Dua wanita Maluku Baihajar Tualeka (kanan) dan Elsye Syauta (kiri) terpilih sebagai Wanita Inspiratif 2015 versi Tupperware SheCAN! Award 2015. foto oleh saswaty matakena

Perlunya Sentuhan Pemimpin Perempuan untuk Warga Kota Ambon


SUDAH banyak kaum perempuan menjadi pemimpin di Indonesia. Ada yang menjadi presiden dan wakil presiden seperti Megawati Soekarnoputri, ada yang menjadi gubernur, wakil gubernur, walikota dan bupati maupun wakil walikota serta wakil bupati.

Selama kepemimpinan mereka, banyak prestasi yang sudah ditoreh. Megawati misalnya, berhasil menciptakan Indonesia yang bersahabat. Transisi kepemimpinan Orde Baru dan Orde reformasi berjalan smooth. Di masa kepemimpinan Megawati, proses pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat berjalan dengan aman.

Di masa kepemimpinannya, Megawati, wakil presiden dan presiden wanita pertama RI itu juga mampu meredam berbagai gejolak keamanan yang terjadi di Indonesia saat masyarakat terjebak euforia kebebasan demokrasi.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga membuktikan kaum perempuan mampu memimpin dan mengatasi permasalahan kota yang sangat rumit. Di bawah kepemimpinan Risma, wajah Kota Surabaya yang dulu terkesan “keras” dan semrawut, kini berubah menjadi kota yang “adem” dan hijau.

Sejumlah kepala daerah perempuan yang menjadi bupati maupun wali kota juga telah banyak menoreh prestasi. Dan satu hal yang pasti, banyak pemimpin perempuan yang menyelesaikan tugas tanpa tercela. Mereka bebas dari tudingan melakukan korupsi.

Hanya kasus Gubernur Banten Ratu Atut dan Bupati Banyuwangi Ratna saja yang sedikit mencoreng kepemimpinan perempuan Indonesia karena dugaan kasus korupsi. Sisanya, relatif bersih.

Di Maluku, kita sudah terbiasa dengan kepemimpinan perempuan. Christina Martha Tiahahu adalah figur perempuan kabaresi yang telah mendapat pengakuan sebagai Pahlawan.

Tahun 1990-an hingga awal 2000-an, Wakil Gubernur Maluku dijabat oleh perempuan asal Kei, Maluku Tenggara, Paula Renyaan. Di Kota Ambon juga ada figur perempuan yang menjabat sebagai Wakil Wali Kota yakni Olivia Latuconsina. Di Kabupaten Seram Bagian Timur juga ada Wakil Bupati Sitty Suruwaky.

Itu di level kepala daerah. Belum lagi di level birokrasi, ada perempuan yang menjabat Sekdaprov dan Sekda Kota. Belum lagi para perempuan yang menjabat sebagai kepala dinas di berbagai SKPD baik di tingkat provinsi maupun Kota/Kabupaten. Hal itu membuktikan bahwa kaum perempuan di Maluku memiliki kemampuan leadership yang memadai dan bisa bermafaat untuk kesejahteraan masyarakat.

Di luar sistem pemerintahan, sejumlah perempuan di Maluku juga menunjukkan kemampuan di atas rata-rata. Mereka bergerak di lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan melayani masyarakat secara langsung.

Nama-nama perempuan Maluku seperti Elsye Syauta, Baihajar Tualeka, Hilda Rolobessy, Suster Brigita PBHK, Lucy Pelouw, Erma Betaubun dan Rosa Penturi, adalah sedikit dari sejumlah perempuan di Maluku yang telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membangun masyarakat. Apa yang telah mereka lakukan selama ini, pantas diberi apresiasi karena melakukan pemberdayaan masyarakat lewat pikiran, tenaga, dan waktu yang relatif terbatas, tanpa mengandalkan anggaran APBD.

