Pasar Tagalaya, Contoh Perencanaan yang Gagal di Kota Ambon


satumaluku.com- Pasar Tagalaya di kawasan Batu Gantung yang dibangun Pemerintah Kota Ambon, belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pedagang. Hal itu mencerminkan sebuah contoh dari perencanaan yang gagal.

Masalah Pasar Tagalaya mengemuka saat berlangsungnya fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) bakal calon (Balon) wali kota Ambon yang dilaksanakan oleh Partai Gerindra Provinsi maluku. Saat itu tim panelis mengajukan pertanyaan kepada salah satu balon wali kota Richard Louhenapessy, yang juga adalah petahana.

Saat menjawab pertanyaan tim panelis, Richard Louhenapessy mengakui kalau Pasar Tagalaya adalah contoh gagalnya sebuah perencanaan yang dilaksanakan oleh Bappeda, yang didasarkan pada keinginan dan bukan kebutuhan.

Menurut Richard, ada program-program yang didesain atas dasar keinginan dan itu targetnya outputnya memang jelas. ”Proyek selesai, pertanggungjawaban selesai. Tapi, outcome-nya, sama sekali tidak bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Diakuinya bahwa memang tidak seharusnya Pasar Tagalaya dibangun di lokasi tersebut dan memang pada kenyataannya, sampai saat ini meski pasar tersebut sudah terlihat lebih baik, tetap saja tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, dan tidak bisa dialihfungsikan karena akan bertentangan dengan nomenklatur anggaran yang ada.

”Itu masalahnya, dan kedepan kita akan betul-betul saring sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan,” tandasnya.

Richard menambahkan, saat ini telah terjadi perubahan paradigma perencanaan yang luar biasa, terutama dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, dimana dulu desa-desa nmasih ditempatkan sebagai objek, tapi sekarang tidak lagi.

”Dengan perubahan paradigma ini, desa sekarang berubah menjadi subjek. Mereka yang merasakan, mereka yang merencanakan dan juga yang melaksanakan sesuai dengan kebutuhan mereka dan sesuai dengan perencanaan yang ditetapkan,” terangnya.

Karenanya, Richard tegaskan kalau kedepan, seluruh perencanaan pembangunan yang mau dilaksanakan di Kota Ambon, harus benar-benar didasarkan pada kebutuhan masyarakat dan bukan keinginan para pemilik program. (febby kaihatu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s