Pattimura dan Karakter Orang Maluku


Setiap tanggal 15 Mei, orang Maluku di seantero jagat merayakan Hari Pattimura. Tidak hanya orang Maluku di wilayah Maluku saja yang bergembira dalam perayaan tersebut, tetapi juga di berbagai daerah, hingga orang Maluku di luar negeri, termasuk Belanda, semua larut dalam semangat Pattimura.

Pattimura seakan sudah menyatu dengan masyarakat Maluku. Orang Maluku dimanapun berada, identik dengan Pattimura. Parang, salawaku dan sifat kepahlawanan Pattimura, sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Maluku.

Pattimura juga identik dengan darah kapitan. Mereka yang bergelar Kapitan adalah orang-orang yang berani dan tegas dalam bersikap. Seorang kapitan juga dikenal sebagai figur yang mau berkorban jiwa dan raga serta membela dan melindungi masyarakatnya.

Di masa lalu, Pattimura melakukan perjuangan fisik melawan tentara Belanda. Menjelang akhir hayatnya di tiang gantungan, Pattimura secara tegas memberikan peringatan kepada Belanda yang menguasai wilayah Maluku dan wilayah Hindia Timur/Hindia Belanda, bahwa “Pattimura Tua akan mati di tiang gantungan, tetapi akan bangkit Pattimura-Pattimura Muda”.

Faktanya, setelah tahun berganti tahun hingga ke-199 tahun berlalu, banyak Pattimura-Pattimura Muda yang meneruskan perjuangannya. Mereka berjuang di jalur profesi masing-masing. Munculnya sejumlah anak Maluku yang mendapat pengakuan sebagai Pahlawan menjadi bukti bahwa Pattimura-Pattimura Muda telah bangkit.

Banyaknya anak-anak Maluku yang berprestasi baik di jalur profesi maupun jalur pendidikannya menunjukkan semangat Pattimura tak pernah hilang. Pattimura bagi anak-anak Maluku saat ini merupakan representasi keberanian, semangat dan kerja keras serta kecerdasan.

Karakter orang Maluku memang unik. Sikap keras kepala (kepala batu), berani (bahkan mempertaruhkan nyawa) dan loyal sudah menjadi ciri yang gampang dikenali. Ciri tersebut sudah mendarah daging dan mengalir dalam diri sebagian besar orang Maluku, tidak saja orang Maluku yang lahir di tanah Maluku tetapi juga di berbagai tempat di belahan bumi.

Belanda yang menjajah Maluku dan wilayah Hindia Belanda (belakangan bernama Indonesia) ratusan tahun, sangat mengetahui karakter orang Maluku. Karenanya, ketika perlawanan Pattimura dan Christina Martha Tiahahu dipadamkan dan rempah-rempah di Maluku tak lagi jadi primadona, Belanda memanfaatkan sikap loyal dan berani orang Maluku dengan merekrut mereka dalam dinas militer sebagai tentara Hindia Timur/Hindia Belanda (Koninklijk Nederlandsche Indsiche Leger/KNIL).

Orang-orang Maluku diyakini merupakan rekrutan awal tentara Belanda dibanding suku-suku lain di Indonesia, yakni tercatat sejak zaman Kapitan Yongker.

Sejarah penjajahan Belanda mencatat, UU kolonial yang berlaku saat itu hanya membolehkan KNIL merekrut suku Jawa, Maluku, Manado, Timor, Aceh, Madura, Bugis, Alifuru Halmahera, dan Melayu. Dan sudah menjadi hal yang lazim bahwa orang Maluku ditempatkan dalam kompi sendiri (Sejarah Tentara,Petrik Matanasi, 2011).

Pada Tahun 1916, anggota KNIL asal Jawa sebanyak 17.854 orang, Sunda 1.792, Madura 151, Bugis 36, Melayu 1.066, Maluku 3.519, Manado 5.925 dan Alifuru Halmahera 59 orang. Sedangkan pada 1936, jumlah anggota KNIL asal Jawa 13.000 orang, Manadi 5.000, dan Maluku 4.000 orang dari total 33.000 serdadu KNIL.

Ketika perang, kesatuan KNIL dipecah dalam beberapa unit yang lebih kecil. Biasanya sebuah unit disusun berdasar sifat dan karakter masing-masing suku.

Pada sebuah batalyon infanteri, terdapat empat kompi yang berbaris dalam empat barisan. Kompi pertama adalah gabungan kompi orang Manado dan Belanda. Kompi kedua adalah orang-orang Maluku (yang identik dengan sebutan orang Ambon). Kompi ketiga dan keempat, adalah Orang Jawa dan Sunda campur beberapa suku lain. Suku Batak baru boleh direkrut pada tahun 1929.

Setiap kompi pada barisannya memiliki tugas masing-masing. Kompi pertama yang berhadapan dengan musuh bahkan masuk garis pertahanan musuh, bertugas menghitung kekuatan lawan. Mereka juga diperbolehkan membuat lubang pertahanan jika mendesak.

