Saatnya Jazirah Menjadi Kabupaten Baru


Indonesia merupakan Negara Kepulauan yang terluas di dunia jumlah pulaunya sebanyak 17.508 dan luas wilayahnya 1,9 juta mil persegi, dimana lebih dari 50% merupakan wilayah perairan laut. Dan Provinsi Maluku dikenal sebagai provinsi kepulauan memiliki luas 712.479,69 km2, dengan luas lautan 658.294,69 km2 (92,4%) dan luas daratan 54.185 km2 atau sebesar 7,6% (Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku 2009).

Maluku sering dijuluki dengan Provinsi Seribu Pulau, karena wilayah daratannya didominasi oleh pulau-pulau kecil. Jumlah pulau di Provinsi Maluku berdasarkan identifikasi citra satelit dari LAPAN mencapai 1.412 buah (Titaley 2006 dalam Susanto et al. 2007).

Maka pemanfaatan dan pengelolahan perarian atau laut sebagai media interaksi ekonomi dan pembangunan meliputi berbagai lingkungan bisnis atau usaha, misalnya dalam kegiatan transportasi dan perdagangan antar pulau, perikanan, kepelabuhan, budidaya laut, parawisata dan lainnya. Lingkungan bisnis ini merupakan daya tarik bagi investor (dalam dan luar negeri) untuk menanamkan Modalnya di bidang yang potensial dan prospektif.

Dengan melihat konsep ekonomi kepulauan diatas maka yang mempunyai nilai strategis adalah JAZIRAH sesuai dengan letak geografis wilayah jazirah yang dimana meliputi kecamatan Salahutu, Leihitu dan Leihitu Barat yang berada tepat di pulau ambon bagian utara yang dimana merupakan pintu masuk bagi Kab.Buru, Kab.Bursel, Kab.SBB dan Kab.SBT dan juga bagi seluruh penduduk Kab. MAL-TENG yang berada di Pulau Haruku, Nusa Laut , Saparua, dan Seram.

Maka sudah saatnya jazirah dimekarkan menjadi kabupaten, dengan melihat kondisi keterpurukan pembangunan yang terjadi di jazirah maka langkah awal untuk bisa membangun jazirah kedepan yaitu menjadi kabupaten baru. Tujuannya agar mampu untuk mengembangkan Sumberdaya Manusia (Penduduk) dan sumber – sumberdaya lainnya ( terdiri dari sumberdaya alam, sumberdaya modal, sumberdaya teknologi, sumberdaya lainnya ) dengan konsep ekonomi kepulauan dimana laut sebagai Fasilitator dan dinamisator Pembangunan berwujud selat, teluk, dan laut.

Sehingga sebagai garis yang berfungsi mendorong pengembangan ekonomi dan penguatan pelaksanaan otonomi daerah. Potensi ini yang mampu membawa jazirah menuju calon daerah otonom yang di rekomendasikan menjadi daerah otonom baru dengan potensi ekonomi dan potensi daerah dengan jumlah penduduk yang sudah mencapai syarat pemekaran . (*)

aldinho

Penulis : Jamaluddin Mahulette, ST
Ketua LSM-PLANNING MALUKU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s