Banjir, Longsor, dan Konsep Tiga Tungku Masyarakat Maluku


Beberapa hari yang lalu hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah di Indonesia. Cuaca buruk itu menyebabkan banjir dan longsor di beberapa wilayah Indonesia. Di Balikpapan hujan deras membuat beberapa wilayah di kota ini terendam air meski durasi hujan tidak begitu lama.

Berdasarkan laporan yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hujan menyebabkan banjir di dua dusun Papung dan desa Bungaya Kauh, Kecamatan Bebandem, Karangasem. Hujan juga menyebabkan longsor, akibatnya jalur lalulintas di desa Junggutan terganggu. Para petugas penanggulangan bencana kesulitan menghadapi longsor yang terjadi di lima titik di wilayah ini.

Hujan deras yang juga melanda wilayah Malang menyebabkan banjir dan longsor di beberapa wilayah. Hafi Lutfi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mengatakan banjir dan longsor tidak menelan korban jiwa. Hujan yang mengguyur wilayah Malang menyebabkan longsor yang mengakibatnya jalur lintas di beberapa wilayah terputus karena tertimbun tanah.

Di Jakarta hujan deras menyebabkan kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat dilanda banjir. Ketinggian air 15 sentimeter membuat beberapa toko yang ada di kawasan ini terendam air. Kawasan Pasar Baru memang selalu dilanda banjir bila musim hujan tiba. Para penjual di kawasan ini berharap genangan air akibat hujan tidak memasuki toko mereka. Karena jika genangan air masuk maka akan merusak barang dagangan mereka.

Sama seperti wilayah Indonesia lainnya, hujan yang turun melanda Kota Ambon menyebabkan bencana banjir dan longsor. Menurut Enrico Matitaputty Kepala BPBD Kota Ambon kurang lebih ada 161 lokasi longsor di lima Kecamatan di Ambon. Lima kecamatan yang ada di Maluku mengalami bencana akibat hujan deras yang mengguyur kota Ambon beberapa hari yang lalu. Jumlah longsor dan banjir yang terjadi di kota Ambon sebanyak 161 kejadian namun tidak ada korban jiwa.

Banjir dan longsor yang melanda di hampir seluruh wilayah Indonesia terjadi bukan karena di luar kemampuan kita. Kesalahan itu terletak pada cara kita bersikap terhadap alam. Menurut Direktur Riset Inspirasi Indonesia yang juga sebagai Direktur Eksekutif di Institut Antropologi Indonesia, Ruddy Agusyanto, bahwa dalam perjalanan waktu, interaksi antar kebudayaan semakin intens sejalan dengan perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi (informasi).

Tanpa disadari, Indonesia telah mengadopsi “paradigm continent” (Eropa Barat dan Amerika Serikat) – yang bukan daerah resapan air (miskin sungai dan anak sungai) dalam merumuskan design pembangunan. Oleh karena itu pula, daratan non-resapan air seperti Eropa dan Amerika mengembangkan “transportasi darat”.

Tanpa disadari, Indonesia merubah paradigma tansportasi – dari transportasi air menjadi transportasi darat. Berdasarkan hal ini maka dampak yang signifikan adalah: Pertama, Sungai dan anak sungai (serta danau) beralih fungsi, “dari prasarana utama trasportasi menjadi drainage”. Akibatnya, sungai dan anak sungai serta danau dalam mindset (budaya) masyarakat menjadi “tempat pembuangan limbah/sampah”. Akibatnya, terjadi penyempitan dan pendangkalan sungai, anak sungai dan danau (turunnya daya tampung air).

Kedua, dampak selanjutnya adalah “pemborosan ruang” sebab prasarana trasportasi yang sudah ada, tidak dipergunakan lagi (dimatikan) sehingga harus menyediakan ruang/lahan baru untuk membangun prasarana transportasi darat. Ketiga, Konsekuensi dari prasarana trasportasi yang baru ini adalah juga diperlukannya ruang/lahan baru di sepanjang prasarana trasportasi darat (jalan raya) tersebut untuk hunian dan aktivitas lainnya.

Dengan demikian, ruang/lahan baru yang diperlukan tak hanya untuk keperluan prasarana trasportasi, tetapi juga ruang untuk hunian dan untuk aktivitas lainnya di sepanjang “jalan darat” yang dibangun. Akibatnya, kelangkaan ruang semakin cepat seiring dengan pembangunan yang dilakukan.

Keempat, dengan kebutuhan ruang/lahan untuk prasarana transportasi darat dan hunian atau ruang untuk aktivitas lainnya maka semakin banyak lahan terbuka yang hilang (resapan air). Pada akhirnya, persediaan air (bahan baku air bersih) semakin hari semakin langka dan permukaan tanah semakin turun sebagai akibat dari tak seimbangnya antara “masuknya air dengan konsumsi air”. Tak hanya itu, perembesan air laut juga semakin jauh masuk kedalam wilayah daratan. Hal ini membuat bahan baku air bersih (tawar) menjadi semakin langka.

