Memahami dan Mewaspadai Strategi Kapitalis Terhadap Tata Kelola SDA di Maluku


GAMBARAN wajah kapitalisme sangat mengerikan. Jika diandaikan seekor MONSTER RAKSASA, kapitalisme adalah monster raksasa itu yang sedang menggenggam eksistensi manusia dan di saat bersamaan dan menggerogotinya sedikit demi sedikit. Anehnya, manusia tidak menyadari keberadaan monster tersebut. Dan yang lebih aneh lagi, manusia tidak menyadari dirinya ketika digerogoti pelan-pelan.

HARUS DIPAHAMI bahwa kapitalisme menciptakan apa yang disebut keterasingan atau alienasi. ALIENASI adalah sebagai KETERASINGAN dari sesuatu hal. alienasi bermakna bahwa pekerja yang notabene menghasilkan barang atau hasil karya justru terasing dari buatannya sendiri. Mengapa demikian?

Sederhananya, seorang tukang yang membuat meja misalnya, akan terasing dari hasil karyanya mengingat meja tersebut harganya jauh lebih mahal dari pada bayaran dia ketika memproduksi dan menghasilkan meja tersebut.
Kenyataan seperti ini juga berlaku dalam ruang-lingkup kerja yang lebih besar, misalnya di pabrik, perusahaan, dan seterusnya. Jika kita memperhatikan kondisi ini misalnya: katakanlah harga sebuah televisi 24 inc di pasaran berkisar 1 sampai 2 juta.

Dalam proses pembuatannya, bisa ditaksir bahwa telah terjadi akumulasi kapital yang sudah dihitung oleh si pemilik modal; misalnya berapa harga produksi, berapa ongkos pengerjaannya, berapa lama ia dikerjakan, dan berapa ongkos promosinya, dan seterusnya, dan seterusnya. Semua ini terakumulasi ke dalam modal kerja.

Buruh yang mengerjakan televisi tersebut katakanlah dibayar 1 juta per bulan. Akan tetapi, si buruh ini tentunya telah menghabiskan waktu setidaknya 10 jam sehari dan enam hari seminggu dalam pengerjaannya.

Di sini dapat dilihat bahwa harga televisi tersebut di pasaran telah jauh lebih mahal dari upah si buruh jika dibanding waktu dan tenaga yang ia habiskan untuk membuat barang tersebut. Maka, si buruh ini telah terasing dari hasil pekerjaannya alias barang yang ia hasilkan lebih mahal dari HARGA DIRINYA sebagai pekerja. Inilah yang dimaksud dengan alienasi.

NILAI SI PEKERJA sebagai modal naik berkesesuaian dengan permintaan dan persediaan, dan bahkan secara fisikal, keberadaannya, hidupnya, adalah dan dipandang sebagai suatu persediaan suatu barang dagangan seperti barang dagangan lainnya. Si pekerja itu memproduksi modal, modal memproduksi dirinya (si pekerja), karenanya ia memproduksi dirinya sendiri, dan manusia sebagai pekerja, sebagai suatu barang dagangan, adalah produk dari siklus ini.

Bagi manusia yang cuma seorang pekerja belaka dan baginya sebagai seorang pekerja, kualitas-kualitas kemanusiaannya hanya ada sejauh itu berada (eksis) bagi modal yang asing (alien) baginya. Walhasil, buruh atau pekerja NILAI KEDIRIANNYA tidak lebih dari nilai sebuah barang dagangan di MATA KAPITALIS.

KETERASINGAN (ALIENASI) juga sangat berhubungan dengan konsepnya yang lain tentang NILAI-LEBIH. Tentu ini masih berada dalam konteks kerja dan relasi buruh majikan. Nilai lebih dapat diartikan sebagai tambahan harga dari suatu barang yang dijual. Misalnya sebuah pensil dibeli dengan harga Rp1.000, lalu dijual kembali dengan harga Rp1.100; Rp. 100 ini adalah nilai-lebih dalam konteks penjualan yang normatif.

NILAI LEBIH dalam sistem ekonomi kapitalis sebetulnya tidak sesederhana itu. Sebab dalam sistem produksi kapitalis barang dagangan memiliki nilai guna atau nilai pakai. NILAI GUNA ini memunculkan atau menciptakan nilai baru bagi barang dagangan tersebut yaitu tenaga-kerja. Tenaga kerja telah dibeli oleh kapitalis dalam pengertian bahwa ia dibayar untuk memproduksi barang tertentu. Sebetulnya, ketika si kapitalis itu membayar upah kerja si pekerja katakanlah selama seminggu, ia sebetulnya sudah membeli tenaga si pekerja lebih dari yang semestinya ia bayar.

Dalam arti kata, meskipun ia membayarnya hanya sehari saja, itu sudah impas dengan produksi yang ia hasilkan. Hanya saja kenyataannya, si pekerja menyerahkan semua tenaga dan waktunya untuk si kapitalis. Enam hari yang lain sebetulnya gratis diambil dan dipakai begitu saja oleh si kapitalis dan si pekerja tidak menyadari bahwa sesungguhnya, kerja lebih itulah yang menghasilkan apa yang disebut nilai lebih bagi suatu barang.

