Berkah Ramadan bagi Siswa SD Ukalahin Pulau Buru


SUASANA ceria memancar dari wajah bocah-bocah kecil pada salah satu tempat terpencil di Pulau Buru, Maluku. Pulau yang namanya sudah mengglobal lewat karya-karya sastrawan kondang tanah air, Pramudya Ananta Toer.

Bocah-bocah itu adalah siswa Sekolah Dasar (SD Negeri Ukalahin, Dusun Ukalahin, Desa Nafruah, Kecamatan Lolong Gubah, Kabupaten Buru, Maluku. Sekolah ini sempat mengundang simpati dari sejumlah pihak yang peduli pada dunia pendidikan di Maluku. Persisnya ketika salah seorang pehobby foto dari Ambon, Buchari, diajak rekannya hunting (berburu) foto ke daerah tersebut awal tahun 2016.

Buchari yang sehari-harinya berprofesi sebagai Polisi di Polda Maluku dengan pangkat Brigpol ini, menyempatkan diri mampir di SD Negeri Ukalahin. Dia lantas trenyuh dengan kondisi sekolah yang ada. Pasalnya hingga tahun 2016, sekolah ini hanya punya dua ruang belajar dan satu ruang guru.

“Sebenarnya ada satu ruang lain yang kosong, namun tidak ada meja kursi dan papan tulis untuk kegiatan belajar mengajar di dalamnya,” tutur Buchari. Itu sebabnya, para siswa dari kelas I hingga kelas VI, mengikuti kegiatan belajar pada dua ruangan yang tersedia.

Jangan tanya soal ruangan perpustakaan, sebab para siswa maupun pengelola sekolah, tidak punya bahan bacaan serta buku pelajaran sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar. Bahkan sekolah yang dibangun sejak tahun 2006 ini, juga tidak punya kamar kecil alias WC serta tidak punya ketersedian air bersih di sekolah. Bisa dibayangkan, apa jadinya ketika siswa tiba-tiba “kebelet” pingin buang hajat.

“Anak-anak yang bersekolah di SD Negeri Ukalahin, rata-rata tidak berseragam sekolah dan tidak bersepatu. Orang tua mereka hanya mengandalkan hidup dari hasil hutan dan berburu,” ujar Buchari.

Dia salut dengan sekitar 45 siswa, yang meski dusunnya terpencil di atas pegunungan yang menjulang di Pulau Buru, dan terkesan kurang diperhatikan dinas terkait, namun punya tekad yang kuat untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Dengan tujuh guru, sekolah ini coba mengefektifkan proses belajar mengajar. Meski pada satu ruangan terdapat siswa dari tiga tingkatan kelas, namun proses belajar mengajar tetap jalan. Terpaksa para guru menyampaikan satu materi untuk siswa tiga tingkatan secara bersamaan. Misalnya pada jam pertama guru menyampaikan materi untuk siswa kelas III, maka siswa kelas I dan II tetap berada dalam kelas dan ikut mendengarkan. Begitu juga jika guru menyampaikan materi pelajaran untuk siswa tingkatan lain, siswa yang berbeda tingkatan terpaksa ikut mendengarkan.

Kisah Buchari tentang SD Negeri Ukalahin, disampaikan lewat account sosial medianya. Lalu ada rekannya yang menuliskannya pada laman Kompasiana.com bulan April lalu. Sejak itu banyak pihak termasuk perorangan, yang menyatakan akan menyumbang untuk para siswa di SD tersebut.

Kamis (9/6) malam, Buchari dan lima rekannya dari berbagai profesi, dipercayakan berangkat ke Pulau Buru membawa bantuan dari berbagai pihak, untuk siswa-siswa SD Negeri Ukalahin. Bantuan tersebut antara lain topi, pakaian seragam, dasi, sepatu, kaos kasi, peta, atlas, poster-poster pendidikan, bahan kerajinan tangan, alat olah raga, dan obat-obatan untuk masyarakat. Selain perorang, bantuan yang dibawa itu berasal juga dari DPC Indonesia Air Traffic Controler Asossiation (IACTA) Ambon.

Rombongan kecil yang terdiri dari Buchari, Edi Likumahuwa, Imannuela de Fretes, Aryyanto Amtiran, serta Nur Anita dan Sutrisno Fitrah Amin yang mewakili DPC IACTA Ambon ini, tiba di Dusun Ukalahin, Jumat (10/6), pukul 09.00. Mereka disambut guru SD Negeri Ukalahin dan para tetua adat di rumah adat setempat. Namun pertemuan dengan warga setempat baru dilaksanakan keesokan harinya, lantaran sang kepala suku tidak berada di tempat.

Sabtu (11/6), pukul 09.00, acara pertemuan dengan warga desa pun dilaksanakan. Sebelumnya Buchari dan rekan-rekannya disambut tarian Cakalele sebagai ungkapan selamat datang. Selain kepala suku dan ketua adat berbicara mewakili warga, menyambut kedatangan tim perwakilan donatur dari Ambon, tim juga berbicara menyampaikan maksud kunjungan mereka. Acara diselingi sejumlah tarian tradisional yang dibawakan kaum ibu Ukalahin.

Pada kesempatan yang sama, sejumlah warga menyampaikan beberapa kendala yang mereka temui dalam kehidupan keseharian, terutama yang terkait dengan kondisi pendidikan anak-anak mereka. Pertemuan pertemuan dengan warga tersebut diakhiri nyanyian khas Pulau Buru yakni Inafuka.

Tepat pukul 11.00, bantuan yang dibawa tim dari Ambon, diserahkan kepada para siswa pada salah satu ruangan belajar yang ada. Para siswa terlihat sangat ceria. Senyum mengukir pada wajah-wajah mungil itu. Bagi mereka, ini berkah terindah bagi mereka di bulan Ramadan. Mereka membayangkan ke sekolah Senin nanti dengan penampilan baru, dengan semangat belajar yang semakin menggebu.(emsal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s