Jangan GADUH! Kabupaten MBD dan MTB Rebutan Lokasi Kilang Blok Masela


satumaluku.com- Pasca keputusan Presiden Joko Widodo yang menetapkan kilang Blok Masela di darat, muncul perdebatan baru tentang lokasi kilang. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dan Maluku Tenggara Barat (MTB), sama-sama menginginkan pembangunan kilang dilaksanakan di wilayah masing-masing.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi mengatakan, saat ini ada 3 pulau yang akan jadi alternatif lokasi kilang.

“Mengenai lokasi jadinya onshore, nanti di pulau mana saya minta kawan-kawan masyarakat di Maluku tak perlu rebutan, apakah di Pulau Selaru, Tanimbar, atau pun Aru,” ujar Amien, ditemui di kantornya, Menara Mulia, Jakarta, Kamis (24/3/2016).

Menurutnya, pemilihan lokasi kilang jadi sepenuhnya hak kontraktor yaitu Inpex, yang memilih lokasi sesuai perhitungan mereka. Pertimbangan utamanya adalah ketersediaan lahan dan pantai yang layak jadi pelabuhan besar.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Barnabas Orno, meminta pemerintah pusat dan kontraktor Inpex Coorporation agar dapat menentukan lokasi pembangunan kilang gas blok Masela secara arif dan bijaksana.

“Saya minta penempatan lokasi ini harus dilakukan secara arif. Pak Menteri, Pak SKK Migas, Pak Gubernur harus arif dan pihak kontraktor agar berlaku arif soal ini,” ucap Barnabas, Jumat (25/3/2016).

Dia mengungkapkan, setelah diputuskan kilang Masela berada di darat oleh Presiden Joko Widodo, yang menjadi persoalan baru saat ini adalah lokasi pembangunan kilang.

Perdebatan itu adalah, apakah kilang berada di Pulau Babar Kabupaten Maluku Barat Daya atau di Pulau Tiakur Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

“Tapi saya mau sampaikan bahwa kami tidak akan tamak. Kami minta ini disikapi dengan arif,” ujar Barnabas.

Dia mengaku ladang gas blok Masela memang berada di antara Pulau Babar dan Pulau Selaru. Hal itu akan menyebabkan terjadinya tarik-menarik antara kedua kabupaten. (ald)

13 thoughts on “Jangan GADUH! Kabupaten MBD dan MTB Rebutan Lokasi Kilang Blok Masela

  1. Terima kasih wartawan yang posting berita ini tapi agak sedikit ngawur. mungkin perlu belajar peta kepulauan Maluku supaya tahu. Hanya koreksi sedikit :
    – Pulau Selaru itu adalah sebuah pulau di Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
    = Saumlaki adalah ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB)
    – Pulau Babar itu ada di Kabupaten Maluku Barat Daya.(MBD)
    – Kota Tiakur itu adalah Ibukota Kabupaten Maluku Barat Daya dan terletak di pulau Moa`
    – Blok Masela (sesuai nama Pulau di peta yakni pulau Masela- yang sebenarnya pulau Marsela) terletak di perairan pulau Marsela Kabupaten Maluku Barat Daya.
    Demikian koreksi dari saya`
    KALWEDO KIDABELA.

    Like

    1. pak karel yang saya hormati, Blok masela masuk dalam wilaya Kabupaten Maluku Tenggara Barat sesuai dengan letak geografisnya, dan tadi padi apel gabungan di kantor Bupati sudah diberitahukan oleh Pak Bupati MTB, jadi kita tidak perlu untuk berdebat karena Blok Masela ini mau bangun kilangnya di MTB atau MBD tetap akan memberikan manfaat untuk kita semua.

      Like

      1. Redaksi satumaluku yth,
        tolong saudara Kasim tanimbar itu jangan dimuat postingannya kalau mau provokasi. memangnya dia asli tanimbar atau hanya nama tanimbar krn tdk ada orang tanimbar nama kasim. kalau dia mau ngajak perang sama presiden Jokowi. ini orang perlu diwaspadai…jangan-jangan penyusup dari ISIS yg mau mengacau di MBD dan MTB.
        sausara Kasim… supaya anda ketahui bahwa secara adat istiadat serta budaya masyarakat MBD dan MTB bahkan sebelumnya Kab.Maluku Tenggara sebelum pemekaran adalah mempunyai ikatan persaudaran secara adat budaya dan hubungan kekeluargaan. Jangan krn blok Masela mau memecah belah perrsaudaraan kita.
        jadi sdr.Kasim Tanimbar jaga mulut anda bicara anda. ini peringatan buat anda. kalau tidak anda akan berhadapan dgn hukum.

