Incumbent Kabupaten Tertinggal di Provinsi Maluku


satumaluku.com- 15 Februari 2017 mendatang, ada lima daerah otonom di Maluku yang akan menggelar pilkada serentak, yakni Kota Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Buru, Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Maluku Tengah (Malteng).

Dari kelima, daerah otonom itu, tiga daerah di antaranya, akan menampilkan figur incumbent (petahana) dalam persaingan calon kepala daerah, yakni Kota Ambon, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan dua kabupaten lainnya, sudah bisa dipastikan, akan muncul figur baru yang menjadi bupati terpilih lantaran kedua bupati yang masih menjabat saat ini tak boleh lagi mencalonkan diri sebagai bupati karena aturan undang-undang.

Dari kelima kabupaten/kota yang menggelar pilkada, empat kabupaten di antaranya masuk dalam kategori kabupaten tertinggal di Indonesia. Keempat kabupaten itu adalah Maluku Tengah, Buru, Maluku Tenggara Barat dan Seram Bagian Barat. Hal ini didasarkan atas Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 131/2015 tentang Penetapan daerah tertinggal tahun 2015-2019 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 4 November lalu.

Kategori Kabupaten Tertinggal didasarkan atas lima pertimbangan, yakni geografis, sumberdaya alam, sumber daya manusia, prasarana dan Sarana, serta daerah Terisolasi, Rawan Konflik dan Rawan Bencana.

Dulu, sekitar Tahun 2007, jumlah kabupaten tertinggal di Indonesia berjumlah 199. Sedangkan hingga 2015 lalu, hanya tersisa 122 kabupaten dari total 416 kabupaten di Indonesia. Itu berarti sebanyak 77 kabupaten di Indonesia telah berhasil keluar dari citra sebagai daerah tertinggal lewat pembangunan yang luar biasa di daerahnya.

Jika Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Seram Bagian Barat dipastikan akan memunculkan figur baru yang akan mencoba meningkatkan status keterpurukan sebagai kabupaten tertinggal saat ini, sebaliknya di dua kabupaten lain yakni Buru dan Maluku Tengah masih akan memunculkan peluang status quo. Sebab kedua incumbent di dua kabupaten itu masih akan mencoba untuk kembali berkuasa, yakni Abua Tuasikal (Maluku Tengah) dan Ramly Umasugi (Buru).

Abua Tuasikal sudah memimpin Kabupaten Maluku Tengah sejak tahun 2012 lalu. Dia menggantikan kepemimpinan sang adik Abdullah Tuasikal yang menjadi Bupati Maluku Tengah selama dua periode 2002 – 2012.

Abua Tuasikal sendiri berlatarbelakang profesional. Dia seorang notaris beken di Maluku dan juga berpraktek di Jakarta. Hampir lima tahun kepemimpinannya masih belum mampu membawa Kabupaten Maluku Tengah sebagai salah satu kabupaten tertua di Maluku keluar dari lingkaran status kabupaten tertinggal di Indonesia.

Hal yang sama juga dilakoni Ramly Umasugi, incumbent di Kabupaten Buru saat ini. Berbeda dengan Abua Tuasikal, Ramly Umasugi adalah seorang politikus.

Dia adalah Ketua DPD Golkar Kabupaten Buru. Sudah memulai karir politik sejak menjadi anggota DPRD Kabupaten Buru dan menjadi wakil bupati hingga bupati, Ramly merupakan salah satu politikus yang sudah makan asam garam di Kabupaten Buru. Tetapi fakta menunjukkan dia belum juga mampu mengangkat harkat martabat masyarakat Buru dari status Kabupaten Tertinggal di Indonesia.

One thought on “Incumbent Kabupaten Tertinggal di Provinsi Maluku

  1. ukurannya apa. mas klo cm tinggal d jkt trus bicara bagitu pulang lalu bajalang d kampong spy lia lalu karja lai nyong

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s