Terpidana Korupsi di Maluku Dibekuk di Jakarta, Dijebloskan ke LP Cipinang


satumaluku.com- Dua terpidana kasus korupsi proyek pengadan kapal di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Maluku Suratno Ramly dan Satum dibekuk Tim Kejaksaan Tinggi Maluku di Jakarta dan dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang.

“Keduanya berhasil dieksekusi oleh tim Kejati Maluku, di kediamannya di Jakarta pada Kamis 14 Juli pukul 13.00 WIB dan kini sudah ditahan di LP Cipinang, Jakarta Timur,” ujar Kajati Maluku Jan Marinka, kepada wartawan, Jumat (15/7/2016).

Suratno dan Satum adalah terpidana perkara Tindak Pidana korupsi pengadaan Kapal Purse Seine yang berbobot 15 Gross Ton (GT) dan 30 GT pada DKP Maluku Tahun Anggaran 2013. Mereka sebelumnya ditahan oleh Kejati Maluku sejak awal tahun 2016.

Namun, karena lamanya proses persidangan, masa tahanan kedua orang itu habis dan mereka diperbolehkan keluar dari rutan.

Namun saat sidang putusan, Pengadilan Tipikor Ambon, menghukum keduanya dengan penjara 4 tahun dan denda Rp 200 juta. Satum dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 714 juta dan Suratno juga dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 200 jutaan.

“Seusai vonis, keduanya sudah kita panggil 2 kali untuk kita tahan, namun keduanya tidak memenuhi panggilan kami dengan alasan sakit,” ucap Jan.

Dalam proses eksekusi itu keduanya tidak melawan. Aparat dengan mudah menggelandang keduanya ke LP Cipinang untuk melaksanakan putusan pengadilan.

“Akhirnya kemarin kami ke kediamannya dan menemukan mereka langsung kita eksekusi,” pungkas Jan.

Sebelumnya saat dalam proses sidang di Pengadilan Tipikor Ambon, sebagaimana dilansir Antara, dalam dakwaannya tim JPU menjelaskan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku pada tahun anggaran 2013 mendapatkan proyek pengadaan sarana penangkapan ikan purse seine 15 GT tahun anggaran 2013 senilai Rp700 juta.

Terdakwa Benjamin selaku Direktur CV Sarana Usaha Bahari (salah satu terdakwa korupsi dalam kasus yang sama), yang memenangkan proses lelang/tender proyek tersebut dan bekerjasama dengan terdakwa Suratno Ramly yang memiliki perusahaan fiber glass untuk membuat kapal ikan.

Menurut JPU, awalnya terdakwa Suratno menemui Benjamin dan mengatakan lima kapal ikan purse seine berukuran 15 GT tidak bisa dikerjakan di galangan kapal Jakarta karena mesinnya bisa rusak ketika dibawa kembali ke Pulau Ambon.

Namun pengerjaan kapal tersebut tidak sesuai yang ditentukan dalam kontrak dan banyak terdapat kekurangan, sehingga terjadi kerugian negara sebesar 499,4 juta sesuai hasil audit BPKP RI Perwakilan Provinsi Maluku pada tanggal 4 November 2015.

Kasus dugaan korupsi dana proyek pengadaan sarana penangkapan ikan purse seine ini selain melibatkan Benjamin dan Suratno sebagai terdakwa, juga melibatkan terdakwa lain. Mereka adalah mantan Kadis Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku, Bastian Mainassy, dan bawahannya, Adul Muthalib Latuconsina, serta Satum selaku direktur PT Satum Manunggal Abadi yang menangani pembuatan kapal ikan 30 GT. Dakwaan atas ketiga orang ini dibuat terpisah. (ald)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s