        Like

  2. Beberapa hari terakhir issu Blok Masela dibangun di darat atau ONSHORE, menjadi sebuah sukacita bagi masyarakat di Maluku khususnya di Kabupaten MBD dan Kabupaten MTB. Sebagai putera daerah merasa senang atas keputusan Presiden untuk membangun kilang didaratan atau ONSHORE REFINARY. Namun dibalik itu samahalnya dengan sebagian basudara di Maluku, bahwa akan terjadi polemik atau kegaduhan baru antara Kabupaten MTB dan MBD mengenai lokasi pembanguna kilang.
    Sekedar info, di Kalimantan Timur, Kota Balikpapan itu merupakan kota Jasa dimana semua fasilitas penunjang mulai dari Bandara, Pelabuhan Laut, Perkantoran Perusahaan MIGAS yang beroperasi di Kalimantan Timur berada di Balikpapan. Padahal lokasi pengeboran Minyak dan Gas berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan beberapa Kabupaten lain. Perusahaan Perancis yakni TOTAL E&P Indonesie dan Chevron Indonesia memiliki kantor di Balikpapan tetapi lokasi pengeboran diluar Balikpapan.
    Untuk lokasi kilang pengolahan minyak Pertamina ada di kota Balikpapan sedangkan lokasi kilang Gas – PT Badak LNG berada di Bontang, sebuah kota kecil di Kalimantan Timur. Kota Bontang bukan penghasil Gas hanya menjadi tempat penolahan Gas yang disalurkan oleh TOTAL, CHEVRON, PERTAMINA dan VICO INDONESIA.
    Jarak jalur pipa yang menyalurkan gas dari lakasi terjauh adalah dari TOTAL Senipah ke Bontang kurang lebih 300 km. melalui darat, laut dan sungai. TOTAL Indonesie juga mengelola lahan migas di KALTIM adalah konsesi dari INPEX yang sekarang berinvestasi di Blok Masela, sehingga pasti sudah mengetahui hal ini.
    Saya sengaja menyampaikan ini untuk direnungkan oleh kita semua terutama masyarakat dan basudara yang ada di Maluku khususnya MBD dan MTB agar dalam menyikapi pembangunan kilang di darat dengan bijaksana untuk kesejahteraan semua supaya tidak banyak berpolimik.
    Memang harus diakui bahwa sebelum pemekaran Kabupaten MBD dari kabupaten induk MTB, Blok Masela sudah berproses dimana pembangunan infrastruktur penunjang sudah mulai dilaksanakan termasuk persiapan pembangunan warehouse di pulau Selaru, pengembangan Bandara di kota Saumlaki – selaku ibukota Kabupaten MTB.
    Nah, seiring dengan pemekaran kabupaten MBD maka tentu saja hal ini akan menjadi masalah baru kalau tidak dibicarakan secara baik dan berkeadilan untuk kepentingan bersama kedua kabupaten ini.
    Sebagai usul saran bagi pihak INPEX dan Pemeerintah dalam meminimalisir kegaduhan, maka menurut saya, pembangunan Kilang dilaksanakan di Pulau Babar – MBD, sedangkan Saumlaki dan Selaru menjadi penunjang untuk logistik. Dengan demikian maka pada saatnya rencana pegembangan beberapa blok MIGAS di MBD (Blok Leti, Blok Sermata dan Blok Moa) direalisasikan maka tidak akan menjadi masalah ketika gas-nya diolah di kilang yang ada di Pulau Babar – MBD. sehingga tidak ada lagi masalah pembangunan kilang gas yang baru.

    Demikian untuk kita renungkan bersama di hari Paskah ini semoga pembanguna Blok Masela menjadi berkat bagi seluruh masyarakat Maluku. Selamat merayakan Paskah bagi basudara di Maluku, khususnya di MBD dan MTB.

    Salam hangat dari Bumi Borneo – Balikpapan

    Karel Miru

    Like

  3. Sesuai dengan postingan wartawan ………Perdebatan itu adalah, apakah kilang berada di Pulau Babar Kabupaten Maluku Barat Daya atau di Pulau Tiakur Kabupaten Maluku Tenggara Barat………
    Karena Pulau Babar ada di MBD itu benar dan Tiakur itu ibukota MBD bukan berada di MTB.. itu yang ingin saya koreksi….
    Soal pembangunan kilang di onshore itu sdh keputusan Presiden dan selanjutnya mau dibangun dimana itu kebijakan pemerintah dan investor..
    Salam Kalwedo Kidabela.

