapan syukuran atas peneguhan imannya sebagai anggota gereja dewasa di lingkungan GPM.

Namun demikian. Tradisi pengucapan syukur dimaksud, dari tahun ke tahun sudah lebih menjurus pada sikap konsumtif. Yang tadinya sebagai makna “pesta iman” kini lebih menjurus pada pesta duniawi.

Akibatnya menjelang momen orang sidi, berbagai persiapan duniawi lebih dikedepankan. Seperti menyediakan barang, siapkan suasana rumah, makan, minum dan berbagai fasilitas lainnya.

Terkait dengan itu. Marilah kita analisa sederhana saja. Jika orang yang sidi di Maluku dan Maluku Utara pada hari Minggu lalu berjumlah 12.347 orang, kemudian acara syukuran pada hari Jumat dan sisanya ada juga pada Minggu nanti, maka berapa jumlah uang yang berputar selama momen orang sidi ini?

Kalkulasi simpel saja. Bila yang sidi 12.347 orang, maka bila setiap orang bikin acara syukurannya dengan mengeluarkan paling sedikit Rp 2 juta saja. Maka 12.347 x 2.000.000 = 24.000.694.000. Jika lebih dari 3 juta maka jumlah miliar akan terus bertambah.

Itu baru dari konsumsi makan minum saja. Belum termasuk biaya sewa tenda, kursi, sound sisten, pakaian dan lainnya. Bahkan ada keluarga yang menyewa mobil untuk ikut antar anaknya prosesi peneguhan di gereja sampai kembali ke rumah.

Gambaran tersebut hanya untuk kebutuhan anak sidi dan keluarganya yang bikin acara, sudah mencapai puluhan miliar uang yang beredar di Maluku dan Maluku Utara.

Hitungan sederhana itu belum ditambah dengan pengeluaran orang yang melakukan silaturahmi mengucapkan selamat atau ronda orang sidi.

Disitu akan muncul biaya transport pergi pulang ke beberapa rumah, lalu biaya bahan bakar, sewa mobil atau ojek/becak, serta amplop atau barang sebagai hadiah dan pengeluaran lain-lainnya.

Belum juga dihitung biaya orang saudara, adik kakak om tante usi dan kerabat lainnya yang sudah tradisi di Ambon dan sekitarnya yaitu saudara-saudara atau keluarganya yang sengaja datang dari luar kota dengan menggunakan kapal laut atau pesawa untuk ikut acara orang sidi.

Jadi, efek dari orang sidi ini tidak bisa dilihat sebagai tradisi dan pesta iman saja. Namun juga sekaligus memperlihatkan pada kita, bahwa begitu konsumtif dan borosnya orang Maluku dalam sebuah tradisi dan pesta iman keyakinannya.

Di sisi lain. Terlihat begitu besarnya perputaran uang dan gerak dinamika sosial ekonomi dan budaya masyarakat baik dalam biaya belanja, makan, minum, pakaian, transportasi, jasa, pemberian dan lainnya hanya dalam bulan Maret 2016 ini.

Bila semua dihitung dengan efek-efek perputaran uang lainnya dalam berbagai aspek, maka diperkirakan selama orang sidi di bulan Maret ini total uang yang dibelanjakan dan juga digunakan untuk biaya transportasi, jasa dan pemberian, diprediksi mencapai Rp 100-150 miliar.

Jumlah yang luar biasa dalam perputaran uang dan gerak roda ekonomi masyarakat di Maluku dan Maluku Utara. Sikap konsumtif dan konsumerisme kita di daerah ini sangatlah tinggi.

Dampak lain non dana atau di luar aspek ekonomi yaitu akibat ribuan orang yang ditahbiskan tersebut, pantauan kami, terjadi kemacetan panjang dan waktu yang lama baik dari arah luar serta masuk kota seperti Passo sampai Galala maupun Batugantung sampai kawasan Benteng.

Kemacetan terjadi di kawasan yang berbeda itu memakan waktu sekitar satu sampai dua jam. Banyak pengguna kendaraan yang mengeluh karena jangkauan dan waktu mereka habis di jalan.

Belum lagi penumpang-penumpang angkutan umum pun gerah. Ambon dan sekitarnya saat itu terjadi arus lalu lintas “pamer” alias padat merayap. Situasi yang jarang terlihat kemacetan sangat panjang.

”Luar biasa. Suasana hilir mudik orang ronda sidi kali ini. Dua komunitas saling masuk keluar menyampaikan ucapan selamat. Kiranya momentum ini menjadi suasana kebersamaan antar umat beragama terus terjadi selamanya,” ungkap pengemudi taksi, Thomy B yang mengantar tamunya pada berbagai kawasan untuk mengucapkan selamat orang sidi.

Dra Hanna M.W. Parera/P MSi, sosiolog FISIP Unpatti menyatakan, suasana orang sidi di Ambon dan Maluku umumnya, adalah sebuah fenomena sosial keagamaan yang sudah mentradisi.

Namun di sisi lain, ia menilai, sebagai sebuah pesta iman ya wajar saja. Hanya yang perlu dibenahi dan diintrospeksi adalah sikap konsumtif dan konsumerisme yang begitu tinggi, sangat kentara, sehingga terkesan kurang menonjol sikap produktifnya.

”Sangat kontra produktif. Yang menonjol hanyalah tradisi dan pemborosan. Di sinilah butuh kesadaran dan peran serta jemaat, gereja juga pemerintah untuk mencari solusi bersama menciptakan pesta iman yang sesuai dengan harapan kita,” ungkap Hanna Parera.

Belajar dari analisa sosial ekonomi sederhana itu. Marilah katong semua dapat mengendalikan diri dan kembali ”back to basic” pada makna peneguhan sidi yang sebenarnya dan sesuai dengan tujuan dan maksud program katekasasi tersebut. Semoga! (*)

Penulis: Novi Pinontoan
Rubrik Rempah-Rempah
Harian Suara Maluku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s