Wapauwe, Masjid di Kaitetu, Tertua di Indonesia Timur


JIKA Anda sedang berkunjung ke Pulau Ambon saat bulan Ramadan ini, sempatkanlah mampir di Masjid Wapauwe. Masjid tertua di kawasan Indonesia Timur yang sudah berumur tujuh abad dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.


Menurut sejumlah sahabat yang menyempatkan sholat di masjid dengan bentuk sangat sederhana ini, ada kenyamanan dan kesyahduan tersendiri yang dirasakan. Banyak warga yang memanfaatkan bulan Ramadan ini untuk menjalankan salat lima waktu, hingga tarawih di masjid yang berada di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah ini. Bahkan, warga dari Kota Ambon tak jarang ada yang menyempatkan diri untuk salat di sini.

Arsitekturnya sangat unik dan bersifat elementer. Konstruksi bangunan masjid ini sama sekali tidak menggunakan paku, yang menyatukan setiap bagian-bagiannya sehingga dapat dibongkar-pasang. Untuk menyambungkan setiap bagian bangunan, perancangnya hanya menggunakan pasak kayu. Konstruksi ini memungkinkan masjid dapat dipindah-pindahkan.

Berdirinya Masjid Wapauwe di Negeri Kaitetu tidak terlepas dari hikayat perjalanan para mubaligh Islam yang datang dari Timur Tengah membawa ciri khas kebudayaannya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat yang mendiami bagian utara Pulau Ambon, yakni jazirah Hitu yang dikenal dengan sebutan Tanah Hitu. Ciri khas ini kemudian melahirkan satu peradaban yang bernuansa Islam dan masih bertahan dilingkungan masyarakat setempat hingga saat ini seperti, budaya kesenian (hadrat), perkawinan, dan khitanan.

Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke Tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk mengembangkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Essen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.

Menurut warga Kaitetu, tidak ada satu orang pun yang tahu kapan persisnya Masjid Wapauwe dibangun. Yang pasti pada tahun 1414, masjid sudah berda di pesisir pantai. Bukan lagi berada di lokasi awalnya dibangun.

Konon masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis pada tahun 1512. Sebelum pecahnya Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah timur Wawane.

Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan di mana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

Ketika Islam masuk ke Indonesia perdagangan rempah-rempah masih didominasi oleh Cina dan Arab. Para pedagang ini merajai jalur perdagangan yang penting seperti pesisir Sumatra, semenanjung Malaya, Jawa, dan Maluku.

Di Indonesia bagian timur, Islam mampir lebih dulu ke Maluku sebelum menyebar ke Makassar dan wilayah lainnya di Pulau Sulawesi. Ketika Portugis datang ke kepulauan itu pada 1512 M, Islam telah tersebar di Maluku. Raja Ternate, salah satu kerajaan terbesar di Maluku, Bayang Ullah telah memeluk Islam.

Keberadaan Masjid Wapauwe menjadi bukti sejarah bahwa Islam mulai bersemi di Kepulauan Maluku pada tahun 1400-an. Masjid yang masih dipertahankan bentuk aslinya itu berdiri di atas tanah yang disebut Teon Samaiha oleh warga setempat. Letaknya di antara permukiman penduduk Kaitetu.

Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, terbuat dari gaba-gaba, yaitu pelepah sagu yang dikeringkan. Ketika pertama kali didirikan masjid ini tidak memiliki serambi. Dalam renovasi dilakukan penambahan serambi yang memiliki ukuran 6,35 x 4,75 m. Pada renovasi setengah dinding dibuat dengan campuran kapur. Typologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar.

Mihrab masjidnya berukuran 2×2 meter seperti umumnya masjid di Jawa dan Bali. Mimbar masjid terbuat dari kayu yang bentuknya seperti kursi. Ukurannya cukup tinggi sehingga mimbar ditambahi anak tangga. Pada bagian atasnya dihiasi lengkungan dan ukiran kayu. Bedug terbuat dari gelondongan kayu utuh dengan diameter 2 m. Bedung diikat dengan rota dan digantung pada balok di atasnya.

Pada bagian dalamnya terdapat ciri khas bangunan joglo, yaitu saka guru. Saka guru adalah empat pilar yang terletak di tengah bangunan tradisional Jawa. Atapnya juga dipengaruhi oleh bangunan Jawa, yaitu berupa atap tajug bertingkat. Saka guru menggunakan kayu dengan ukuran 22 x 22 cm persegi. Di atas saka guru terdapat atap piramida dengan kemiringan yang cukup tajam, lalu diikuti di bawahnya dengan atap yang kemiringannya landai, persis seperti atap bangunan tradisional Jawa. Atapnya dibuat dari daun rumbia. Puncak menara terbuat dari kayu yang berbentuk silindris dengan alur-alur dan molding.

