Belum Maksimal, Rehabilitasi Rawat Jalan Pecandu Narkoba di Maluku


satumaluku.com- Proses rehabilitasi rawat jalan bagi para korban penyalahgunaan narkoba di Maluku selama ini belum berjalan maksimal.

Fakta ini terungkap dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Tingkat Daerah Program Rehabilitasi Rawat Jalan, berlangsung Rabu (27/4/2016) di Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku. Rakor dilaksanakan Bidang Rehabilitasi BNNP Maluku untuk menyatukan persepsi dan meningkatkan pelayanan dalam program rehabilitasi rawat jalan bagi para korban penyalahgunaan narkoba.

Rakor diikuti oleh 12 peserta dari Dinas Kesehatan Kota Ambon, RSUD dr Haulussy, RSU Tulehu serta para Asesor yang sudah terlatih dari Puskesmas Tiahahu, Waihaong, Poka dan Hitu, dipimpin oleh Kepala Bidang Rehabilitasi BNNP Maluku, dr Arthur Souripet.

Berbagai persoalan terkait rehabilitasi rawat jalan dibahas dalam rakor tersebut, mulai dari penanganan korban penyalahgunaan narkoba sampai pada tata cara pelaporan yang harus dibuat oleh seorang asesor.

Dalam rakor itu juga terungkap kalau sebetulnya, selain di BNN, proses rehabilitasi rawat jalan selama ini belum berjalan maksimal. Ada yang beralasan bahwa tidak memiliki ruangan sama sekali.

”Bagi saya, kalau di rumah sakit tidak mungkin tidak ada ruangan. Yang terpenting, ruangan tersebut jangan terbuka, karena pasien korban penyalahgunaan narkoba ini biasanya memerlukan suasana atau tempat yang nyaman,” kata dr Arthur Souripet.

Selain itu, ada juga yang memberikan masukan dan meminta BNN agar ikut mendampingi jika ada kegiatan turun lapangan. ”Kami siap, bahkan sampai pada pemeriksaan urine juga kami siap lakukan,” tandasnya.

Menurut dr Arthur, sekarang ada banyak ilmu dan program baru dalam penanganan seorang pasien korban penyalahgunaan narkoba. Tidak semua dokter, psikiater atau perawat yang bisa menangani pasien pecandu narkoba. ”Harus yang benar-benar sudah dilatih dan memiliki sertifikat,” ujarnya.

Terkait dengan program rehabilitasi, menurut dr Arthur ada beberapa tahapan yang harus dilalui sampai seseorang dinyatakan sembuh.

Program rehabilitasi rawat jalan, berlangsung selama tiga bulan. ”Setelah keluar rehab, pasien akan masuk ke rumah damping selama dua bulan,” tandasnya.

Hanya saja, saat ini BNNP Maluku belum mengaktifkan rumah damping, dan baru akan diaktifkan pada tahun 2017 mendatang. Untuk menangani pasien di rumah damping ini pun, katanya, memerlukan tenaga yang dilatih khusus karena selama di rumah damping mereka juga akan diberikan konseling serta berbagai pengetahuan dan ketrampilan, bekerja sama dengan BLK serta tetap dibawah pemantauan BNN.

Setelah dari rumah damping, pasien akan masuk program pascarehab selama dua bulan. Untuk pascarehab, bisa dilakukan di BNNP Maluku atau di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Passo.

”Dari situ, setelah dua bulan baru masuk ke program rawat lanjut. Kalau pascarehab kegiatannya lebih banyak dengan kelompok, pada rawat lanjut, pertemuan kelompok hanya sekali, sisanya adalah home visit,” jelasnya.

Khusus untuk program home visit, katanya, BNNP Maluku sudah mengirimkan dua orang untuk mengikuti pendidikan konselor.

Untuk tahun 2016 ini, BNNP Maluku menargetkan rehabilitasi bagi 1.000 korban penyalahguna narkoba. Dan khusus untuk tahun 2016, lokasi rehabilitasi di SPN Passo dan Rindam Suli sudah ditiadakan, dialihkan ke Lapas dan RSKD Nania. (febby kaihatu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s