Hari Musik Sedunia dan Intelektualisasi Pemikiran Anak Menuju Kehidupan Yang Musikal


Tahun 1981 Direktur Kesenian Perancis Maurice Fleuret menyampaikan kepada Jack Lang yang saat itu bertugas sebagai Menteri Kebudayaan dan Komunikasi Perancis agar ide yang pernah disampaikan Musisi Amerika Serikat Joel Cohen di tahun 1976 dijadikan sebagai Hari Musik Sedunia adalah usulan yang sangat brilian.

Mengapa ? Karena musik ditemukan hampir di seluruh suku bangsa di dunia. Musik tumbuh dan berkembang mengikuti arah kebebasan manusia dalam berbagai warna kebudayaan dan mengomunikasikan pengetahuan tentang keindahan bersama gerak langkah sejarah..

Tulisan di Perayaan Hari Musik Sedunia tanggal 21 Juni ini adalah ingin mengajak kita memahami peran dan manfaat musik dalam kehidupan lalu kemudian mengintelektualisasikan pemikiran anak-anak kita melalui musik. Agar kelak mereka memahami bahwa musik memiliki kaitan yang sangat erat dengan kehidupan. Sebagaimana pendapat Hazrat Inayat Khan bahwa musik ada dalam keseharian hidup kita. Arsitektur adalah musik, taman adalah musik, pertanian adalah musik, lukisan adalah musik, puisi adalah musik, dan tari adalah musik, serta yang lain-lainnya.

Dalam semua kesibukan hidup di mana terdapat nilai estetik itulah musik. Secara tak langsung, Hazrat ingin menjelaskan bahwa kebudayaan dan komunikasi adalah nilai-nilai estetik dari musik itu sendiri. Karena melalui kebudayaan manusia mengomunikasikan pengetahuan tentang nilai-nilai estetik yang ia rasakan dalam dirinya, dunianya dan alam raya.

Alam Raya Yang Musikal

Permulaan dan akhir dari alam semesta adalah musik, begitulah sudut pandang esoterik sebagaimana tertulis dalam buku yang berjudul “The Mysticism of Sound and Music.” Dalam manuskrip-manuskrip kuno disebutkan bahwa pada akhir kiamat nanti (berakhirnya kehidupan di dunia) ditandai dengan bunyi terompet – sangkakala. Ini menunjukan bahwa musik dikaitkan dengan awal penciptaan, dengan kesinambungannya dan dengan akhirnya.

Sebuah legenda sangat tua datang dari Yunani mengatakan bahwa dengan segala kekuatan pengetahuan Orpheus berhasil menyingkapkan misteri dari nada dan ritme yang tersembunyi di balik rahasia pesona alam semesta. Legenda itu mirip dengan asal usul musik Cina yang disampaikan William. P. Malm bahwa setiap terjadi pergantian kepemimpinan, seniman atau pemusik dipanggil ke istana agar menghitung kembali panjang pipa bambu lu’s (alat musik tradisional Cina) yang menjadi patokan nada-nada milik kerajaan dan diharapkan dapat mengharmonisasikan kembali nada-nada mengikuti perubahan semua unsur alam dan supranatural.

Keyakinan bahwa alam raya digerakkan oleh nada-nada ditulis dalam sebuah syair yang sangat indah oleh penyair asal Persia, Syamsi Tabriz. Ia menulis bahwa seluruh misteri alam raya terletak pada bunyi. Syair itu dengan tegas ingin menyampaikan bahwa semua gerakan yang ada di alam raya bersifat musikal dan rahasia.

Dalam konteks itu terlihat bahwa musik memiliki dua aspek, yaitu : teologis dan epistemologis. Secara teologis, diketahui bahwa ada gerakan-gerakan musikal di alam raya yang merupakan hasil imaginasi Sang Pencipta. Sedangkan secara epistemologis, alam raya yang musikal dapat dijelaskan secara rasional dengan menggunakan metode-metode pengetahuan. Kedua aspek tersebut memberikan kita pengertian bahwa alam raya memiliki keteraturan yang sangat musikal dan yang musikal itu sendiri adalah pengetahuan rasional. Yang teratur dan rasional itu bukan dua hal yang terpisah tetapi merupakan satu kesatuan – yang tak terpisahkan, menyatu di dalam “Musik” – Maha Karya Sang Pencipta.