Kelima, dengan kebutuhan ruang/lahan untuk prasarana transportasi darat dan hunian atau ruang untuk aktivitas lainnya maka semakin banyak lahan terbuka yang hilang (resapan air). Pada akhirnya, persediaan air (bahan baku air bersih) semakin hari semakin langka dan permukaan tanah semakin turun sebagai akibat dari tak seimbangnya antara “masuknya air dengan konsumsi air”. Tak hanya itu, perembesan air laut juga semakin jauh masuk kedalam wilayah daratan. Hal ini membuat bahan baku air bersih (tawar) menjadi semakin langka.

Keenam, dengan semakin banyaknya pembangunan prasarana transportasi darat dan hunian atau ruang untuk aktivitas manusia maka semakin banyak diperlukan drainage. Seiring perkembangan pembangunan tersebut, pada akhirnya mengakibatkan semakin sulitnya mengatur “derajat kemiringan drainage” (air mengalir menuju permukaan yang lebih rendah). Akibatnya, terjadi genangan di banyak drainage karena kesulitan mengatur derajat kemiringan agar air tetap mengalir.

Oleh karena itu, ketika turun hujan sebentar saja bisa terjadi “banjir lokal” – yaitu air menggenangi prasarana trasportasi/jalan raya dan kompleks hunian atau ruang aktivitas lainnya – padahal permukaan sungai, anak sungai dan danau tidak naik atau meluap. Kalau sudah demikian maka kemacetan lalu-lintas tak bisa dihindari. Jadi, banjir tidak hanya sebagai akibat meluapnya sungai, anak sungai atau danau tetapi juga akibat tidak mengalirnya drainage.

Kesalahan akibat dari cara kita memperlakukan lingkungan sekitar membuat pikiran kita selalu dihantui banjir dan longsor saat musin hujan tiba. Agar kejadian ini dapat dihindari maka perlu merubah sudut pandang kita semua terhadap lingkungan sekitar. Membuang sampah pada tempatnya, tidak menebang pohon secara berlebihan, dan menjaga sungai dan danau agar kedalamannya tetap terjaga.

Dapur Tradisional Masyarakat Maluku

Dalam banyak hal nenek moyang kita melakukan sesuatu selalu ada maksud dan tujuannya. Seperti konsep tiga tungku pada dapur tradisional kita. Beberapa tahun yang lalu ketika berkunjung ke museum Maluku saya diberitahukan bahwa tiga tungku itu memiliki arti tentang cara kita berhubungan dengan Sang Pencipta, alam, dan sesama manusia.

Salah satu maksud dan tujuan dari konsep tungku itu yang sangat penting untuk direnungkan di musim hujan ini adalah cara kita berhubungan dengan alam semesta. Maksud dan tujuannya adalah ada kekuatan besar di alam ini, maka dari itu perlu memiliki sikap patuh dan mengikuti cara kerjanya. Pengetahuan ini sudah ada namun yang terjadi selama ini kita mengabaikannya.

Ini artinya, kesadaran bahwa alam memiliki keteraturan dan kekuatan yang sangat besar sudah diketahui oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu. Mereka sadar jika alam diperlakukan dengan semena-mena atau sikap kita bertentangan dengan keteraturan alam maka akan memberikan pengaruh buruk yang sangat besar bagi kehidupan di muka bumi.

Peristiwa banjir dan longsor merupakan persoalan bersama maka dari itu sepatutnya menjadi perhatian kita semua. Melihat persoalan banjir dan longsor yang kerap terjadi selama ini, maka kita perlu mengembangkan salah satu konsep tiga tungku secara lebih luas dalam kehidupan kita. Agar banjir dan longsor tidak menganggu kehidupan kita semua ketika musim hujan tiba.

Sudah saatnya kita merubah cara bersikap kita terhadap alam, sekarang juga. Kalau tidak musibah yang lebih besar lagi akan menimpa kehidupan kita semua dan bumi yang kita tempati menjadi semakin rusak. Marilah bersama-sama kita menggali kembali pengetahuan lokal dan menjadikannya sebagai titik pijak dalam pembangunan yang sedang dilaksanakan saat ini.

Karena dengan berperan aktif mewujudkan salah satu konsep berpikir yang ada dalam dapur tradisional kita, maka kerharmonisan alam bisa tetap terjaga. Dengan menjaga keharmonian alam maka kita bisa selamat dari segala macam bahaya yang bisa saja datang kapan saja tanpa kita duga sebelumnya. Menjaga keharmonisan alam seperti makanan yang dimasak di atas tiga tungku itu, jika apinya terlalu besar dan terlalu kecil maka akan berdampak pada makanan yang sedang dimasak. Begitu juga dengan cara berhubungan kita dengan alam, jika terlalu besar kesemena-menaan dan terlalu kecil perhatian pada cara kerja alam maka akan berdampak buruk juga pada kehidupan kita semua. Begitulah pesan yang tersimpan di salah satu tungku dapur tradisional kita – masyarakat Maluku.(*)

russel

Oleh: Irene Russel
Tinggal di Ambon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s