    Like

  4. Sayang sekali yang meresponi postingan saya berlindung dibalik nama samaran. kalau memang punya niat baik, tuliskan namanya yang jelas supaya orang tahu, bila perlu nomor hp yang bisa dihubungi….
    Terima kasih atas reponsnya namun saya senang dan respek terhadap orang yang jelas asal-usulnya dan tidak menggunakan nama samaran atau anonymous….
    Salam Damai Kalwedo Kidabela

    Like

  5. USULAN BAGI PEMPROV MALUKU

    PENERIMAAN MAHASISWA BARU SECARA ONLINE

    Sebagaimana kita telah berada di era Ekonomi Digital maka untuk memperlancar dan mencerdaskan kemampuan dan ketrampilan putra-putri maluku yang akan dipersiapkan untuk bekerja di kilang migas blok masela, maka usulan saya agar penerimaan ini secara ONLINE untuk mempermudah putra daerah di daerah bisa mendatar dari daerah meraka masing-masing tanpa harus ke kota ambon. Setelah lolos adminis trasi barulah di lanjutkan dengan tahap berikutnya.

    PUTRA PUTRI MALUKU JANGAN HANYA DI SEKOLAHKAN DI UNPATTI DAN POLITEKNI AMBON SAJA

    Perlu di ingat bahwa di luar maluku bahkan di luar negeri masih banyak trerdapat putra putri terbaik maluku yang merantau di daerah seputar jakarta dan kota2 lainnya di pulau jawa. Jadi usulan saya agar para putra putri yang ada di darah2 sekitar pulau jawa ini juga bisa di berikan kesempatan kuliah di kampus-kampus yang terdekat tanpa harus pulang ke ambon,. Nanti setelah selesai kuliah, barulah mereka di rekrut kembali untuk di data dan di kerjakan.
    Kota-kota di luar maluku yang paling banyak terdapat putra putri terbaik maluku adalah
    Jakarta, Surabaya, Jojyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang dll.

    Oleh sebab itu saya usulkan agar pemerintah daerah maluku bekerja sama dengan kampus yang sudah diadakan kerja sama diantaranya ITB, ITS, UI, UGM agar di buka kerja sama khusus bagi putra putri maluku agar bisa memiliki kesempatan kuliah di kampus2 tersebut.

    BIAYA PENDIDIKAN

    Untuk biaya pendidikan bagi putra/i maluku yang ada di daerah maluku agar bisa di tanggung sepenuhnya oleh pemerintah maluku sama seperti teman2 mereka yang di sekolahkan di Unpatti dan politeknik ambon.

    PENGAWASAN

    Setelah berhasil di sekolahkan, agar ada followup kembali selama mereka kuliah. supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

    Like

  6. Yth Redaktur Berita Satu Maluku

    Menarik membaca poting berita JANGAN GADU, pertama-tama perlu dikoreksi ialah sudah jelas pernyataan Kepala SKK Migas, Amin Sunaryadi bahwa 3 lokasi alternatif untuk pembangunan kilang yakni P. Selaru, P. Tanimbar (Yamdena) dan P.Aru. Tidak disebutkan pulau-pulau yang ada di MBD, karena penyataan Kepala SKK Migas sudah tentu berdasarkan ada hasil kajian dari Badan Litbang ESDM Kementrian ESDM mengenai Site Surve Geologi dan Geofisika Kelauatan Perairan di Blok Masela dan Perairan di Kepulauan Tanimbar dalam Kaitan dengan Kaitan Pemilihan Teknik Eksploitasi Migas (Floating Refinery atau Transportasi Pipa Bawah Laut) bahwa lokasi yang sangat tepat di kepaluan Tanimbar silakan bukan Buka di http://www.litbang.esdm.go.id. kemudian Pulau Aru masuk dalam alternatif lokasi kilang karena adanya pernyataan Menko Kemaritiman sebelumnya soal adanya pipanisasi ke pulau Aru, sehingga Aru masuk dalam 3 lokasi yang dipilih. Menjadi pertanyaan kenapa mau dihubungkan dengan pernyataan Bupati MBD kalu menyangkut 3 lokasi tersebut.

    sebenarnya tidak ada gadu kalu wartawan media cetak di provinsi bisa pekah mengikuti pemberitaan di pusat dengan baik. ‘

    Terjadinya gadu oleh karena adanya pernyataan Bupati, para Akademisi dan toko-toko masyarakat MBD di provinsi yang mengklaim bahwa Blok itu milik mereka. Dasarnya apa? jangan karena nama pulau Masela lalu mengklaim blok itu milik mereka. Saya heran juga dengan adanya pengembangan Blok Masela, pulau Marsela berubah nama menjadi Masela, yang sebenarnya di peta dari dulu sampai sekarang pulau itu ditulis Marsela bukan nama Masela . Orang Masela merupakan marga yang cuman ada di Kepulauan Tanimbar, bisa jadi nama blok tersebut merupakan nama marga yang ada di kepulauan Tanimbar, karena penaman suatu blok bukan hanya nama pulau, bisa nama sungai, nama daerah perkebunan, nama ikan, nama teluk dan lainnya. Memang tidak pernah adanya penjelasan dari pemerintah dalam hal ini SKK Migas terkait penamaan Blok Masela, sehingga pada prinsipnya kepemilikan blok migas tidak ada kaitannya dengan penamaan.

