Supira, Warung Kuliner dengan Cita Rasa Rumahan di Ambon


CUACA di Ambon sedang tidak menentu. Kadang panas, kadang hujan. Kemarin cuaca cerah seharian. Hari ini, Selasa (28/6), hujan mengguyur kota ini sedari siang. Meski begitu, rintik hujan yang awet sejak tadi, tidak mengurungkan niat saya untuk jelajah kuliner Ramadan hari ini.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 16.00, tapi kemacetan di ruas jalan Jenderal Sudirman Batu Merah sudah parah “bingits”. Oh bukan, hari ini saya tidak hendak berburu kuliner buka di bursa kue Ramadan Batu Merah. Menggunakan ojek dekat rumah, saya memang harus melintas di ruas jalan itu menuju pusat Kota Ambon. Saya berniat menjajal menu buka puasa yang bukan kue.

Bicara soal kuliner, selera orang sudah pasti berbeda-beda dan bervariasi. Selalu ada saja menu baru yg dicicipi atau disantap. Karena itu, tidak mengherankan banyak majalah dan tabloid khusus masakan yang diterbitkan. Di layar kaca juga idem dito. Semua stasiun teve beradu tayang acara kuliner, dengan berbagai setting. Ada yg hanya di studio ber-setting dapur. Ada yg di outdoor dekat pantai, di gunung atau bahkan dekat dekat kolam renang. Ada juga yg di-shot langsung dari restoran tertentu, yg cukup terkenal karena menunya lezatnya. Semua itu sekadar untuk memuaskan hasrat & selera makan pemirsa, dengan panduan maupun aneka tips kuliner.

Nah, ngomong soal selera makan ini, tadi di rumah, saya jadi teringat nama Warung Supira. Salah satu warung makan legendaris di Ambon yang letaknya dekat jalan A.Y. Patty. Yang pasti, jika rekan-rekan berada di Ambon dan menanyakan tempat makan siang yang murah dan meriah bernama Supira ini, orang pasti tau tempatnya. Selain karena mejadi tempat makan siang favorit, hampir semua orang di Ambon pernah mencicipi makanannya. Tapi rekan-rekan akan kecewa jika membayangkan tempatnya model restoran-restoran di kota besar. Karena Supira hanyalah satu warung kecil di gang kecil di pusat Kota Ambon.

Hujan yang mengguyur, masih belum mau berhenti. Sesekali guyurannya agak melambat. Namun semenit kemudian deras lagi. Saya dan Mon, tukang ojek pangkalan dekat rumah, nekat menerobos derasnya hujan bermodalkan mantel 10.000-an, yang kami beli dari pedagang pinggir jalan. Motor yang dikemudikan Mon, melintas depan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Ambon, memutar balik jalan A.Y. Patty kemudian berbelok di Lorong Pala yang berada di samping Toko Naga Kuning. Warung makan Supira berada persis di belakang took peralatan mesin kapal itu.

Warung sederhana ini ada sejak tahun 1950-an. Sempat berpindah lokasi ke kawasan Waihaong, ketika tragedi kemanusiaan melanda Ambon di tahun 1999. Lalu kembali ke lorong Pala, begitu kondisi Ambon membaik lagi. Supira, bukan satu-satunya warung makan di situ. Sedikitnya ada tiga warung makan di lorong Pala ini. Namun sebagian besar konsumen, lebih memilih makan di warung Supira. Rasanya yang khas makanan rumahan, yang membuat Supira selalu dikunjungi. Apalagi harganya terhitung “ramah di kantong”. Tidak lebih dari Rp.15.000-an. Menu andalannya adalah nasi ikan, nasi ikan telur, gado-gado, dan tahu kecap.

Sebenarnya setiap bulan puasa warung ini tutup. Hanya saja karena langganannya sebagian besar juga pegawai kantoran yang non Muslim, warung ini memilih buka sejak jam makan siang, sampai menjelang buka puasa. Yang pasti, pelanggan warung Supira berasal dari berbagai profesi. Mulai dari sopir angkot, pelajar, dosen sampai pegawai kantoran. Terutama dari kantor-kantor yang lokasinya berdekatan dengan warung Supira, seperti Kantor Gubernur, Kantor Kejaksaan, maupun sejumlah instansi dalam lingkup Pemkot Ambon.

Saya dan sejumlah pengunjung lain yang membeli untuk kebutuhan buka puasa, masuk lewat pintu belakang yang memang dikhsuskan untuk pelanggan yang beli bungkus untuk dibawa pulang. Di depan saya, ada seorang bapak yang membeli tiga bungkus untuk menu buka puasa dia dan keluarga. Pada antrian di belakang saya, sudah ada dua anak muda yang juga hendak membeli nasi Supira untuk buka puasa.

Ngomong-ngomong, apa sih istimewanya warung Supira? Mungkin rekan-rekan akan bertanya begitu. Bagi saya dan beberapa rekan lain yang pernah singgah untuk makan di situ, soal rasa yang selalu membangkitkan kerinduan kami untuk menyantap menunya. Saya tidak tau kalimat yang tepat untuk menggambarkannya, mungkin cukup mengutip kata Pak Bondan Winarno, penjelajah kuliner yang cukup populer itu: Pokoknya Maknyos.

Padahal, menu warung Supira biasa-biasa saja. Nasi dengan sayur oseng-oseng tempe, laksa atau bihun dan sayur pepaya. Bisa ditemani sebutir telur rebus atau cukup sepotong ikan goreng. Cuma itu menunya yang paling favorit. Menu lainnya, tahu kecap dan gado-gado. Meski hanya itu menunya, namun di saat istirahat siang, rekan-rekan harus datang lebih awal jika tidak ingin antri menunggu konsumen lain selesai makan. Atau memesan nasi dan kawan-kawannya itu dibungkus untuk dibawa pulang.

Yap, menunya ada di mana-mana. Warung lain pasti juga punya menu itu. Tapi soal rasa, pasti berbeda-beda. Belakangan saya jadi tau, rasanya yang ngengenin itu, berasal dari proses pengolahannya. Semua makanan di situ dimasak dengan tungku menggunakan kayu bakar. Kayunya sendiri biasanya diperoleh dari bekas proyek bangunan. Ini berlangsung sejak warung tersebut didirikan. Bisa dibilang, proses memasak di dapur Supira dilakukan secara tradisional. Racikan makanannya punya taste tersendiri. Itu sebabnya, setiap orang yang makan di warung Supira, akan ketagihan. Selalu akan balik untuk makan di situ, tanpa rasa bosan.

Satu lagi yang membuat masakannya nikmat disantap, menurut saya pribadi, mungkin karena diolah dengan “cinta”. Hehehehe. Maksud saya, sekitar lima orang ibu (rata-rata berusia antara 40 sampai 50-an tahun) yang menangani dapurnya memasak sambil bersenda gurau. Tak sedikit pun saya lihat ada yang memasang tampang masam atau muram. Karena itu saya selalu happy menyantap sepiring nasi warung Supira.(emsal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s