Asida, Menu Khas Ramadan di Ambon


SELASA (21/6) sore, suasana bursa kue Ramadan di kawasan Batu Merah masih tetap ramai seperti hari-hari sebelumnya. Ruas jalan menuju ke arah luar kota, maupun menuju pusat kota semakin sore semakin padat merayap.

Para petugas lalu lintas terlihat sigap mengatur kendaraan yang lalu lalang, sembari sesekali menghentikan kendaraan untuk memberi kesempatan para pejalan kaki untuk menyeberang. Umumnya mereka ini adalah pelanggan tetap bursa kue Batu Merah tersebut.

Tak terasa kita sudah memasuki pertengahan Ramadan. Tentu sudah banyak aneka kue yang kita cicipi saat berbuka puasa. Tapi apakah Anda sudah pernah mencicipi kue Asida atau Asidah?

Ini salah satu kue yang cukup populer dan dicari di Kota Ambon, terutama saat bulan puasa. Apalagi kue ini hanya bisa ditemukan saat Ramadan, di bursa kue kawasan simpang Masjid Raya Alfatah atau di kampung kuliner, Desa Batumerah. Bukan hanya warga Muslim, warga non Muslim di ibukota Provinsi Maluku ini juga termasuk doyan kue tersebut.

Kepada Satumaluku, Pendeta Agus Lopuhaa, warga Kudamati Ambon, mengaku sangat menggemari kue Asida. Dia bahkan sudah mengenal dan menikmati Asida sejak berumur tiga (3) tahun.

“Saya mengenal Asida sewaktu masih kecil di Kota Masohi, Pulau Seram. Bukan saya saja yang doyan kue ini, tapi kami kakak beradik sembilan orang termasuk papa dan mama, setiap hari di bulan puasa pasti menikmatinya,” ujar Agus yang juga dosen pada Politeknik Negeri Ambon ini.

Menurutnya, ada tiga keluarga tetangga mereka di Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, yang selalu menyempatkan waktu membagikan Asida jelang saat berbuka puasa. Ketiga keluarga Muslim itu antara lain, Keluarga Ipaenim, Keluarga Kelian dan Keluarga Moni.

“Kalo Tante Idja Moni, kebetulan beliau jualan menu buka puasa di depan rumah kami. Saya biasanya dapat jatah kue Asida darinya,” terang Agus.

Kegemaran menyantap kue yang disebutnya hanya ada selama sebulan dalam satu tahun itu, menurut Agus, ternyata berlanjut ketika dia meninggalkan Kota Masohi untuk melanjutkan kuliah di Kota Ambon. Dengan mudah Asida bisa dia peroleh saat Ramadan di bursa kue Batu Merah. Agus mengaku sangat menggemari kue Asida lantaran rasanya yang manis dengan tekstur kenyal layaknya dodol.

Pendapat senada disampaikan Julaihah, warga Kawasan Kapaha Ambon. Rasanya yang kenyal itu sangat disukai suaminya. Ada sejumlah kue yang dia beli di bursa itu, tapi kue Asida menjadi salah satu menu kesukaan suaminya.

Menurut sejumlah warga Desa Batumerah, Kue Asida sebenarnya berasal dari negara di Timur Tengah. Diyakini kue tersebut bisa menyebar ke desa-desa Muslim di Pulau Ambon, ketika para saudagar Arab ikut jalur perdagangan rempah sekitar tahun 1400-an ke Maluku yang ketika itu kenal dengan sebutan Jazirata Al Mulk atau Negeri Para Raja.

Konon di negara asalnya, panganan ini dicocol dengan madu atau minyak samin namun bagi bagi warga di Ambon, bahan tersebut diganti dengan mentega. Sebagai penggugah rasa, di atasnya ditaburi gula putih yang sudah dihaluskan, dicampur dengan bubuk kayu manis dan gardamu (kapulaga).  (Emsal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s