Pengusaha Maluku Hong Alfred Diperiksa KPK, Amran Buka-bukaan


Jakarta- Seorang pengusaha asal Maluku yang juga Direktur PT Sharleen Raya (Jeco Group) Hong Arta John Alfred diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan korupsi.

Penyidik KPK membutuhkan keterangan John Alfred untuk melengkapi berkas Anggota DPR Komisi V dari Fraksi PAN, Andi Taufan Tiro.

“Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka ATT,” ucap Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati, Selasa (30/8/2016), dilansir Metrotvnews.com.

Alfred disebut-sebut ‘patungan’ dengan sejumlah pengusaha di Maluku, termasuk Direktur PT Windhu Tunggal Utama Abdul Khoir, untuk memberikan duit pada mantan politikus PAN itu. Dia bahkan mengaku pernah memberikan uang pada eks anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Damayanti Whisnu Putranti.

“Namanya pengusaha kan, tetapi pemberian itu belum ada pembicaraan apa-apa. Kami partisipasi saja,” kata Alfred saat bersaksi untuk terdakwa Damayanti di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Rabu, 15 Juni lalu.

Uang Rp1 miliar untuk Damayanti hasil patungan Alfred, Komisaris PT Cahya Mas Perkasa So Kok Seng alias Aseng, dan Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama Abdul Khoir. Alfred menyerahkan Rp324 juta, sedangkan Aseng dan Khoir masing-masing memberi Rp323 juta.

Ide menyerahkan uang kepada Damayanti, lanjut Alfred, pertama kali muncul dari Abdul Khoir. Abdul menghubungi Alfred dan meminta uang yang disebut untuk PDI Perjuangan.

Alfred mengatakan, pemberian uang untuk menjalin hubungan, meski ia belum ada keinginan untuk menggarap proyek. Tetapi bila ada proyek, Alfred ingin Damayanti membantu meloloskan.

Amran Tak Mau Jadi Tumbal

Sementara itu, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) IX wilayah Maluku dan Maluku Utara, Amran Hi Mustary tak ingin menjadi tumbal kasus dugaan suap proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) yang telah menjeratnya sebagai tersangka. Melalui kuasa hukumnya, Hendra Karianga, Amran menyatakan bakal membeberkan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kasus ini.

“Amran siap bongkar semua di pemeriksaan berikutnya. Amran mau membongkar kasus ini. Dia tidak mau jadi tumbal,” kata Hendra kepada wartawan, Senin (29/8), dilansir beritasatu.com.

Hendra menyatakan, Amran bukanlah satu-satunya pejabat Kempupera yang menerima uang suap untuk memuluskan proyek jalan di Maluku dan Maluku Utara. Bahkan, katanya, Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) Hediyanto W Husaini pernah mendatangi dan meminta kepada kliennya agar tidak terseret dalam kasus ini.

“Pak Hediyanto itu pernah datang ke rumahnya Amran di Bekasi. Dia (Hediyanto) bilang begini, “Pak Amran tolong amankan saya, bantu saya. Tolong bantu amankan saya’. Apa maksudnya itu, supaya Amran tidak buka,” ungkapnya.

Hendra menyatakan, kliennya tak menuruti permintaan Hediyanto. Amran pun membeberkan permintaan Hediyanto tersebut kepada penyidik KPK.

“Iya (disampaikan ke penyidik), Amran sudah buka, pas jadi saksi dia sudah buka,” ungkap Hendra.

Tak hanya Hediyanto, Hendra menuturkan, pejabat Kempupera dan anggota Komisi V DPR yang belum menjadi tersangka pun meminta hal serupa kepada kliennya. Hendra mengungkapkan, sudah menjadi rahasia umum jika kontraktor harus “membeli” pekerjaan atau proyek yang direncanakan pemerintah dan DPR. Uang dari kontraktor tersebut dialirkan kepada para pejabat Kempupera dan DPR.

“Sebab sudah jadi rahasia umum kontraktor harus membeli pekerjaan atau proyek. Rp 15 miliar itu tidak dimakan sendiri, kemudian dibagi-bagikan. Mengalir sampai atasan Amran dari tingkat Kepala Biro, Dirjen, sampai Sekjen juga DPR. Dapat semua. Menteri tidak, tapi Sekjen, Dirjen, direktur sampai ke bawah-bawah itu dapat. Sampai THR juga dapat, dikasih Amran. Satpam juga dapat,” jelasnya.

Tak hanya pejabat Kempupera, Hendra menambahkan para pimpinan Komisi V, seperti Ketua Komisi V DPR, Fary Djemy Francis, dan Wakil Ketua Komisi V DPR Michael Wattimena, Lasarus, Muhidin, serta Yudi Widiana hingga Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi), seperti Kapoksi PKB, Musa Zainuddin pun turut menikmati aliran uang suap ini. Bahkan, Hendra menduga, para pimpinan Komisi V itu turut bermain di 10 BPJN yang ada di seluruh Indonesia.

“Coba diteliti semua, dapat itu, 50 sekian anggota Komisi V dapat itu.Michael Wattimena dapat itu, Lasarus, Muhidin, Yudi Widiana, Fary Djemi, Musa Zainuddin dapat, dapat semua. 11 Kapoksi ya pastilah semua dapat,” ujarnya.

Untuk itu, Hendra berharap KPK tidak berhenti mengusut kasus ini. KPK, kata Hendra harus menjerat pihak-pihak lain di lingkungan Kemenpupera dan anggota DPR hingga penggagas program dana aspirasi yang terlibat dalam kasus ini.

“Jadi nggak bisa dipotong-potong ini kasus ini. Kalau kita ingin berantas korupsi harus semua diungkap. Jadi terus terang kita support terhadap KPK, kerja-kerja mereka. Tetapi sangat naif KPK kalau ini berhenti sampai di Amran. KPK harus mencari otak intelektual program dana aspirasi. Itu Komisi V DPR dan Kemenpupera. Mereka yang pelaku-pelaku intelektual,” katanya.

Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha mengatakan, hingga saat ini tim penyidik masih mendalami keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut. Namun, Priharsa mengatakan, pihaknya berharap Amran dan tersangka lainnya koperatif dalam penyidikan kasus ini. Termasuk mengungkap pihak-pihak lain yang terlibat.

“KPK memang berharap semua pihak yang diminta keterangan dalam penyidikan itu kooperatif dalam hal menyatakan hal sebenarnya yang dia ketahui,” kata Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha saat dikonfirmasi, Senin (29/8).

Meski bersikap koperatif, Priharsa mengatakan belum dapat dipastikan Amran akan memperoleh status Justice Collaborator (JC). Dikatakan, JC diberikan kepada tersangka yang mengajukan diri. Selain itu, KPK akan menelaah terlebih dahulu kontribusi yang diberikan Amran dalam pengusutan kasus ini.

“Kalau JC kan yang bersangkutan mengajukan diri. Kalau ajukan diri kan kita lihat sejauh mana kontribusi dan manfaat untuk pengembangan kasus,” katanya.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s