Dalam peristiwa-peristiwa kehidupan yang memiliki nilai-nilai musikal terkandung kedua aspek itu. Sebagai contohnya, pola kehidupan yang berkembang dalam masyarakat Maluku berabad-abad yang lalu. Konsep tiga (3) batu/tungu yang terdapat pada dapur tradisional orang Maluku memiliki pemikiran yang sangat musikal. Simbol tiga (3) batu itu melambangkan sikap hidup yang harmonis. Pertama, menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, kedua hubungan manusia dengan sesama, dan ketiga hubungan manusia dengan alam.

Pengetahuan itu lahir dari pemahaman tentang alam raya yang kemudian membentuk prilaku budaya yang sangat musikal (harmonis) di Maluku selama bertahun-tahun. Nada-nada keadilan, kedamaian, kebersamaan dan persaudaraan, persahabatan dengan alam dan hubungan penuh kasih sayang dengan Sang Pencipta disenandungkan dalam irama ale rasa beta rasa – ain ni ain – pela gadong – potong kuku rasa di daging, dan lain-lain. Konsep tiga (3) batu adalah merupakan representatif dari alam yang musikal itu sendiri. Yang diekepresikan pula dalam berbagai musik tradisional masyarakat Maluku. Seperti pendapat Plato dan  Jean Jacques Rousseau bahwa seni (musik) adalah hasil peniruan dari alam dan menyangkut segala hal yang ada di alam.

Manfaat Musik Untuk Anak

Seorang gadis kecil, Isabel, menyentuh tuts piano dengan tulisan Fete De La Musique (Hari Musik Sedunia) mengingatkan kita bahwa musik piano klasik memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan diri anak-anak. Dengan belajar memainkan piano klasik, anak akan mengembangkan musik dalam kepribadiannya. Pengajaran dan permainan musik piano klasik yang sesuai dengan usia anak akan membuat mereka menjadi musikal di dalam cara berpikir dan kepribadiannya. Dari titik pijak itu, musik tidak hanya dimainkan atau dipertunjukan untuk kebutuhan hiburan semata.

Penelitian membuktikan bahwa musik piano klasik sangat memengaruhi perkembangan Intelegent Quoetien (IQ) dan Emotional Quoetien (EQ). Jika anak-anak kita dibiasakan mendengarkan dan memainkan musik dengan irama dan nada-nada yang teratur maka perkembangan kecerdasannya akan semakin baik, tidak seperti anak-anak yang tidak mendengarkan dan memainkan musik. Manfaat lainnya dari musik piano klasik adalah melatih otot-otot bayi, misalnya karya Mozart The Piano Sonata No 15.

Ternyata musik klasik memiliki manfaat yang besar bagi perkembangan anak-anak sejak masih bayi sampai dewasa. Dengan bantuan musik klasik kecerdasan anak-anak dapat ditingkatkan. Kecerdasan itu sangatlah berguna untuk menganalisa dan memahami kehidupan yang terjadi di sekitarnya. Apakah kehidupan itu musikal atau tidak dapat diukur dengan kecerdasan yang diperolehnya dari musik itu sendiri.

Pepatah dari negeri China mengatakan perjalanan bermil-mil dimulai dari satu langkah kecil. Artinya, memperkenalkan dan mengajarkan anak-anak kita bermain musik sejak dini adalah permulaan yang baik untuk mengembangkan kecerdasan mereka. Pada saat itu kecerdasan anak dibangkitkan secara perlahan-lahan memahami hal-hal yang sederhana lalu setahap demi setahap menuju pada yang lebih luas dan kompleks.

Berbekal pemahaman itu maka dalam perkembangan anak-anak menuju pada kedewasaan akan tumbuh pula kesadaran sepenuhnya tentang peran dan tanggungjawab mereka dalam simfoni kehidupan. Menurut para ahli kebatinan kehidupan adalah sebuah simfoni, dan perbuatan setiap orang dalam kehidupan adalah permainan peran khususnya dalam musik. Musik memberikan pemahaman yang lebih luas sekedar bernyanyi dan bermain. Dalam tahapan yang lebih jauh lagi musik menyadarkan semua orang yang mempelajarinya bahwa kehidupan itu sendiri adalah musik.

Semoga Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) yang bersemayam dalam musik selalu bersenandung dalam diri kita dan anak-anak kita sebagaimana pakem keteraturan dan keharmonisan alam raya, agar Maluku pada khususnya dan dunia pada umumnya menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua makhluk hidup. Heal the world, make it a better place, for you and for me and the entire human race. There are people dying, if you care enough for the living, make a better place for You and for me (Syair dari Michael Jackson). Semoga kehidupan selalu musikal. Selamat Hari Musik Sedunia !!!

Penulis: Julius Russel
Alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
Mahasiswa Pascasarjana – Filsafat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s