Adat dan Budaya Sumber Inspirasi dan Tata Nilai Pembangunan di Maluku


SEI HALE HATU – HATU LISA PEI, SEI LESI SOU – SOU LESI EI


DASAR PEMIKIRAN

Sebagai insan Maluku, kita semua pasti sepakat bahwa hari ini kondisi kehidupan masyarakat dan perekonomian Maluku berada pada situasi yang kurang menguntungkan kita semua. Hal ini disebabkan oleh banyak variabel, baik yang kuantitatif maupun kualitatif.

Ada beberapa variabel yang dapat saya kemukakan di sini yang saya anggap menjadi bagian dari penyebab dari kemunduran pembangunan di Maluku. Inilah yang menjadi dasar pemikiran saya tentang beberapa problema sosial ekonomi di Maluku.

Perlu kesadaran tentang kesenjangan sosial, ekonomi baik yang nyata agregatif maupun bernuansa kualitatif. Saat ini tingkat kesenjangan sosial ekonomi masyarakat sangat tinggi. Saya mensinyalir bahwa dualisme sosial-ekonomi di Maluku sangat kuat dan terjadi baik antar individu, antar kelompok, antar golongan bahkan antar daerah.

Indikator operasional tidak bersifat identifikasi sektoral tetapi mempunyai sasaran taktis strategis. Bahwa dalam proses pembangunan kita harus akui bahwa kebijakan-kebijakan pembangunan di Maluku TIDAK MENYENTUH SUBSTANSI kebutuhan dan persoalan masyarakat di Maluku. Kebijakan pembangunan lebih di dominasi oleh pertimbangan dan kepentingan POLITIK dan bukan kepada pertimbangan KEBUTUHAN RAKYAT.

Adanya kesadaran bahwa terdapat deviasi antara tujuan yang akan dicapai dengan realitas. Kita juga sadari dan sepakat bahwa TINGKAT DEVIASI antara tujuan dan sasaran pembangunan sangat jauh, hal ini disebabkan POLA PERENCANAAN PEMBANGUNAN belum berdasarkan data base yang akurat dan mekanisme perencanaan yang sesuai.

Perlunya kesadaran bahwa Maluku dalam konteks pembangunan semakin tertinggal dalam berbagai aspek. Kesadaran ini sangat penting bagi kita semua baik masyarakat, pemerintah maupun elemen masyarakat yang lain seperti ormas, LSM dan generasi muda. Karena dengan KESADARAN yang tinggi maka akan timbul maksud untuk melakukan perubahan dalam proses pembangunan MALUKU atas dasar pengalaman masa lalu.

MENGENALI SIAPA DIRI KITA

Saya sadari benar bahwa kemajuan Maluku, sekarang dan akan datang sangat ditentukan oleh kesadaran dan kepedulian semua elemen rakyat Maluku dalam keterlibatannya di setiap agenda pembangunan yang berjalan.

Namun hal terpenting adalah bahwa kita semua diminta untuk MENGENAL DIRI KITA sebagai insan Maluku yang memiliki akar budaya dan adat-istiadat yang sangat kuat. Kita harus BERANI BERBANGGA DIRI SEBAGAI ORANG MALUKU. Insan Maluku memiliki karakteristik yang kuat dalam pendirian, prinsip dan semangat perjuangan. Insan Maluku bertumbuh dan berakar sebagai masyarakat ADAT yang BERADAB.

Saya melihat bahwa perkembangan pembangunan yang ada saat ini telah menggeserkan nilai-nilai adat budaya. Padahal nilai-nilai adat ini sesungguhnya merupakan landasan filosofis bagi orang Maluku di mana saja untuk menjalankan berbagai aktivitas pembangunan di Maluku. Karena itu MENGENALI DIRI SIAPA KITA adalah hal terpenting bagi semua insan Maluku untuk tetap berdiri di semua medan pembangunan untuk kemudian ikut berkontribusi bagi pembangunan di Maluku.

ADAT BUDAYA SUMBER INSPIRASI BUKAN AGAMA

Saya ingin sampaikan bahwa sumber inspirasi pembangunan di Maluku adalah ADAT BUDAYA dan bukan AGAMA. Dalam pemahaman saya manusia sebelum mengenal agama dia mengenal adat. Dia hidup dengan aturan-aturan yang disepakati dalam satu komunitas sehingga aturan-aturan itulah yang menjadi landasan dalam komunikasi sosial yang terbentuk dalam suatu komunitas sosial.

Dengan demikian ADAT BUDAYA yang menjadi warisan leluhur adalah sumber inspirasi yang sangat kuat untuk MEMPERSATUKAN semua orang Maluku dan bukan Agama. Hal ini karena wilayah agama memiliki prinsip-prinsip mendasar yang tidak bisa dilewati oleh pemeluknya. Agama apapun di muka bumi ini selalu mengajarkan KEBAIKAN dan KASIH SAYANG dan itu menjadi nilai religi yang harus kita SEPAKATI untuk dilakukan. Dan adat-budaya tidak bisa diperdebatkan dan dipertentangkan dengan agama. Karena keduanya merupakan TATA NILAI yang harus berjalan bersama mengiringi dinamika pembangunan di Maluku.