    kemudian menyangkut wilayah adminitrasi, dasarnya apa kalau Blok Masela masuk dalam wilayah Adminstrasi Kabupaten MBD. Sebuah wilayah adminitrasi hanya dihitung daratan dan batas laut sesui dengan UU 32 Tahun 2004, batas laut Kabupaten/kota dihitung dari garis pantai ke arah laut jaraknya 4 mil. sedangkan jarak Blok Masela dari P. Babar dan P. Marsela sekitar 85 mil lebih atau sekitar 135 km. Sehingga dengan jarak itu MBD tidak berhak mengklaim itu milik mereka. Apalagi dengan adanya UU 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Kewenangan laut untuk kabupaten kota tidak ada lagi, yang ada cuman provinsi yaitu dihitung dari garis pantai ke arah laut batasnya 12 mil. sehingga baik provinsi maupun kabupaten kota tidak berhak mengklaim Blok itu miliknya. Kalau bagitu bagaimana dengan NTT yang juga mengklaim berhak mendapat PI 10 % Blok Masela, Fredi Tanoni, Penulis Buku ‘Skandal Laut Timur”, menyatakan bahwa ‘ Yang lebih berhak atas Blok Masela adalah pemerintah pusat, karena berada di wilayah abu-abu’. Namun pemerintah Indonesia dan Maluku harus berterima kasih karena letak pulau Selaru Kepulauan Tanimbar (MTB) dekat dengan Blok tersebut dimana jarak 90 Km atau 56 mil, oleh karena Blok Masela berada dekat dengan Zona Ekonomi Eklusif (ZEE), perbatasan antara Indonesia dan Australia. Sehingga wilayah Blok Masela masuk sepenuhnya pada Indonesia dengan kebetulan berada di perairan Arafura. Bayangkan kalau tidak ada pulau Selaru, kemudian pulau Marsela diukur sebagai jarak dekat pada blok tersebut maka batas ZEE akan bergeser pada titik tengah, maka yang terjadi Australia berhak mengklaim Blok Masela miliknya,oleh karena sesuai dengan Konvesi Hukum Laut Internasional UNCLOS 1982 batas landasan kontinen negara 200 mil. Dan Kemungkinan yang akan terjadi ialah sengketa antara Indonesia dengan Australia soal kepemilikan blok tersebut. Sehingga tidak mendasar MBD mengklaim Blok tersebut milik mereka.

    Kemudian menyangkut pengembangan Blok Masela di Maluku tidak bisa disamakan dengan Blok Mahakam di Kalimantan Timur dimana kota-kotanya berada pada satu daratan. Dari segi investasi akan sangat mahal , karena akan mempengarui pergerakan orang dan barang menjadi terhambat, cost transportasinya tangat tinggi oleh karena adanya laut yang memisahkan beberapa daerah yang menjadi alternatif pembangunan kilang. kecuali P. Selaru dan P. Yamdena jaraknya yang masih berdekatan sekalipun dipisahan oleh laut kurang berpengaru terhadap mobilisasi orang dan barang. Dalam hal ini, Pemerintah dan Inpex tentu punya prinsip efktifitas dan kehati-hatian terhadap investasi yang dilakukan yang tidak berpengaruh pada kerugian keuangan negara dan modal yang ditimbulkannya nanti.

