Minapolitan dan Agropolitan, Solusi Atasi Kemiskinan Nelayan & Petani di Maluku


KAWASAN AGROPOLITAN, terdiri dari Kota Pertanian dan Desa-desa sentra produksi pertanian yang ada disekitarnya, dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administrasi Pemerintahan, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi yang ada.

KAWASAN MINAPOLITAN: suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya.

Persoalan yang penting untuk dicermati dalam proses PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN dan MINAPOLITAN adalah kegiatan apa yang harus dilakukan. Jawaban atas pertanyaan ini sudah tentu adalah Pembangunan ekonomi dengan berbasis pada pembangunan pertanian dalam arti yang luas dan pembangunan kelautan dan perikanan dalam arti yang luas sesuai kebutuhan masyarakat dan daerah Maluku.

Persoalan kedua adalah diperlukan perencanaan dan penetapan kawasan agribisnis, agroindustri, untuk kemudian disebut kawasan AGROPOLITAN sebagai sasaran sebagai contoh wilayah Telaga Kodok dan sekitarnya di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah dapat dijadikan sebagai pilot project kawasan AGROPOLITAN Maluku dalam jangka panjang, dengan mensinergikan berbagai potensi yang ada dengan tujuan mendorong daya saing daerah, memperkuat ekonomi daerah berbasis kerakyatan secara berkelanjutan dan terdesentralisasi. Untuk menggerakkan semua ini diperlukan kekuatan dan keterlibatan masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah daerah baik perovinsi maupun Kabupaten/Kota.

PENGEMBANGAN MINAPOLITAN DI MALUKU

Dalam pandangan saya latar belakang mengapa pembangunan kelautan dan perikanan di Maluku memerlukan akselerasi atau percepatan (1). Potensi kelautan dan perikanan Maluku sangat besra; (2). Terjadi perubahan yang begitu cepat di segala bidang; (3). Kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat tajam; dan (4). Tuntutan peningkatan kesejahteraan rakyat semakin besar.

Realitas, permasalahan, sekaligus tantangan pengembangan sektor kelautan dan perikanan di Maluku ditandai dengan (1). Rendah sumbangan terhadap PDRB sektor perikanan; (2). Potensi sumber daya (SD) perikanan tangkap sangat besar, namun nelayan Maluku masih miskin; (3).. Produksi perikanan tangkap di laut Maluku secara legal dan menguntungkan Rakyat Maluku belum mencapai maksimum;

(4). Economic value dari Ikan bagi rakyat Maluku makin langka, karena banyak pencurian ikan oleh negara lain; (5). Usaha Perikanan Tangkap berskala kecil tanpa perahu, perahu tanpa motor, dan motor tempel dengan kualitas SDM dan produksi yang masih rendah; (6). Industri perikanan sebagian besar masih tradisional, berskalamikrodankecil dan (7). Ekspor produk perikanan secara umum masih rendah.

Jawaban atas realitas, permasalahan dan tantangan di atas maka diiperlukan Kebijakan strategis yang inovatif dan langkah terobosan yang efektif, dan perlunya perubahan cara berfikir dan orientasi pembangunan dari daratan kemaritim dengan gerakan mendasar dan cepat, yaitu RevolusiBiru disertai langkah implementasi konkrit dengan sistem pembangunan sektor kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan konsep MINAPOLITAN. (*)

JULIUS  R. LATUMAERISSA1

Penulis: JULIUS R. LATUMAERISSA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s