Sosok Sederhana Itu Memilih Maluku sebagai Tempat Menutup Mata


AKTIVIS Pemuda Katolik yang juga seorang jurnalis dan seniman Maluku Rudi Fofid dalam tulisannya Seabad Uskup Sol: Yakis, Maleo, Sopi melukiskan Uskup Emeritus Andreas Sol,MSc yang meninggal di Ambon Sabtu pagi (26/3/206) adalah sosok teladan.

Beliau adalah, sosok sederhana, sangat sederhana. Pendoa yang tekun, pecinta alam, pecinta buku, pecinta sepeda, pecinta anak-anak, penulis yang hebat, perintis pendidikan dan kesehatan, pencair kebekuan dalam dialog agama-agama di Maluku,

Beliau juga sangat mencintai tanah Maluku dengan menentang izin HPH di Yamdena, dan terakhir ikut menentang masuknya PT Menara Group di Kepulauan Aru.

Pada tahun 1992, atas prakarsa Raja Soya Rene Rehatta, dibangunlah monumen peringatan kunjungan misioner Fransiscus Xaverius ke Ambon. Raja Rehatta berpendapat, meskipun penduduk Negeri Soya saat ini menganut Kristen Protestan, tetapi Xaveriuslah yang berjasa membaptis Raja dan penduduk Soya pada tahun 1546.

Raja Soya juga berpendapat, banyak karya Gereja Katolik di Ambon saat ini, diselenggarakan di atas tanah Negeri Soya. Sebab itu, katanya, Umat Katolik dan orang Soya perlu membina hubungan baik.

Atas dasar itu, pemuda, pastor, uskup, Ketua Sinode GPM, Raja dan Saniri Negeri Soya, berkumpul dalam perayaan tersebut. Salah satu seremoni yang digelar di pelataran gereja Soya adalah upacara angka pela. Umat Katolik diwakili Paroki Katedral dan Umat Kristen Protestan diwakili Jemaat GPM Soya.

Ketua Sinode GPM Bram Soplantila dan Uskup Amboina Andreas Sol lantas mengangkat gelas, minum sopi, diikuti tokoh-tokoh adat, agama dan para pemuda. Sejak 14 Februari 1992, kedua jemaat yakni Paroki Katedral dan Jemaat GPM Soya mengikat diri dalam pela rohani.

Seniman Dharma Oratmangun mengaku kaget ketika datang ke Biara MSC di Batugantung, menemui Uskup Sol. Sebab gambaran tentang kebesaran seorang Uskup Sol, seolah-olah buyar dengan kesederhanaan di depan mata, Di kamar kecil itu, hanya ada satu tempat tidur, lemari kayu dan meja kecil dan tumbukan buku-buku. Tidak ada kemewahan di situ.

Uskup Sol memang seorang misionaris MSC sejati yang taat pada kaulnya. Kutipan popular dari Leonardo da Vinci, bolehlah berlaku untuknya. Simplicity is the ultimate sophistication, kesederhanaan adalah kemewahan tertinggi.

Kesederhanaan sifat dan kecintaannya pada Tanah Maluku itu juga yang membuat dirinya memilih menutup mata di Negeri Raja-Raja, jauh dari sanak saudaranya di Negeri Belanda.

Tulisan lengkap Rudi Fofid tentang Uskup Sol bisa dibaca di link ini.

Foto-Foto Kenangan Uskup Emeritus Andreas Sol,MSc yang dikutip dari JUBILEUM SATU ABAD USIA MGR A.P.C.SOL,MSC

One thought on “Sosok Sederhana Itu Memilih Maluku sebagai Tempat Menutup Mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s