    oleh karena itu dengan berani saya menyatakan pengembangan Blok Masela tidak ditempat lain selain hanya di kepulauan Tanimbar Maluku Tenggara Barat yang sangat layak baik dari sisi topografi dan luas wilayah sangat terpat untuk dilakuan pengembangan Blok Masela.
    karena sacara faktual berbagai infrastuktur sudah dan sedang dipersiapkan oleh pemerintah pusat pada saat ini, baik Bandarah, pelabuhan, sampai pada pembebasan lahan untuk Logistik Base yang sudah dipersiapan di kepuluan Tanimbar MTB. Tinggal penyiapan lahan untuk pembangunan kilang.
    Kemudian dari sisi pendekatan keamamaan, untuk ke 3 kabupaten, hanya kepulauan Tanimbar MTB yang sedang persiapkan untuk pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran. Sesuai pernyataan Panglima TNI saat kunjungan ke Saumlaki dan P. Selaru, yang tidak ditangkap oleh wartawan, mengatakan untuk pengembangan AD, batalion 734 lorlabay Saumlaki akan ditingkatkan menjadi 1 brigif yakni ada 3-4 batalion infatri AD dan 1 Satuan Artileri Medan (Armed) AD di Pulau yamdena, akan ada 1 batalion AD masing2 di P. Selaru dan P.Larat (MTB). Untuk Pengembangan angkatan Laut, Lanal Saumlaki ditingkatkan menjadi Pangkalan Utama (Lantamal), akan ada 1 Satuan Marinir di pulau Selaru, Pos AL di P. Larat, P.Seira dan P. Molu Maru dan Pelabuhan kapal selam AL di Pantai desa Tumbur P. Yamdena (MTB). Sedangkan untuk kekuatan Angkatan Udara, sudah ada Markas Satuan Radar AU di Ilngei P. Yamdena yang memantau pergerakan kapal dan pesawat asing, dan akan diperbesar dengan menyiapkan 1 Pangkalan AU di P. Selaru, dengan panjang landasan pesawat terbesar di Indonesia Timur yaitu 3,5 Km sebagai Pangkalan terpadu yang akan didarati berbagai pesawat tempur sampai dengan jenis heli scorpion milik AD dan AL sekaligus didarati pesawat komersil. Dengan demikian dengan adanya perbagai kekuatan militer tersebut maka sudah pasti Pengembangan Blok Masela tidak di tempat lain. sebab salah satu faktor yang sangat penting bagi investasi di suatu daerah adalah faktor keamanan.
    selain itu adanya kunjungan tamu dari berbagai kementrian dan rencana kunjungan presidena ke Saumlaki, sudah pasti lokasi kolang migas hanya di Kepulauan Tanimbar MTB.

    Demikian Komentar saya.

    Beni. Moriolkossu
    NB. yang tidak puas dengan koment saya, silakan hubungi saya di Nomor 082199677212

    Like

    1. Yang saya hormati Redaksi SATU MALUKU dan Sdr.Benny Moirolkosu….
      dibawah ini adalah tulisan sdr Benny yang akan saya tanggapi…..
      ….”Terjadinya gadu oleh karena adanya pernyataan Bupati, para Akademisi dan toko-toko masyarakat MBD di provinsi yang mengklaim bahwa Blok itu milik mereka. Dasarnya apa? jangan karena nama pulau Masela lalu mengklaim blok itu milik mereka. Saya heran juga dengan adanya pengembangan Blok Masela, pulau Marsela berubah nama menjadi Masela, yang sebenarnya di peta dari dulu sampai sekarang pulau itu ditulis Marsela bukan nama Masela . Orang Masela merupakan marga yang cuman ada di Kepulauan Tanimbar, bisa jadi nama blok tersebut merupakan nama marga yang ada di kepulauan Tanimbar, karena penaman suatu blok bukan hanya nama pulau, bisa nama sungai, nama daerah perkebunan, nama ikan, nama teluk dan lainnya. Memang tidak pernah adanya penjelasan dari pemerintah dalam hal ini SKK Migas terkait penamaan Blok Masela, sehingga pada prinsipnya kepemilikan blok migas tidak ada kaitannya dengan penamaan………………………………..

      Membaca tulisan Sdr.Benny sangat menggelikan hati karena sampai kapanpun klaim-mengklaim siapa yang berhak atas blok Masela tidak akan habis karena semua merasa benar,,,,namun pada akhirnya keputusan ada pada pemerintah pusat dan investor yang harus kita hargai……
      Mengacu dari amanat UUD1945, maka Blok Masela adalah milik negara sehingga tidak ada yang mengklaim lebih berhak tapi semua rakyat Indonesia yang tunduk pada hukum negara dan UUD1945 memeiliki hak yang sama.
      Hanya saja letak Blok Masela yang selama ini diklaim milik MTB seutuhnya,,, itu salah besar karena letaknya disekitar pulau Marsela – MBD makanya disebut Blok Masela,…bukan karena marga Masela,hehehehe
      Secara khusus menanggapi tulisan Sdr.Benny yang saya kutip diatas, mungkin sdr Benny perlu belajar sejarah sebelum memuat tulisan seperti diatas…..
      – Mengapa nama blok Masela ?
      1. Supaya diketahui bahwa nama Pulau Masela (Marsela) itu sudah ada di peta dunia sejak
      zaman Belanda jadi tidak ada hubungannya dengan karena ada blok Masela baru diganti
      jadi Pulau Masela.
      2. Pemberian nama Blok Masela tentu saja karena berada di wilayah pulau Masela
      (Marsela)….karena kalau blok itu berada di wilayah Pulau Selaru pasti dinamakan Blok
      Selaru….. Jadi penamaan Masela tidak ada kaitan dengan marga Masela di Tanimbar.
      ……….Silahkan tanya Bung Boetje Balthazar karena merekalah yang pertama survey itu
      Blok Masela saat masih kabupaten MTB dan belum ada kabupaten MBD……….
      3. Tidak mungkin menggunakan nama Masela yang diambil dari marga yang ada di
      Tanimbar…. kecuali kalau ada marga Masela yang berjasa besar dalam penemuan Blok
      Masela atau punya jasa yang besar terhadap negara,,,jadi sangat lucu saja kalau
      dinamakan Blok Masela karena nama marga Masela di Tanimbar.
      Mungkin lebih pas kalau pakai nama marga, barangkali marga Balthazar yang cocok
      karena ada Bung Butje Balthazar yang ikut survey hehehehhehe