MELUPAKAN ADAT, ADALAH KEPUNAHAN BAGI MALUKU

Rakyat atau masyarakat Maluku adalah MASYARAKAT ADAT. Maluku dari aspek geokultural memiliki keragaman budaya potensial yang memiliki pesan-pesan sosiologis-religius yang sangat kuat bagi kita semua. Karena itu dalam berbagai proses aktivitas kemasyarakatan dan pembangunan di Maluku sudah sepantasnya kita memposisikan ADAT BUDAYA pada GARDA TERDEPAN.

Keragaman budaya ini harus menjadi satu KEKUATAN SPIRITUAL bagi semua orang Maluku untuk hidup secara damai dalam suasana persaudaraan secara rukun dan berbaur. Masyararakat Maluku tidak boleh hidup dalam sekat atau kanal-kanal sebab hal itu TIDAK MENCERMINKAN tatanan adat budaya kita. Sejarah Maluku sudah mencatat bahwa orang Maluku memiliki nilai persaudaraan yang sangat tinggi dan konsisten, dan ini adalah modal dasar yang sangat kuat bagi kita untuk membangun Maluku ke depan.

Saya masih ingat ada kapata Maluku yang mengatakan: SEI HALE HATU – HATU LISA PEI dan SEI LESI SOU – SOU LESI EI yang artinya SAPA BALE BATU – BATU TINDIS DIA dan SAPA LANGGAR SUMPAH – SUMPAH BUNUH DIA.

Dari Kapata ini jelas sudah mengisyaratkan kepada kita insan Maluku bahwa ADAT BUDAYA merupakan harga mati yang harus dijunjungi terus dari generasi ke generasi. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tetap menjadi bagian penting bagi kita dalam era millennium, tetapi bukan berarti kita meninggalkan bahkan melupakan adat.

Adat merupakan bagian normatif yang harus kita pegang untuk menjadi barometer jati diri orang Maluku di mana saja dia mengabdi. Unsur KE-MALUKU-AN harus tetap kita kedepankan, melalui kapasitas, prosefionalitas, integritas, dan kapabilitas kita sehingga orang Maluku dan Maluku sebagai suatu kesatuan wilayah geografis memiliki image yang positif dan mampu mewarnai semua proses dan tahapan pembangunan baik di Maluku maupun luar Maluku. Dengan demikian saya berpendapat bahwa ketika kita melupakan adat maka itu tanda KEPUNAHAN BAGI MALUKU

MEMBINA KEBERSAMAAN

Kebersamaan jangan hanya dijadikan RETORIKA POLITIK yang menyesatkan rakyat. KEBERSAMAAN, harus menjadi suatu tekad dan kemauan bagi orang Maluku untuk bangkit dari keterpurukan dan keterbelakangan yang ada. KEBERSAMAAN orang Maluku yang sesungguhnya hanya bisa terbangun di atas LANDASAN ADAT BUDAYA MALUKU.

Kita semua dituntut untuk bisa menerima dan menghargai perbedaan yang ada, karena di sanalah ada kedamaian yang hakiki bagi Maluku secara keseluruhan. Karena itu insan Maluku harus dapat menghindari berbagai bentuk DEPOLITISASI RAKYAT dengan isu-isu sempit dan dangkal yang sering muncul dalam berbagai diskusi, atau momen politik 5-tahunan di Maluku.

Rakyat Maluku harus cerdas untuk menyikapi isu-isu semacam ini. Kita semua harus SEPAKAT untuk menentang semua bentuk ISU DIKOTOMI dan ISU DUALISME yang dimunculkan oleh siapa saja, baik politisi maupun birokrat bahkan elemen masyarakat Maluku sekalipun. Memenangkan suatu tahapan proses politik dan demokrasi di Maluku bukan diperoleh dengan isu-isu sempit seperti saya katakan di atas, tetapi ISU PEMBANGUNAN yang jelas dan terukur sesuai persoalan masing-masing wilayah di Maluku.

SEKALI LAGI SAYA KATAKAN BAHWA MEMPERDEBATKAN / MEMPERTENTANGKAN PERBEDAAN HANYA MELEMAHKAN PERSATUAN DAN PERSAUDARAAN. LEMAHNYA PERSATUAN DAN PERSAUDARAAN HANYA MEMBUKA RUANG BAGI MUSUH UNTUK BERGERAK LUAS UNTUK MEMPORAK-PORANDAKAN MALUKU.

ullis

OLEH: JULIUS R. LATUMAERISSA

Dosen Fakultas Ekonomi Unitomo Surabaya
Bidang Perencanaan Daerah dan Keuangan Daerah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s