Mereka pantas disebut sebagai pahlawan-pahlawan penerus jejak Christina Martha Tiahahu dalam konteks kekikinian. Wajar saja, jika pengorbanan mereka mendapat pengakuan secara nasional seperti yang diterima Baihajar Tualeka dan Elsye Syauta yang terpilih sebagai Wanita Inspiratif 2015 versi Tupperware SheCAN! Award 2015.

Masyarakat Kota Ambon yang tengah mencari sosok pemimpin baru di tahun 2017, idealnya mempertimbangkan sosok-sosok perempuan berprestasi di Maluku menjadi Wali Kota, bukan lagi menjabat wakil wali kota yang hanya sebagai pelengkap.

Kita sudah lama terjebak pada mitos kepemimpinan kaum pria yang akibatnya menghadirkan pemimpin yang “itu itu lagi”. Padahal perubahan sudah terjadi di segala lapisan hidup kemasyarakatan.

Masalah perkotaan sudah semakin kompleks sehingga Ambon perlu figur perempuan yang dipercaya menjadi Wali Kota. Banyak kasus dekadensi moral masyarakat dan masalah sosial kemasyarakatan lainnya yang perlu penanganan secara detail. Hal tersebut akan lebih pas berada dalam sentuhan pemimpin perempuan.

Sudah menjadi common sense bahwa perempuan punya kesempatan sama dengan lelaki untuk memimpin sebuah negeri. Secara biologis perempuan mampu mengerjakan banyak hal (multi tasking) dan seluruhnya bisa dilakukan dengan konsentrasi yang sama.

Ini tidak ditemui pada lelaki yang kurang mampu menghadapi kompleksitas masalah dan cenderung memperbaikinya satu-satu, sementara perempuan ingin semua bisa cepat selesai dengan baik serta memahami masalah lebih prioritas agar solusi makin cepat.

Perempuan juga mampu mengontrol emosinya. Dia tidak sembarangan mengucurkan air mata atau marah berlebihan di depan orang banyak. Kepemimpinan seringkali membutuhkan figur seperti ini sehingga dalam mengambil keputusan lebih matang.

Karakter alami, banyak perempuan menyukai keindahan, kedamaian, ketenangan, dan tentunya kondisi ini bisa menyejukkan masyarakat.

Satu hal yang umumnya dimiliki kaum perempuan adalah sifat empati yang menjadi sifat dasar perempuan. Oleh sebab itu, mereka lebih disenangi sebagai pemimpin karena bisa bertoleransi.

Kita sudah tidak butuh pemimpin yang “tukang kewel”, dan bergaya ambtenaar. Atau juga pemimpin yang suka melakukan pencitraan, padahal moralitasnya patut dipertanyakan.

Saat ini warga Kota Ambon butuh pemimpin yang bersifat simpatik, penyemangat, dan tegas, serta detail dalam memahami dan menyelesaikan sebuah masalah. Pemimpin yang tidak akan meninggalkan kontroversi dan suka digosipkan di masyarakat.

Kota Ambon butuh pemimpin-pemimpin yang sudah teruji berbuat kepada masyarakat tanpa mengandalkan APBD. Karena disitulah, kemampuan leadership dan kepedulian terhadap masyarakat diuji.  

Warga Kota Ambon saat ini lebih membutuhkan pemimpin yang peduli pada upaya meningkatkan moralitas generasi muda. Butuh pemimpin yang peduli dengan pendidikan generasi muda. Bukan lagi pemimpin yang hanya memikirkan karir politik semata dan suka menimbulkan gunjingan politik. 

Warga Kota Ambon butuh pemimpin yang bisa mencegah meluasnya kasus-kasus penyakit masyarakat, butuh penyelesaian masalah mabuk-mabukan di kalangan generasi mudah, butuh penyelesaian penyakit menular seperti HIV/AIDS dan penyakit-penyakit moral lainnya. Bukan yang hanya sekedar pencitraan semata. (Alda Kezia/Aktivis Perempuan Satu Maluku Community)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s