Di antara atap di atas dan atap yang di bawah terdapat lubang jendela yang berfungsi sebagai ventilasi udara. Bagian paling bawah atapnya menjorok ke luar dan membentuk sebagian dari elips seperti daun. Di setiap ujungnya terdapat ukiran bertuliskan kata ‘’Allah’’ dan ‘’Muhammad’’.

Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, seperti konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

Dari masjid ini juga tersimpan Mushaf Alquran yang konon tertua yang bertahun di Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis tangan pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi atau hiasan pinggir.

Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590. Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy dan mushaf karyanya juga tanpa iluminasi dan ditulis tangan pada kertas Eropa. Kedua Mushaf ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta, tahun 1991
dan 1995.

Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya adalah Kitab Barzanzi (Syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW), sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan) serta manuskrip islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.
Kesemuanya itu merupakan pusaka Marga Hatuwe yang masih tersimpan dengan baik di rumah pusaka Hatuwe dan dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak antara rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe hanya 50 meter.

Untuk mencapai Negeri Kaitetu di mana Masjid Tua Wapauwe berada, dari pusat Kota Ambon bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Berangkat dari Kota Ambon ke arah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo berbelok ke arah kiri, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak.

Saat ini untuk menghemat waktu, kita juga bisa menyeberangi Teluk Ambon lewat Jembatan Merah Putih atau dikenal juga dengan Jembatan Marthafons. Nanti begitu tiba di kawasan Poka, kita berbelok ke arah kanan sampai ke kawasan Durian Patah lalu berbelok kiri menyusuri melewati pegunungan hijau
Sepanjang perjalanan, orang yang hendak menuju Masjid Wapauwe bisa menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yang kadang-kadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkeh dan pala hijau menyejukkan mata.

Sebelum mencapai Kaitetu, terlebih dahulu bertemu Negeri Hitu, yang terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Sebuah ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita memasuki Hitu. Pada ruas jalan tersebut kita disuguhi panorama pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa dan bakau. Dari situ juga dapat melihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang.

Tiba di simpang empat Hitu, bagi yang membawa kendaraan harus membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Baru setelah menempuh 12 kilometer perjalanan dari situ, maka akan menemukan Negeri Kaitetu, lokasi Masjid Wapauwe. (emsal)

6 thoughts on “Wapauwe, Masjid di Kaitetu, Tertua di Indonesia Timur

  1. Mungkin maksudnya masjid tertua di maluku, karena kalau di Indoneisa kan masih ada masjid yang lebih tua daripada masjid Mapauwe.

    1. Masjid Saka Tunggal (1288)
    2. Masjid Wapauwe (1414)
    3. Masjid Ampel (1421)
    4. Masjid Agung Demak (1474)
    5. Masjid Sultan Suriansyah (1526)
    6. Masjid Menara Kudus (1549)
    7. Masjid Agung Banten (1552)
    8. Masjid Mantingan (1559)
    9. Masjid Al-Hilal Katanga (1603)
    10. Masjid Tua Palopo (1604)

    Like

    1. Mari kita lihat bang, tentang peradaban islam di belahan bumi bagian timur. Khususnya di indonesia. Awal mula islam masuk dimn terlebih dahulu. Di negeri (desa dalam bahasa pemerintahan moderen) Kaitetu, kami telah di bekali dengan cerita-cerita leluhur mengenai awal mula penyiaran islam di nusantara. Kalo lebih jelasnya, abang langsung saja datang ke Maluku, Ambon, di Negeri Kaitetu.

      Like

  2. Ada sedikit kesalah di dalam penulisan. Misalnya dalam judul di atas, Masjid Wapauwe. Bukan Masjid Mapauwe. Lalu ada negeri-negeri di lereng gunung wawane seperti Essen, Wawane, Tehala dll. Negeri di atas itu adalah Essen, Bukan Assen.
    Berikut, berdirinya masjid tua wapauwe ini tidak ada satu orang pun yg tahu. Pada thn 1414 itu, masjid sudah berda di pesisir pantai. Bukan lagi berada di lokasi awalnya di bentuk.
    Mohon maaf penulis, di tulisan anda mengenai masjid tua wapauwe ini masi bnyk sekali terdpt kekeliruan. Karena saya anak negeri kaitetu, sy perlu klarifikasi penulisan anda.

    Like

  3. Mohon lebih jelas unutk satumaluku mencari referensi tentang Masjid Tua Wapauwe. Karena jati diri orang maluku sendiri ada pada strukru masjid ini. Al-Maluk itu negeri para raja-raja. Bahasa itu berasal dari peradaban bangsa arab.
    Mohon lebih teliti

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s