Akumulasi modal dalam konteks ini bukan berasal dari membeli dan kemudian menjual dalam pengertian konvensional perdagangan, akan tetapi akumulasi modal berasal dari nilai-lebih dari kerja lebih yang dipersembahkan oleh pekerja untuk si kapitalis secara cuma-cuma. Oleh karena itu, sang kapitalis, di samping kerja yang dibayarnya, juga menarik/mengeduk kerja yang tidak dibayarnya.

Eksploitasi tenaga kerja dalam corak produksi kapitalis bersumber dari sini: bahwa proses kerja terdiri dari: (1). Pekerja berada di bawah kontrol kapitalis; (2). Produk menjadi milik kapitalis karena proses kerja itu telah dimiliki sepenuhnya oleh si kapitalis itu sendiri, yaitu tenaga-kerja dan alat produksi. Karena itu sebagai suatu proses penciptaan nilai, proses kerja itu menjadi suatu proses produksi nilai-lebih pada saat ia diperpanjang melampaui titik di mana ia menyetorkan suatu EKUIVALEN (KESETARAAN) sederhana untuk nilai tenaga-kerja yang dibayar itu.

ullis

Penulis: JULIUS R. LATUMAERISSA
Dosen Fakultas Ekonomi Unitomo Surabaya
Bidang Perencanaan Daerah dan Keuangan Daerah

2 thoughts on “Memahami dan Mewaspadai Strategi Kapitalis Terhadap Tata Kelola SDA di Maluku

  1. Membaca tulisan diatas maka saya rasa penulis terlalu mengsetankan kapitalis sebagai seautu yang salah sama sekali dan hanya menghasilkan keburukan belaka. Padahal kapitalis tumbuh sebagai suatu keniscayaan dalam perkembangan sejarah. Karena memang selalu akan ada orang2 yang memiliki modal lebih yang bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan, dan itu adalah hak mereka. Dalam mengembangkan modal yang sudah ada, mereka memakai modal tsb untuk menghasilkan sesuatu yang akan menghasilkan revenue untuk diri mereka, itu sah-sah saja dan itu juga hal yang wajar saja.

    Ketika dalam prosesnya mereka melibatkan orang lain untuk bekerja dalam proses menghasilkan suatu produk, itu juga sangat wajar, selam terjadi mutual benefit antara pemilik modal dan pekerjanya. Adalah yang tidak wajar kalau terjadi pemaksaan dan perbudakan kepada tenaga kerja yang dipakai. Tapi selama hubungan majikan/pemilik modal dan pekerja berdasarkan ikatan sukarela, maka tidak perlu ada gugatan mengenai kapitalisme. Jika memang dalam kapitalisme, mamon yang kemudian menjadi tujuan utama, itu urusan lain. Itu adalah urusan rohani sipemilik modal.

    Dalam kitab injil, Tuhan Yesus banyak sekali memakai perumpamaan yang menggambarkan hubungan kerja antara pemilik modal dan pekerjanya, misal dalam perumpamaan mengenai talenta, pekerja di kebun anggur, dll. Dia tidak menggugat hal itu sebagai sesuatu yang salah. Tetapi jika kemudian para kapitalis tsb hanya hidup mengandalkan uang dan berpikir bahwa uang bisa menjadi sandaran hidupnya, maka dia adalah orang bodoh., seperti yang terlihat dalam perumpamaan orang kaya yang bodoh. Saya kenal banyak pemilik modal yang percaya kepada Tuhan Yesus yang menggunakan uangnya untuk membangun usaha dan memperkerjakan orang2 lain dengan memenuhi kebutuhan mereka secara baik. Itu adalah kapitalisme juga, tapi di tangan orang yang benar, maka kapitalisme itu menjadi berkat buat sesama.

    Untuk Maluku, maka yang sangat penting adalah kita mempersiapkan dan memberdayakan masyarakat dengan baik, supaya siap secara sosial, punya skill dan kompetensi yang baik, bahkan mengerti prinsip2 entrepreneurship yang membuat mereka siap menghadapi para investor yang berniat masuk dengan modal mereka untukmengembangkan sumber daya alam yang banyak di Maluku. Persiapan yang terencana dan diimplementasikan dengan baik termasuk pembuatan perda-perda yang sesuai kebutuhan ditambah perubahan mindset dan sikap-sikap yang salah yang melekat erat dengan masyarakat maluku selama ini, seperti budaya otot dan bukan otak, mau menang sendiri, gengsi yang salah tempat, budaya jalan pintas akan membuat kapitalisme yang dibawa oleh para investor menjadi sarana untuk peningkatan taraf hidup masyarakat maluku dan akan terjadi hubungan yang saling menguntungkan antara masyarakat Maluku dan para investor yang mau masuk kesana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s