      – Selanjutnya, …..
      untuk diketahui juga bahwa Marga Masela dan Leray di Tanimbar adalah keturunan dari Pulau Marsela yakni dari Gungung Leray….ini sejarah yang tidak bisa disangkal. Kecuali kalau ada yang dari Marga Masela dan Leray yang menyangkal hal itu nanti berhubungan dengan leluhur nenek moyang dari Gunung Leray.
      Sama halnya di Pulau Selaru, di desa Werain ada keturunan Raja Werain yakni keluarga Amarduan yang nenek moyangnya berasal dari Luang, jadi tidak perlu berpolimik yang mengakibatkan pertikaian antar orang basudara hanya karena hal yang tidak berguna.

      Sebaiknya saran saya agar basudara di MBD dan MTB mempersiapkan anak-anak kita agar pada saat perekrutan tenaga kerja di Blok Masela mereka akan menjadi bagian dari Tenaga Kerja yang direkrut dan bukan sebagai penonton atau jadi pengangguran di kampung sendiri.
      Demikian, terima kasih.

      KALWEDO kIDABELA
      kAREL MIRU
      Balikpapan – Kalimantan Timur

      Like

  7. Yth Redaktur Berita Satu Maluku

    Menarik membaca posting berita JANGAN GADU, pertama-tama perlu dikoreksi ialah sudah jelas pernyataan Kepala SKK Migas, Amin Sunaryadi bahwa 3 lokasi alternatif untuk pembangunan kilang yakni P. Selaru, P. Tanimbar (Yamdena) dan P.Aru. Tidak disebutkan pulau-pulau yang ada di MBD, karena penyataan Kepala SKK Migas sudah tentu berdasarkan ada hasil kajian dari Badan Litbang ESDM Kementrian ESDM mengenai Site Surve Geologi dan Geofisika Kelauatan Perairan di Blok Masela dan Perairan di Kepulauan Tanimbar dalam Kaitan dengan Pemilihan Teknik Eksploitasi Migas (Floating Refinery atau Transportasi Pipa Bawah Laut) bahwa lokasi yang sangat tepat di kepaluan Tanimbar silakan bukan Buka di http://www.litbang.esdm.go.id. kemudian Pulau Aru masuk dalam alternatif lokasi kilang karena adanya pernyataan Menko Kemaritiman sebelumnya soal adanya pipanisasi ke pulau Aru, sehingga Aru masuk dalam 3 lokasi yang dipilih. Menjadi pertanyaan kenapa mau dihubungkan dengan pernyataan Bupati MBD kalu menyangkut 3 lokasi tersebut.

    sebenarnya tidak ada gadu kalu wartawan media cetak di provinsi bisa pekah mengikuti pemberitaan di pusat dengan baik. ‘

    Terjadinya gadu oleh karena adanya statmen Bupati, para Akademisi dan toko-toko masyarakat MBD di provinsi yang mengklaim bahwa Blok itu milik mereka. Dasarnya apa? jangan karena nama pulau Masela lalu mengklaim blok itu milik mereka. Saya heran juga dengan adanya pengembangan Blok Masela, pulau Marsela berubah nama menjadi Masela, yang sebenarnya di peta dari dulu sampai sekarang pulau itu ditulis Marsela bukan nama Masela . Orang Masela merupakan marga yang cuman ada di Kepulauan Tanimbar, bisa jadi nama blok tersebut merupakan nama marga yang ada di kepulauan Tanimbar, karena penaman suatu blok bukan hanya nama pulau, bisa nama sungai, nama daerah perkebunan, nama ikan, nama teluk dan lainnya. Memang tidak pernah adanya penjelasan dari pemerintah dalam hal ini SKK Migas terkait penamaan Blok Masela, sehingga pada prinsipnya kepemilikan blok migas tidak ada kaitannya dengan penamaan.