Kompi kedua yang beranggotakan orang Maluku merupakan pasukan penggempur, bertugas melibas musuh. Kompi kedua bisa ditarik mundur sebelum semuanya hancur oleh gempuran pasukan kompi tersebut.

Setelah kompi kedua ditarik, kompi ketiga dan keempat bertugas menduduki daerah lawan menciptakan perdamaian.

Begitu jelasnya sikap orang Maluku ketika bertugas saat menjadi tentara, sampai-sampai mengesankan tentara KNIL identik dengan Maluku. Padahal faktanya banyak suku yang direkrut.

Itu baru satu cerita di satu bidang yakni kemiliteran di masa lalu. Banyak juga cerita tentang bagaimana para pemuda Maluku ikut berjuang di jalur politis untuk mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan, secara tegas memperjuangkan agar negara Indonesia berdasarkan Pancasila yang nasionalis namun religius, walau penentangan yang mereka terima cukup keras juga.

Sikap keras kepala (kepala batu) dan tak mau dijajah (diintimidasi) yang kadang menjadi jati diri orang Maluku juga nampak, ketika sebagian pemuda Maluku, menyatakan kemerdekaan Republik Maluku Selatan (RMS) tahun 1950 lalu saat Indonesia sedang dalam masa pergolakan di berbagai daerah.

Dalam konteks kekinian, dari segi berbangsa dan bernegara, sikap melakukan perlawanan terbuka seperti deklarasi pendirian negara RMS di masa lalu itu memang dinilai sebagai bentuk makar. Tetapi, ya itu tadi, begitulah salah satu karakter orang Maluku, yakni keras kepala (kepala batu) dan tak mau diintimidasi. Sikap keras kepala terkadang diekspresikan secara jelas walau terkesan naif karena memang tidak terbiasa dengan kepura-puraan.

Masalahnya sekarang, perubahan telah terjadi di hampir semua lini kehidupan. Arus ilmu dan teknologi mau tidak mau menuntut semua orang untuk bersikap adaptif dalam merespon perubahan.

Saat ini, bukan lagi era yang terkuat yang mampu bertahan, tetapi yang mampu menyesuaikan diri dalam merespon perubahan yang akan bertahan dan sukses.

Perubahan selalu datang bersama sahabat-sahabatnya, yaitu resistensi, penyangkalan dan kemarahan. Kita harus bisa mengendalikan diri dan terus meningkatkan kualitas diri kita masing-masing ketika menghadapi perubahan.

Karakter-karakter dasar kita sebagai orang Maluku sudah tercermin dengan jelas pada sosok Pattimura. Sekarang saatnya, kita memberdayakan karakter dasar tersebut untuk meraih prestasi yang berguna bagi diri kita dan masyarakat banyak.

Tak ada satupun manusia di dunia ini yang bisa memilih dia dilahirkan untuk menjadi suku apapun. Karena itu berbanggalah, jika kita dilahirkan sebagai Orang Maluku, yang mewarisi sikap-sikap kepahlawanan dalam diri Pattimura.

Kita juga harus ingat, orang Maluku ada dimana-mana. Ada di Maluku, Jawa, Kalimantan, Sumatera, Papua, dan berbagai daerah lainnya di Indonesia. Bahkan banyak juga orang Maluku di luar negeri, seperti Belanda, Amerika, Eropa, Australia, maupun negara-negara lain di dunia.

Tempat tinggal yang berbeda tentu melahirkan berbagai kepentingan yang berbeda juga. Konteks pemahaman dan tujuan hidup orang Maluku di Maluku, dengan orang Maluku di luar Maluku pasti berbeda-beda. Tetapi, jangan lupa, kita adalah entitas yang sama, Maluku.

Ajaran hidup leluhur orang Maluku, hidup laeng sayang laeng, ale rasa beta rasa, sagu salempeng dipatah dua, pela dan gandong, dan berbagai ajaran rasa persaudaraan lainnya juga harus terus kita pelihara dan terus kita lestarikan dalam konteks kekinian. Karena ajaran-ajaran leluhur itu menjadi bagian dan ciri hidup orang Maluku.

Selamat Merayakan HARI PATTIMURA… LAWAMENA HAULALA…

 

nevy hetharia2

Penulis: NEVY HETHARIA
Orang Maluku
Tinggal di Jakarta

4 thoughts on “Pattimura dan Karakter Orang Maluku

  1. …….. Di masa lalu, Pattimura melakukan perjuangan fisik melawan tentara Belanda. Menjelang akhir hayatnya di tiang gantungan, Pattimura secara tegas memberikan peringatan kepada Belanda yang saat itu menjajah Indonesia, bahwa “Pattimura Tua akan mati di tiang gantungan, tetapi akan bangkit Pattimura-Pattimura Muda”………..

    apakah SAAT ITU Pattimura berjuang untuk dan atas nama indonesia ????.
    apakah sudah ada indonesia ??????

    Like

      1. Setuju…Pattimura berjuang utk tanah dan rakyat Maluku. Dan Pattimura muda juga harus berjuang utk kemajuan Maluku.
        Bangga jadi anak MALUKU itu wajib!!

        Like

  2. Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. [1]

    Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s