Nasi Kelapa, Kuliner Nikmat Khas Ambon


BICARA soal wisata kuliner di Kota Ambon, maka nama Desa Batu Merah pasti akan masuk list wajib dikunjungi. Terang saja, desa dengan warga Muslim terbanyak di ibukota Provinsi Maluku ini cukup sohor sebagai kampung kuliner. Aneka jajan kuliner khas Maluku, yang mampu menggoyang lidah, dengan mudah bisa dijumpai di sini. Apalagi saat bulan Ramadan.

Tapi bagaimana jika di puasa yang sudah lewat dari setengah perjalanan ini, kita sudah bosan menyantap aneka penganan dari bursa kue Ramadan di Batu Merah? Oh jangan kuatir. Ada menu kuliner lain di sini yang tetap mampu menggoyang lidah kita. Sebut saja Nasi Kelapa Batu Merah. Sore tadi saya terpikir untuk mencoba menu buka yang bukan kue. Tiba-tiba terlintas nama Nasi Kelapa ini.

Angkot jurusan Batu Merah yang saya tumpangi akhirnya berhenti di terminal yang persis berada di simpang tiga Asmil Batu Merah – Mardika – Batu Merah (kampung). Saya menunggu agak lama untuk menyeberang di depan bekas gedung biskop Victoria yang ada di depan terminal. Pasalnya seperti hari-hari kemarin, ruas jalan itu cukup ramai dengan kendaraan.

Di depan bekas gedung bioskop itu pula, ujung dari deretan lapak jajan menu buka puasa pada bursa kue Ramadan berada. Sejumlah warga sudah memenuhi kios yang berjejer di dekat jembatan, yang menghubungkan kawasan Mardika dan Batumerah ini.

Beberapa pedagang menyapa saya dan pengunjung lainnya, sembari menawarkan aneka kue yang mereka tata pada sejumlah nampan dan diletakan di atas meja berbahan kayu dan tripleks, yang khusus dibuat untuk momen Ramadan. Saya tidak goyah dari niat awal hanya ingin beli Nasi Kelapa untuk buka puasa. Meski penampakan sejumlah jajanan khas Ambon cukup menggoda. Lihat saja ada namu-namu, gogos, pisang asar, asida, kue madona, kue hercules sampai kue yahudi.

Tapi tetap, nasi kelapa lah yang menjadi tujuan saya ke kawasan Batu Merah sore tadi. Saya menjumpai salah satu pedagang Nasi Kelapa yang lapaknya berada tidak jauh dari Pangkalan Ojek Lorgi Batu Merah. Lapaknya ini diapit lapak-lapak kue buka puasa lainnya.

Saya harus menunggu beberapa saat lantaran sejumlah ibu di depan saya sudah lebih dulu antri. Salah satunya Ibu Nur yang berasal dari kawasan Kebun Cengkih.

“Anak-anak di rumah ingin makan nasi kelapa saat buka puasa nanti. Kalau saya dan suami biasanya berbuka dengan tart labu, kue cara dan namu-namu,” ujar ibu Nur saat saya tanya kue yang dia beli. Konon anak-anaknya, seperti halnya saya, sudah bosan dengan aneka kue buka puasa yang ada.

Di Batu Merah tidak hanya ada satu pedagang Nasi Kelapa. Ada sekitar tiga pedagang yang ikut meramaikan bursa kue Ramadan. Sebenarnya jumlah pedagang Nasi Kelapa di Batu Merah tidak hanya itu. Di saat lain, selain bulan puasa, jumlahnya ada sekitar 10-an. Mereka ada di hampir setiap sudut jalan di dalam desa ini.

Namun dari sekian pedagang nasi kelapa di Batu Merah, warung milik Ibu Nur Masawoi lah yang paling populer. Lokasinya berada di dekat Tugu Siliwangi, Batu Merah. Dibantu beberapa kerabatnya Ibu Nur melayani para pengunjung dengan ramah.

Oh ya, bagi mereka yang menggemari nasi Uduk khas Jakarta itu, tentu lidahnya juga akrab dengan Nasi Kelapa khas Batu Merah ini. Sepintas kedua makanan ini nyaris sama. Sama-sama berbahan dasar nasi yang diberi santan. Namun begitu dinikmati, kita akan temukan perbedaan pada cita rasanya. Bumbu racikan yang membuatnya beda. Jika nasi Uduk dibuat menggunakan bumbu sereh, daun salam, daun jeruk, dan garam secukupnya. Maka nasi kelapa hanya menggunakan bumbu daun pandan dan daun jeruk.

Tampilannya ketika disajikan juga berbeda. Nasi Uduk ditaburi bawang goreng di atasnya. Temannya bisa tempe dan tahu goreng, empal daging sampai udang atau ayam goreng, dengan ditemani sambal kacang. Sementara Nasi Kelapa dimakan dengan terasi kelapa (dibuat dari kelapa parut yang dicampur cabe dan bawang merah serta perasan jeruk limau), ikan asin, dan perkedel udang. Tapi yang lebih nikmat, jika dimakan bertemankan ikan bakar dan colo-colo atau saos khas Ambon. Ikannya boleh ikan apa saja, tapi biasanya yang paling cocok adalah ikan Kawalinya atau ikan Lema. Keduanya adalah ikan khas laut Maluku, yang sejenis dengan ikan kembung.

Colo-colo sendiri merupakan salah satu saos khas Ambon yang dibuat dari perasan jeruk, irisan bawang, irisan tomat, cabe rawit, daun kemangi, serta gula dan garam secukupnya.

Warung Ibu Nur yang biasanya hanya buka di malam hari ini, dalam sehari melayani pengunjung sampai puluhan orang. Ada yang datang sendirian. Ada juga yang datang bersama keluarga atau pasangan. Nasi Kelapa dapat disantap di tempat tersebut, sambil menikmati ramainya arus lalu lintas pada malam hari. Bagi yang kurang suka makan di tempat ramai, makanan ini dapat dibungkus dan dijamin tidak akan mengurangi rasanya yang gurih dan lezat.(emsal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s