    kemudian menyangkut wilayah adminitrasi, tidak mendasar kalau Blok Masela masuk dalam wilayah Adminstrasi Kabupaten MBD. Sebuah wilayah adminitrasi sesuai dengan UU 32 Tahun 2004 untuk batas laut Kabupaten/kota dihitung dari garis pantai ke arah laut jaraknya 4 mil. sedangkan jarak Blok Masela dari P. Babar dan P. Marsela sekitar 85 mil lebih atau sekitar 135 km. Sehingga dengan jarak itu MBD tidak berhak mengklaim itu milik mereka. Apalagi dengan adanya UU 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Kewenangan laut untuk kabupaten kota tidak ada lagi, yang ada cuman provinsi yaitu dihitung dari garis pantai ke arah laut batasnya 12 mil. sehingga baik provinsi maupun kabupaten kota tidak berhak mengklaim Blok itu miliknya. Kalau bagitu bagaimana dengan NTT yang juga mengklaim mendapat PI 10 % dari Blok Masela, Fredi Tanoni, Penulis Buku ‘Skandal Laut Timur”, menyatakan bahwa ‘ Yang lebih berhak atas Blok Masela adalah pemerintah pusat, karena berada di wilayah abu-abu’. Namun pemerintah Indonesia dan Maluku harus berterima kasih karena letak pulau Selaru Kepulauan Tanimbar (MTB) dekat dengan Blok tersebut dimana jaraknya 90 Km atau 56 mil, karena Blok Masela berada dekat dengan Zona Ekonomi Eklusif (ZEE), berbatasan antara Indonesia dan Australia. Bayangkan kalau tidak ada pulau Selaru, kemudian pulau Marsela diukur sebagai jarak dekat pada blok tersebut maka batas ZEE akan bergeser naik mendekati titik tengah Blok Masela, maka yang terjadi ilaha Australia berhak mengklaim Blok Masela miliknya,oleh karena sesuai dengan Konvesi Hukum Laut Internasional UNCLOS 1982 batas landasan kontinen sebuah negara jaraknya 200 mil. Dan Kemungkinan yang akan terjadi ialah sengketa antara Indonesia dengan Australia soal kepemilikan blok tersebut. Sehingga tidak mendasar MBD mengklaim Blok tersebut milik mereka.

    Kemudian menyangkut pengembangan Blok Masela di Maluku tidak bisa disamakan dengan Blok Mahakam di Kalimantan Timur dimana kota-kotanya berada pada satu daratan. Dari segi investasi akan sangat mahal , karena akan mempengarui pergerakan orang dan barang menjadi terhambat, cost transportasinya tangat tinggi oleh karena adanya laut yang memisahkan beberapa daerah yang menjadi alternatif pembangunan kilang. kecuali P. Selaru dan P. Yamdena jaraknya yang masih berdekatan sekalipun dipisahan oleh laut kurang berpengaru terhadap mobilisasi orang dan barang. Dalam hal ini, Pemerintah dan Inpex tentu punya prinsip efktifitas dan kehati-hatian terhadap investasi yang dilakukan yang tidak berpengaruh pada kerugian keuangan negara dan modal yang ditimbulkannya nanti.

    oleh karena itu dengan berani saya menyatakan pengembangan Blok Masela tidak ditempat lain selain hanya di kepulauan Tanimbar Maluku Tenggara Barat yang sangat layak baik dari sisi topografi dan luas wilayahnya.
    karena sacara faktual berbagai infrastuktur sudah ada dan sedang dipersiapkan untuk tahap pengambangan oleh pemerintah pusat. Baik Bandarah, pelabuhan, sampai pada pembebasan lahan untuk Logistik Base yang sudah dipersiapan di kepuluan Tanimbar MTB, tinggal penyiapan lahan untuk pembangunan kilang.

    Kemudian dari sisi pendekatan keamamaan, untuk ke 3 kabupaten, hanya kepulauan Tanimbar MTB yang sedang persiapkan untuk pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran. Sesuai pernyataan Panglima TNI saat kunjungan ke Saumlaki dan P. Selaru(1/1/2016), yang tidak ditangkap oleh wartawan, mengatakan bahwa untuk pengembangan AD di MTB, batalion 734 lorlabay Saumlaki akan ditingkatkan menjadi 1 brigif yakni ada 3-4 batalion infatri AD dan 1 Satuan Artileri Medan (Armed) AD di Pulau yamdena, akan ada 1 batalion AD masing2 di P. Selaru dan P.Larat (MTB). Untuk Pengembangan angkatan Laut, Lanal Saumlaki ditingkatkan menjadi Pangkalan Utama (Lantamal)di dukung dengan pelabuhan, akan ada 1 Satuan Marinir di pulau Selaru, Pos AL di P. Larat, P.Seira dan P. Molu Maru dan Pelabuhan kapal selam AL di Pantai desa Tumbur P. Yamdena (MTB). Sedangkan untuk kekuatan Angkatan Udara, sudah ada Markas Satuan Radar AU di Ilngei P. Yamdena yang memantau pergerakan kapal dan pesawat asing, dan akan diperbesar dengan menyiapkan 1 Pangkalan AU di P. Selaru, dengan panjang landasan pesawat terbesar di Indonesia Timur yaitu 3,5 Km sebagai Pangkalan terpadu yang akan didarati berbagai pesawat tempur sampai dengan jenis heli scorpion milik AD dan AL sekaligus didarati pesawat komersil. Dengan demikian dengan adanya perbagai kekuatan militer tersebut maka sudah pasti Pengembangan Blok Masela tidak di tempat lain. sebab salah satu faktor yang sangat penting bagi investasi di suatu daerah adalah faktor keamanan, MTB lebih memadai.

