Untuk Industrialisasi & Rumah Tangga, Maluku Butuh Power Plants Geothermal dan Tenaga Air 3.000 MW


Sebagai sumber penerangan dan energi lain baik di sektor rumah tangga maupun industri, listrik memegang peranan yang sangat vital. Bagi kegiatan industri, listrik merupakan sumber energi untuk menggerakkan kegiatannya, sedangkan bagi rumah tangga selain sebagai sumber penerangan listrik juga digunakan untuk berbagai keperluan lainnya.

Berdasarkan data BPS Maluku Tahun 2015, dinyatakan bahwa produksi listrik di Maluku selama kurun waktu 2010-2014 mengalami kenaikan baik di Kota Ambon maupun di Kota Tual. Produksi listrik untuk PLN cabang Ambon adalah sebesar 291.677 ribu Kwh pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 338.406 ribu Kwh pada tahun 2011.

Produksi tersebut terus mengalami peningkatan pada tahun 2014 menjadi sebesar 461.833 ribu Kwh. Produksi PLN cabang Ambon jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan produksi PLN Cabang Tual. Produksi PLN cabang Tual sebesar 57.109 ribu Kwh pada tahun 2010 dan 60.835 ribu Kwh pada 2011.

Pada tahun 2014 produksi PLN terus mengalami peningkatan menjadi sebesar 89.451 ribu Kwh. Kenaikan sebagaimana yang digambarkan di atas belum mampu menjawab kebutuhan ketersediaan energy listrik baik bagi rumah tangga maupun sektor industri, sehingga pemerintah tetap perlu untuk membangun pembangkit listri dalam kapasitas besar berdasarkan potensi dan kekayaan alam yang dimiliki.

PRIORITAS PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PEMBANGKIT LISTRIK 2018-2028

Kondisi belum meratanya akses sambungan listrik ini tidak terlepas dari masih terbatasnya kapasitas pembangkit listrik. Persoalan ketersediaan pasokan listrik semakin nyata dialami di daerah-daerah terpencil, pedalaman juga daerah perbatasan, seperti daerah-daerah di Kabupaten MBD, MTB. Demikian halnya dengan di Pulau Buru, Pulau Seram, Ambon dan Aru, Tual dan Maluku Tenggara yang menghadapi persoalan dari defisit pasokan listrik yang kerap terjadi dan konektivitas jaringan yang belum menjangkau seluruh wilayah.

gambar 1
Gambar-1: Rencana Peningkatan Infrastruktur Tenaga Listrik

Sementara itu, pembangunan infrastruktur terkait energi diharapkan menjembatani kondisi belum meratanya ketersediaan energi antar daerah. Data rasio elektrifikasi menunjukkan kesenjangan yang signifikan antara di Jakarta dengan 95% rumah tangganya telah memiliki akses sambungan listrik dengan rumah tangga di Maluku diperkirakan baru sekitar 27% rumah tangganya telah tersambung dengan akses listrik.

 

Oleh sebab itu, pembangunan infrastruktur diperlukan untuk memperkuat aksesibilitas dan daya dukung ketersediaan energi. Hal ini dilakukan antara lain melalui pembangunan pembangkit listrik baru maupun meningkatkan kapasitas pembangkit yang telah ada dan perluasan cakupan wilayah pembangunan transmisi listrik dengan disertai upaya untuk melakukan konversi sumber energi pembangkit listrik dari BBM menjadi non-BBM dan mendorong pemanfaatan potensi sumber daya air untuk PLTA/PLTU.

Sampai akhir tahun 2028, Pemerintah harus menargetkan rasio elektrifikasi di Maluku mencapai 97% dengan dukungan kapasitas terpasang pembangkit listrik 3.000 MW dari kondisi di 2014, antara lain melalui pembangunan pembangkit listrik baru.

Penambahan kapasitas listrik baru ditargetkan mulai meningkat secara bertahap mulai tahun 2019, sementara pada tahun 2020 difokuskan pada perluasan jaringan distribusi kelistrikan dengan target perbaikan rasio elektrifikasi menjadi sekitar 85% meningkat dari tahun sekarang (lihat Gambar-1).

gambar2
Gambar-2: Beberapa Alternatif Sumber Pembangkit Tenaga Listrik

Disisi lain pemerintah juga harus memiliki suatu pola perencanaan alternatif sumber pembangkit tenaga listrik (lihat Gambar-2) yang mampu menyediakan sumber energy listrik bagi pengembangan industrialisasi di Maluku, dan juga masyarakat konsumen. Dengan kapasitas yang besar maka kegiatan investasi dan industrialisasi akan semakin baik dan kemudian akan mendorong pertumbuhan sektor riil yang bermuara kepada pertumbuhan ekonomi dari sisi penawaran akan semakin kuat.

Pembangunan pembangkit listrik dalam kapasitas besar sangat diharapkan oleh masyarakat Maluku, karena dengan demikian sektor ini akan memberikan peluang kesematan kerja yang besar bagi putra-putri Maluku yang berkualitas. Penciptaaan kesempatan kerja besar akan mengurangi pertumbuhan angka pengangguran, dan mendorong kenaikan perolehan pendapatan masyarakat.

Dampak sistemik yang lain adalah, pertumbuhan dan perkembangan usaha sakala kecil dan menengah akan semakin baik di berbagai wilayah desa, kecamatan dan Kabupaten/kota di Maluku. Penyediaan energy listrik yang memadai bagi dunia rumah tangga dan sektor industri akan mendorong peningkatan pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi daerah.

Dengan adanya listrik, rumah tangga dapat mengakses informasi lewat media elektronik seperti radio, televisi, internet dan lain-lain. Dengan informasi yang didapat secara tidak langsung juga telah menambah wawasan dan pengetahuan dari rumah tangga tersebut.

Untuk itu sudah sewajarnya pemerintah provinsi Maluku, berkewajiban untuk melakukan suatu pola perencanaan pembangunan pembangkit listrik di Maluku dalam skala besar dalam waktu yang akan datang agar dapat memenuhi pelayanan kepada publik di Maluku. (*)

JULIUS  R. LATUMAERISSA1

Penulis: Julius R. Latumaerissa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s