400 Miliar untuk Fly Over Tak Menjawab Persoalan Kemacetan Kota Ambon


Saya secara pribadi mencoba memahami rencana pembangunan Fly Over Batu Merah salah satunya untuk mengatasi tingkat kemacetan kendaraan di wilayah ini.

Namun jika kita telusui secara saksama, bahwa tingkat kemacetan di Kota Ambon ini bukan semata-mata karena BANYAKNYA KENDARAAN, tetapi RENDAHNYA AKSES JALAN sehingga menimbulkan konsentrasi kendaraan dan penduduk pada satu titik.

Karena itu saya berpendapat lain, kalau Rp400 miliar untuk Fly Over, alangkah bagusnya dana sebesar itu digunakan untuk membangun JALAN LINGKAR LEITIMUR dari SERI-BATU GONG. Dasar pertimbangan saya sederhana, jika wilayah Leitimur di buka dengan JALAN LINGKAR LEITIMUR BERKUALITAS JALAN TOL maka bisa dipastikan bahwa wilayah ini akan menjadi salah satu kawasan ekonomi baru.

Dengan adanya JALAN LINGKAR LEITIMUR maka beberapa Kantor Dinas seperti Dinas Kehutanan Mardika, Dinas Pertanian Tanah Tinggi, Dinas PU Mardika bisa di relokasi ke Wilayah ini demikian juga Kantor TASPEN Maluku.

Dengan JALAN LINGKAR LEITIMUR yang dikoneksikan dengan Batu Meja, Batu Merah dan Halong, maka orang yang akan ke wilayah Karang panjang dan Gunung tidak perlu masuk Kota sehingga tingkat kemacetan dapat teruai. Kalau demikian maka apakah perlu untuk dibangun Fly Over, ataukah dibangun JALAN LINGKAR LEITIMUR.

Keuntungan lain adalah makin banyak akses jalan yang dibuka, sehingga tidak ada konsentrasi kendaraan pada satu titik. Di sisi lain pada jalur yang baru di buka akan muncul aktivitas ekonomi baru yang mengakibatkan implikasi ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pembukaan pasar dan akitivitas ekonomi lain di wilayah Leitimur akan menguangi kehadiran pendudukan dan kedenraan di Kota Ambon.

Jika tidak membangun JALAN LINGKAR LEITIMUR maka perlu dipikirkan untuk membangun jalan lingkar pulau ambon di sepanjang teluk ambon ini jauh lebih bermanfaat jika dibandingkan dengan Fly Over Batu Merah. Apa lagi ujungnya hanya di pertigaan tanjakan ke karang panjang.

Yang paling menarik, JALAN LINGKAR LEITIMUR, JALAN LINGKAR LEIHITU, dan JALAN LINGKAR KOTA AMBON dari LAHA – LATUHALAT, itu yang bagus dan strategis. (*)

latumaerissa

OLEH: JULIUS R. LATUMAERISSA
Dosen Fakultas Ekonomi Unitomo Surabaya
Bidang Perencanaan Daerah dan Keuangan Daerah

5 thoughts on “400 Miliar untuk Fly Over Tak Menjawab Persoalan Kemacetan Kota Ambon

  1. Sudah saatnya flyover bt merah
    Kompleksitas kemacetan kota ambon terjadi karena berbagai faktor yg mengakibatkan penumpukan aktivitas masyarakat di wilayah sirimau.
    Manajemen transportasi kota Ambon yg terus dibenahi ujung2nya akan sampai pada persoalan klasik ketersediaan ruas jalan dan penambahan dan penumpukan kenderaan serta terkosentrasinya pusat2 keramaian baru. Dari sisi Manajemen Transortasi FLYOVER layak untuk mengurangi kepadatan yg terjadi disaat- saat tertentu terutama Pagi dan sore hari.
    Kemacetan di kota Ambon terjadi sebagai akibat dari pembangunan wilayah2 pemukiman baru paskah 2003 yang mana kepadatan kota ambon hanya bertumpuk pada wilayah leitimur.

    Liked by 1 person

  2. Biarin aja pak..
    Apa yang udah di buat pemerintah pasti baik buat rakyat nya, apalagi pada pemerintahan hebat sekarang ini ( Jokowi), udah sepaket sama JMP pak..

    Like

  3. Kota Ambon hingga hari ini masih sebagai “nona manis” bagi Maluku dan orang-orangnya(termasuk Pemda Provinsi Maluku), bahkan bagi orang luar. Tetapi Maluku bukan hanya Kota Ambon – dalam pengertian luas konteks daerah Maluku. Sebagai nona manis memang selalu menarik mata dan hati oleh tampilan fisik permukaan kasatmata.

    Sah-sah saja bila harus dibuat cantik – ditata, guna menampilkan wajah kota yang nyaman dengan terbebas dari kesan bukan lazimnya kota modern. Akan tetapi banyak hal yang perlu tidak diabaikan. Kota Ambon mau dibangun jalan baru(fly over) atau jalan dalam tanah pun akan tetap saja macet dan bakal makin parah.

    Pemusatan atau konsentrasi arah dan tujuan untuk sebagian besar urusan dan keperluan di Maluku ada di pusat Kota Ambon, itu berarti lalulintas kendaraan masuk tidak terhindarkan setiap hari dan memadat dari waktu ke waktu.
    Masalah ada pada Kota Ambon selain sebagai sebuah kota utama di Maluku selama ini, juga menjadi pusat aktivitas Pemerintahan Daerah baik Pemkot maupun Pemprov, belum lg pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan, pendidikan dan wisata.
    Kondisi geografis kota Ambon dan pulau Ambon yang berkontur perbukitan dan gunung-gunung, sementara area datar pusat kota tidak seberapa luas. Bakal tidak sedikit dana untuk membangun – tambah, infrstruktur lalulintas kendaraan dan manusia Maluku.

    Beta setuju dengan pendapat membuka jalur-jalur baru di luar kota untuk pintu lain masuk dan keluar kota Ambon, serta merelokasi perkantoran Pemprov ke luar dari pusat kota Ambon.
    Ya bila perlu Pemrov Maluku pindah sekalian, membangun kota baru di luar pulau Ambon sebagai pusat pemerintahan provinsi, itu kalau pikir jangka panjang, tapi kayaknya orang lebih suka jangka pendek.

    Ok “gandong” bakomen banya-banya lae nanti ada yg tanggapi sinis, jadi sekadar saja dolo…..hehee…..hormat vor Bung Ulis.

    Like

  4. Untuk mencega macet…bt setuju untuk pembangunan jln lingkar,tpi untuk menghilangkan kemacetan d titik pertigaan jembatan batumerah,,,mobil” angkot batuh merah tidak boleh berada dsitu untuk melakukan aktifitas pemuatan penumpang smua hrus d pindakan dri situ ke teminal….dangke saran dri anak negri.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s