    selain itu adanya kunjungan tamu dari berbagai kementrian dan rencana kunjungan presidena ke Saumlaki, sudah pasti lokasi kilang migas hanya di Kepulauan Tanimbar MTB.

    Demikian Komentar saya.

    Beni. Moriolkossu

    NB. yang mau komplain silakan hubungi saya di Nomor 082199677212

    Like

  8. inilah RAHASIA KEKUATAN MILITER SECARA BESAR-BESARAN DI BANGUN DI KEPAULAUAN TANIMBAR MTB
    Sesuai pernyataan Panglima TNI saat kunjungan ke Saumlaki dan P. Selaru(1/1/2016), yang tidak ditangkap oleh wartawan, mengatakan bahwa untuk pengembangan AD di MTB, batalion 734 lorlabay Saumlaki akan ditingkatkan menjadi 1 brigif yakni ada 3-4 batalion infatri AD dan 1 Satuan Artileri Medan (Armed) AD di Pulau yamdena, akan ada 1 batalion AD masing2 di P. Selaru dan P.Larat (MTB). Untuk Pengembangan angkatan Laut, Lanal Saumlaki ditingkatkan menjadi Pangkalan Utama (Lantamal) di dukung dengan pelabuhan/Armada laut , akan ada 1 Satuan Marinir di pulau Selaru, Pos AL di P. Larat, P.Seira dan P. Molu Maru dan Pelabuhan kapal selam AL di Pantai desa Tumbur P. Yamdena (MTB). Sedangkan untuk kekuatan Angkatan Udara, sudah ada Markas Satuan Radar AU di Ilngei P. Yamdena yang memantau pergerakan kapal dan pesawat asing, dan akan diperbesar dengan menyiapkan 1 Pangkalan AU di P. Selaru, dengan panjang landasan pesawat terbesar di Indonesia Timur yaitu 3,5 Km sebagai Pangkalan terpadu yang akan didarati berbagai pesawat tempur sampai dengan jenis heli scorpion milik AD dan AL sekaligus didarati pesawat komersil.

    Hal ini karena Tahun 1998 sudah ada berbagai penelitian yang dilakukan oleh peneliti Rusia dan Amerika di daratan dan perairan kepulauan Tanimbar, bahwa Sumbuhnya Migas Dunia dan terbesar dekat dengan kepaulauan Tanimbar. Botje Baltasar (Pakar Migas Nasional) menyatakan, Maluku memiliki 25 blok migas, dan 13 belas diantaranya berada dekat dan ada di kepuluan Tanimbar MTB. yakni Blok Masela, Babar Selaru, Palung Aru, Nort Masela, West Masela, Sout Masela, Nort Palung Aru, Sout palung Aru, West Aru 1, West Aru 2, Tatihu, Yamdena, dan Blok Tanimbar. dan yang sudah diexplorasi Blok Masela, Blok Babar Selaru, Blok Palung Aru, dan Blok west Aru 1 dan West Aru 2.
    Tetapi yang Mineral langkah yang terbesar yang sangat dicari dicari oleh 8 negara maju di dunia yaitu Uranium terdapat di P. Yamdena dan Perairan Tanimbar, sehingga kelak daerah ini menjadi rebutan, makanya kekuatan besar-besar militer dibangun disini.
    Kontroversial Pengembangan Blok Masela cuman Konspirasi terhadap Kekayaan SDA di Kepulauan Tanimbar. sehingga jangan heran kalau Rizal Ramli mengatakan dengan Blok Masela, kawasan ini akan lebih mewah dari Qatar.

    lihat saja pangkalan Amerika di Darwin karena kelak punya kepentingan dengan daerah ini. Pengamat Militer conie Rahakudini Bakrie mengatakan bahwa Australia sangat mengincar pulau Tanimbar karena selain migas Masela dan yang sangat mencengangankan kekayaan SDA di pulau tersebut. bisa dilihat di http://www.teropongsenayan.com/32643-connie-blok-masela-kekayaannya-7-kali-lebih-besar-dari-brunei.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s